Kisah Miwa Rukmawati Terbebaskan dari Komplikasi Diabetes Berkat Cek Kesehatan Gratis

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 20:40 WIB
RUTINITAS: Kini kualitas hidup Miwa lebih baik. Keluhan penyakitnya mulai tertangani. Rutinitas berkebun dilakukannya dengan nyaman tanpa beban. (Foto: Roro Mira/KP)
RUTINITAS: Kini kualitas hidup Miwa lebih baik. Keluhan penyakitnya mulai tertangani. Rutinitas berkebun dilakukannya dengan nyaman tanpa beban. (Foto: Roro Mira/KP)

Miwa pernah mengira tubuhnya masih kuat. Kini, ia lebih dekat dengan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat. Gula darahnya mulai terkontrol, merasa lebih sehat. Ia belajar bahwa mengetahui penyakit lebih awal adalah jalan untuk tetap selamat.

RADEN RORO MIRA, Samarinda

KAWANAN bebek bergerombol di sekitar Miwa Rukmawati. Paruh-paruh mereka berebut pakan yang ia taruh di ember kecil, membuat halaman samping rumahnya riuh oleh suara kepakan dan sahutan kecil. Perempuan 55 tahun itu lalu melanjutkan pekerjaan. Menuju kebun jagung seluas satu kavling di depan rumah.

Memetik jagung satu per satu untuk memenuhi pesanan salah satu warung di Pasar Kemuning. Tangannya bergerak cekatan, memilih tongkol jagung paling besar yang siap panen. Tangannya sudah tidak kaku lagi, tanpa rasa nyeri yang dulu membuatnya kesulitan menekuk jemari tangan.

Dua bulan sebelumnya, keluhan kebas dan kaku membuat Miwa sulit melakukan rutinitas tersebut. Bahkan sekadar mengikat rambut, ia merasakan nyeri teramat sangat di jari-jari tangan kanan. Setelah rutin kontrol, dia mendapat jadwal terapi. Selama Agustus, seminggu dua kali, rajin mengunjungi fisioterapi di Rumah Sakit Hermina Samarinda.

“Jadi tangan saya itu kayak pakai sarung tangan, terus ada setrumnya. Cekit-cekit rasanya. Habis itu dibantu sama perawat, kayak diurut-urut. Baru dua mingguan terapi, sudah mulai enak rasanya. Sudah bisa dipakai genggam, sudah enggak terlalu nyeri,” beber Miwa sambil memperlihatkan tangan kanannya dari posisi genggam lalu terbuka, pada Rabu (19/8) siang di kediamannya, Jalan Gunung Tunggal, Loa Bakung.

Perjalanan menuju kondisi itu bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana, cek kesehatan gratis (CKG). Ia sebenarnya sudah lama tahu jika memiliki gula darah tinggi. Selama bertahun-tahun, ibu tiga anak itu pilih mengonsumsi metformin dan tidak rutin memeriksakan kondisi tubuh.

Ia baru mulai mencari pertolongan ketika tubuh mulai terasa berbeda. Badannya mudah lelah, terutama saat bangun tidur. Kesempatan mengikuti CKG pada akhir 2025 lalu di Puskesmas Loa Bakung akhirnya membuka persoalan yang selama ini dihadapi tanpa pemeriksaan teratur.

Angka yang Tak Terlihat

Hasil pemeriksaan lanjutan pada Januari 2026 menunjukkan kadar gula yang jauh dari normal. Glukosa puasanya mencapai 159 mg/dL, padahal normalnya kurang dari 100 mg/dL. Namun angka yang paling membuka persoalan ada HbA1c, menembus 11,3 persen. “Pantas kalau jalan itu kayak sempoyongan begitu,” sebut Miwa.

