KALTIMPOST.ID,BANDIRMA-Memboyong keluarga ke luar negeri demi menuntut ilmu bukan keputusan yang mudah. Langkah berani ini dilakoni oleh Henny Wijayanti, seorang mahasiswi pascasarjana asal Indonesia, tepatnya dari Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kaltim, yang kini memilih bermukim dan menyekolahkan anak-anaknya di Bandırma, Turki, sejak 2019.
Perjalanan Henny Wijayanti bermula saat ia diterima di program pascasarjana Bandırma Onyedi Eylül Üniversitesi. Memanfaatkan fasilitas visa pelajar, Henny memukimkan buah hatinya di bawah payung hukum setempat yang memberikan hak bagi anak pemegang visa pelajar untuk menikmati fasilitas pendidikan formal dan izin tinggal jangka pendek.
Baca Juga: Ancaman 200 Titik Api, Pemprov Kaltim Bakal Cabut Izin Perusahaan Sengaja Bakar Lahan
Menembus Tembok Bahasa hingga Pandemi
Tantangan terbesar yang dihadapi keluarga ini adalah kendala bahasa. Datang tanpa bekal bahasa Turki, Henny harus berjuang mengikuti kelas persiapan bahasa (TÖMER) dari jenjang A1 hingga C1 sebelum masuk perkuliahan. Situasi kian pelik ketika pandemi Covid-19 melanda, memaksa sistem sekolah berlangsung secara dalam jaringan (daring) selama hampir dua tahun.
"Bahasa akademik dan bahasa sehari-hari di Turki itu sangat berbeda. Persentase mahasiswa asing yang menyerah cukup tinggi karena kendala bahasa ini. Kuncinya hanya satu: pantang menyerah," kata Henny Wijayanti, Senin (24/8).
Baca Juga: Pemerintah Wajib Alokasikan Anggaran untuk Jalan Long Pakaq–Tiong Ohang
Kompromi besar pun sempat diambil. Henny harus merelakan kesempatan beasiswa Erasmus ke Polandia karena kendala administrasi perpanjangan izin tinggal anak-anaknya. Ia juga beralih ke program Marketing Management demi menyesuaikan ritme kerja dengan kesibukan keluarga.
Keuntungan Sekolah Gratis di Tengah Lonjakan Biaya Hidup
Di balik tantangan administratif, keluarga ini merasakan keuntungan besar dari sistem pendidikan Turki. *Seluruh biaya sekolah anak-anak di Turki diberikan secara gratis*, menjadi penopang utama bagi keluarga perantau.
Baca Juga: Larangan Judol di Polres PPU, Kapolres: “Kalau Tak Bisa Berprestasi, Minimal Jangan Buat Masalah"
Kendati demikian, tantangan ekonomi baru turut hadir. Akibat situasi inflasi yang melanda Turki dalam beberapa tahun terakhir, biaya hidup harian melonjak hingga 300 persen. Kondisi ini menuntut Henny untuk memutar otak, termasuk memanfaatkan peluang kerja paruh waktu (part-time) bagi mahasiswa yang disediakan oleh pemerintah setempat dengan standar UMR yang cukup membantu.
Buah Manis Pengorbanan: Anak Jadi Hafizah 30 Juz
Di tengah terpaan tantangan ekonomi dan bahasa, pengorbanan Henny membuahkan hasil manis. Putri pertamanya, Adhwazizah Sidney Ghifary, menorehkan prestasi membanggakan dengan berhasil mengkhatamkan hafalan 30 juz Al-Qur'an di asrama lokal dalam kurun waktu dua tahun.
Baca Juga: Keadilan dalam Penegakan Hukum Karhutla
Sidney menjadi satu-satunya santriwati asal Indonesia di lembaga tersebut sebelum melanjutkan ke jenjang SMA. Sementara itu, putra keduanya, Raja Almer Fathan, juga sukses beradaptasi menempuh pendidikan dasar hingga menengah.
Saat ini, Henny Wijayanti tengah fokus merampungkan tesisnya sekaligus mengejar status izin tinggal permanen (Long-Term Residence Permit) yang dapat diajukan setelah bermukim selama delapan tahun berturut-turut.
Baca Juga: Jangan Abaikan Bahayanya! Ini 6 Cara Lindungi Diri dari Paparan Asap Kebakaran
"Saya tidak pernah menyesali setiap dinamika yang diambil. Yang terpenting, anak-anak mendapatkan pendidikan, karakter, dan pengalaman hidup yang luar biasa di sini," katanya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko