KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Agustus belum berakhir, tetapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) sudah jauh melampaui tujuh bulan sebelumnya. Dalam satu bulan saja, 306 kejadian karhutla menghanguskan 1.027,94 hektare lahan.
Data BPBD Kaltim hingga 22 Agustus 2026 menunjukkan, sepanjang Januari-Juli hanya tercatat 124 kejadian dengan luas terdampak 232,98 hektare. Artinya, mayoritas karhutla tahun ini justru terjadi pada Agustus.
Secara kumulatif, sejak Januari hingga 22 Agustus tercatat 430 kejadian dengan luas terdampak 1.260,92 hektare. Dengan demikian, sekitar 81,5 persen dari total luasan karhutla sepanjang tahun terjadi hanya dalam satu bulan.
Koordinator Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Kaltim Cahyo Kristanto menilai lonjakan tersebut berkaitan erat dengan kondisi cuaca yang semakin kering, yakni El Nino.
Baca Juga: Lahan Gambut di Seputar Tol Samarinda-Balikpapan Terbakar Sabtu Malam
“Kalau untuk karhutla di tahun 2026 ini, dari data yang kami lihat meningkat drastis. Dampak dari El Nino ini sangat luar biasa,” kata Cahyo saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Minggu (23/8).
Lonjakan juga terjadi dalam waktu singkat. Pada 19 Agustus, BPBD masih mencatat 413 kejadian dengan luas 936,95 hektare. Beberapa hari kemudian, jumlahnya bertambah menjadi 430 kejadian dengan luasan mencapai 1.260,92 hektare.
Kabupaten Paser menjadi daerah dengan kejadian terbanyak, yakni 105 kejadian. Sebanyak 97 kejadian di antaranya berlangsung pada Agustus. Sementara dari sisi luasan, Kutai Kartanegara menjadi yang terbesar dengan 369,88 hektare.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla semakin berat. Sebab, ketika jumlah kebakaran meningkat, sumber air yang menjadi senjata utama petugas justru semakin sulit ditemukan.
Baca Juga: Karhutla di Jengan Danum Hanguskan 5 Hektare Lahan, 6 Jam Tim Gabungan akhirnya Padamkan Api
BPBD Kaltim menyebut anak-anak sungai mulai mengering ketika hujan tidak turun selama dua pekan. Kondisinya semakin parah setelah sejumlah wilayah mengalami periode tanpa hujan hampir sebulan. “Begitu tidak hujan dalam dua minggu saja, anak-anak sungainya sudah mulai kering.
Apalagi ini sudah sampai hampir satu bulan tidak ada hujan,” ujar Cahyo. Air kemudian lebih banyak terkonsentrasi di sungai utama, termasuk Sungai Mahakam. Akibatnya, petugas pemadam di lokasi karhutla harus mencari sumber air lebih jauh.
Baca Juga: 3.000 Guru di Kukar Berpeluang Jadi PNS, Disdikbud Masih Tunggu Aturan dari Pusat
“Teman-teman di lapangan mau melakukan pemadaman, pertama yang terkendala adalah tempat untuk mengambil airnya,” katanya. Dalam beberapa kejadian, jarak sumber air dengan lokasi kebakaran bahkan mencapai lima kilometer.
“Bahkan ada yang sampai lima kilometer baru dapat,” imbuh Cahyo. Jarak tersebut menjadi persoalan serius ketika api terus menjalar. Petugas bukan hanya berpacu dengan luasnya area terbakar, tetapi juga waktu untuk mendapatkan air.
Karena itu, menurut Cahyo, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Ketersediaan sumber air di wilayah rawan juga perlu dipersiapkan.
Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah membangun embung sebagai cadangan air ketika anak-anak sungai mengering. “Antisipasinya kalau memang air ke tanah kita itu cukup bagus. Tapi itu luar biasa besarnya untuk membuat embung di daerah-daerah yang rawan,” ujarnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki