Lebih Kuat Dibanding 2015! El Nino Ekstrem Hantam Kaltim, Bertahan Sampai Awal 2027

Eko Pralistio • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 20:03 WIB
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Pusat Budi Harsoyo. (FOTO/EKO PRALISTIO)
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Pusat Budi Harsoyo. (FOTO/EKO PRALISTIO)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kalimantan Timur menghadapi puncak musim kemarau ketika El Nino justru berada di level sangat kuat. Indeks El Nino kini mencapai 2,9, bahkan lebih tinggi dibandingkan El Nino 2015 yang saat itu ikut memperparah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Pusat Budi Harsoyo mengatakan, kondisi tersebut membuat Kaltim perlu mewaspadai ancaman kekeringan. Terlebih, El Nino diprediksi masih bertahan hingga awal 2027.

“Indeksnya lebih tinggi tahun ini dibandingkan 2015,” kata Budi, Senin (24/8). Meski begitu, dampak El Nino diperkirakan mulai berkurang ketika Kaltim memasuki masa transisi menuju musim hujan pada Oktober-November. 

Baca Juga: Ancaman 200 Titik Api, Pemprov Kaltim Bakal Cabut Izin Perusahaan Sengaja Bakar Lahan

Kondisi tersebut membuat pengaruh El Nino tidak akan sekuat saat puncak kemarau seperti yang terjadi pada Agustus. “Kalau nanti Oktober-November sudah memasuki masa transisi musim hujan, meskipun masih dalam kondisi El Nino, dampaknya tidak akan terasa seperti saat puncak musim kemarau sekarang,” ujarnya.

Kondisi kering tersebut juga menjadi tantangan dalam penanganan karhutla. Asap pekat dari kebakaran bahkan dapat mengganggu pertumbuhan awan. Menurut Budi, ketika potensi awan muncul, lapisan asap dapat menghambat masuknya radiasi matahari yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan awan.

“Kalau ada potensi, tapi radiasi mataharinya tidak bisa masuk karena ada layer asap, itu juga bisa mengganggu pertumbuhan awan,” jelasnya. Dengan kondisi tersebut, operasi modifikasi cuaca (OMC) menjadi salah satu upaya untuk mengoptimalkan potensi hujan yang masih tersedia. Namun, OMC bukan berarti menciptakan hujan dari langit yang kosong.

Baca Juga: Api Makin Membesar, Air Makin Langka! Cerita Petugas Karhutla Kaltim Berburu Air 5 Kilometer

“Modifikasi cuaca ini bukan membuat hujannya, tapi kita cuma mengoptimalkan potensi awan yang tersedia,” tegasnya. OMC dilakukan dengan menyemai awan yang memiliki kelembapan dan ketinggian memadai. Bahan semai diinjeksi ke dalam awan untuk menambah inti kondensasi sehingga proses pembentukan hujan dapat dipercepat.

Budi mengatakan, efektivitas OMC sangat bergantung pada potensi awan. Jika tidak ada awan yang bisa disemai, penerbangan pesawat pun tidak akan menghasilkan hujan. “Kalau tidak ada awan sama sekali, mau terbang setiap hari pun tidak akan ada hasil,” katanya.

Secara rata-rata, OMC mampu meningkatkan curah hujan sekitar 30–50 persen. Namun, angka keberhasilan tidak bisa dipatok sebelum melihat data curah hujan aktual di wilayah operasi. “Semakin besar potensinya, hasilnya akan semakin bagus,” pungkasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Kekeringan Kaltim El Nino Kaltim 2027 BMKG Pusat Budi Harsoyo Modifikasi Cuaca Kaltim