KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas'ud menilai pengambilalihan Mal Lembuswana oleh Pemprov Kaltim menjadi momentum untuk mengembangkan salah satu aset strategis daerah yang berada di jantung Kota Samarinda.
Setelah 30 tahun dikelola PT Cipta Sumina Indah Satresna (CSIS) melalui skema Hak Guna Bangunan (HGB), Mall Lembuswana resmi kembali ke pangkuan Pemprov Kaltim pada Jumat (7/8). Pengelolaan sementara diserahkan kepada PT Kaltim Melati Bhakti Satya (KTMBS) selama masa transisi.
"Ini hari yang bersejarah. Setelah sekitar 30 tahun dikelola pihak sebelumnya, kini pengelolaan Mall Lembuswana kembali ke pemerintah daerah," ucap pria yang kerap disapa Hamas tersebut. Hamas berpesan, PT KTMBS mestinya mampu menyiapkan manajemen yang profesional selama masa transisi.
Baca Juga: Revitalisasi Mal Lembuswana, Pemprov Kaltim Siapkan Insentif Tenant Lama dan Usul Lapangan Padel
Sebab, keberhasilan menghidupkan kembali Mal Lembuswana sangat ditentukan oleh tata kelola yang baik, mengingat usia bangunan yang telah mencapai tiga dekade dan membutuhkan pembenahan di berbagai sektor.
Hamas melihat potensi besar yang dimiliki kawasan tersebut. Selain berada di lokasi yang strategis, Lembuswana juga memiliki nilai historis sebagai pusat perbelanjaan pertama di Samarinda.
Karena itu, pihaknya mendorong agar pengembangan kawasan tidak berhenti pada revitalisasi mal semata. Salah satu gagasan yang diusulkan adalah pembangunan hotel berbintang di lahan yang masih tersedia di bagian belakang kawasan. "Kalau memungkinkan, bisa dibangun hotel bintang empat seperti Mercure, Ibis, atau Aston sehingga kawasan ini menjadi terintegrasi," ujarnya.
Menurut Hamas, konsep tersebut akan menggabungkan fungsi pusat perbelanjaan, fasilitas pertemuan, dan akomodasi dalam satu kawasan. Selain meningkatkan aktivitas ekonomi, model bisnis itu dinilai dapat mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD).
Baca Juga: BSB Minati Investasi Mal Lembuswana Samarinda, DPRD Kaltim Masih Tunggu Investor Lain
Apalagi, katanya, fasilitas parkir yang luas menjadi modal penting untuk mendukung pengembangan kawasan secara terpadu. Terkait pengelolaan PT KTMBS, Hamas menyebut perusahaan daerah tersebut hanya bertugas sebagai pengelola sementara sambil pemerintah mencari mitra strategis yang akan mengembangkan kawasan Lembuswana dalam jangka panjang.
"PT KTMBS ini masa transisi. Nanti pada akhirnya pemerintah akan mencari partner atau investor yang memiliki konsep terbaik untuk pengembangan kawasan ini," katanya.
Dia mencontohkan pola kerja sama yang diterapkan pada pengelolaan Hotel Atlet Kaltim, di mana aset milik pemerintah dikelola bersama pihak ketiga untuk meningkatkan produktivitas dan kontribusi terhadap daerah.
Sejauh ini, Hamas menyebut sudah ada beberapa pihak yang dikabarkan berminat ikut mengembangkan kawasan tersebut. Salah satu nama yang sempat didengarnya adalah Balikpapan Super Block (BSB). Meski demikian, pihaknya menegaskan seluruh calon investor tetap akan melalui proses seleksi atau beauty contest.
Pemerintah akan memilih konsep yang dinilai paling mampu mengembangkan Mal Lembuswana sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Kaltim. "Yang penting konsepnya terintegrasi dan bisa memberikan nilai tambah bagi daerah," tutupnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki