
KALTIMPOST.ID-Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Kaltim Wahyudi menyebut, perlambatan ekonomi juga dirasakan langsung oleh para pengembang. Sepanjang tahun ini, penjualan rumah baru mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, penjualan rumah baru turun sekitar 30 persen. Konsumen sekarang jauh lebih berhati-hati untuk membeli rumah, baik secara KPR maupun tunai,” katanya.
Menurut dia, pasar properti Kaltim selama ini banyak ditopang konsumen yang bekerja di sektor pertambangan, migas, dan perkebunan sawit. Ketika sektor tersebut mengalami perlambatan, permintaan rumah ikut melemah.
Selain daya beli masyarakat yang turun, pengembang juga menghadapi kenaikan biaya pembangunan akibat meningkatnya ongkos distribusi material bangunan.
“Banyak material kami didatangkan dari Jawa. Ongkos transportasi naik sehingga harga atap, baja ringan, dan material lainnya ikut naik. Di sisi lain harga rumah tidak bisa serta-merta dinaikkan karena daya beli masyarakat sedang turun,” ungkapnya.
Baca Juga: Pria Diduga Setubuhi Anak Berusia 14 Tahun di Kutim Ditangkap, Sempat Kabur Sebelum Diamankan Polisi
Karena itu, REI berharap pemerintah segera menghadirkan kebijakan yang mampu memulihkan iklim usaha sekaligus mendorong sektor properti.
Menurut Wahyudi, industri perumahan memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian karena melibatkan sekitar 180 jenis usaha turunan, mulai dari industri bahan bangunan, jasa konstruksi, hingga sektor perdagangan.
“Kalau sektor perumahan bergerak, dampaknya akan dirasakan banyak sektor lain. Karena itu kami berharap ada kepastian regulasi dan dukungan pembiayaan dari perbankan agar pasar properti kembali bergairah,” tuturnya. (rd)
Editor : Romdani.