HbA1c menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam dua hingga tiga bulan sebelumnya. Ambang diagnosis diabetes berada pada 6,5 persen. Dengan angka 11,3 persen, kadar gula Miwa bukan sekadar tinggi saat diperiksa, tetap sudah lama berada dalam kondisi tidak terkendali. Nilai itu setara dengan perkiraan rata-rata gula darah sekitar 278 mg/dL dalam beberapa bulan sebelumnya.

Angka yang membawa perjalanan Miwa ke tahap pengobatan lebih panjang. Ia mendapat insulin dan menjalani kontrol rutin ke dokter spesialis penyakit dalam, dr Sekolastika Indriaty Sundari Sasongko yang praktik di Rumah Sakit Hermina Samarinda.

“Ada namanya diabetes progresivitas penyakit, fungsi pankreas menurun seiring perjalanan penyakit. Bisa terjadi komplikasi mikro dan makro. Sehingga menjadi penting untuk mencegah komplikasi, dari segi pembiayaan dan kualitas hidup,” ujar dokter yang karib disapa Indri itu usai ditemui setelah visitasi pasien, Jumat (21/8) malam.

dr Sekolastika Indriaty Sundari Sasongko SpPD.
dr Sekolastika Indriaty Sundari Sasongko SpPD.

Pada Miwa, persoalan kemudian merembet ke saraf. Tangannya mulai kebas, terasa dingin dan nyeri, bahkan jari sulit ditekuk. Indri menyebut jika neuropati diabetik bukan sesuatu yang boleh dianggap ringan. Bagian dari komplikasi mikrovaskular (pembuluh darah kecil) diabetes yang muncul ketika kadar gula darah terus tidak terkendali.

Gula darah yang tidak terkendali dapat merusak pembuluh darah kecil maupun besar. Pada pembuluh darah kecil, kerusakan dapat menyerang saraf dan ginjal. Sementara kerusakan pembuluh darah besar meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Oleh sebab itu, pengobatan bukan semata-mata membuat angka gula turun. Utamanya yakni mempertahankan gula darah tetap terkendali agar kerusakan organ tidak terus berjalan.

Persoalannya, banyak orang baru datang ketika tubuh menunjukkan gejala. Padahal diabetes berjalan diam-diam sebelum komplikasi muncul. “Banyak orang merasa sehat, sehingga merasa tidak perlu melakukan cek kesehatan berkala. Itu jelas salah. Kenapa harus tunggu sakit? Justru harus diubah pemikirannya, saya harus periksa supaya tidak ada sakit!” tegas Indri.

Di sinilah skrining menjadi penting. Orang dengan faktor risiko perlu lebih sadar memeriksakan diri. Ia menemukan tidak sedikit pasien yang masih sulit membatasi makanan dan minuman manis. Padahal pengendalian gula darah tidak sekadar berhenti pada obat. Tetapi juga membutuhkan perubahan pola hidup dan aktivitas fisik.

Miwa merasakan fase itu. Sebelum pengobatan lebih terarah, kadar gula darahnya pernah menyentuh hingga 300 mg/dL. Setelah menjalani pengobatan rutin, angkanya mulai turun. Perubahan angka itu datang bersama perubahan pada tubuh. 

Bagi Indri, kondisi Miwa menggambarkan mengapa pemeriksaan kesehatan tidak seharusnya menunggu tubuh mengirimkan tanda bahaya. “Lebih bagus mencegah daripada mengobati,” ujarnya.

JEMPUT BOLA: Puskesmas Loa Bakung melakukan pola CKG yang menjangkau masyarakat, mendatangi tempat-tempat yang menjadi pusat kegiatan masyarakat. (Foto: Roro Mira/KP)
JEMPUT BOLA: Puskesmas Loa Bakung melakukan pola CKG yang menjangkau masyarakat, mendatangi tempat-tempat yang menjadi pusat kegiatan masyarakat. (Foto: Roro Mira/KP)

Tak Sekadar Temukan Penyakit

Kisah Miwa memperlihatkan bahwa hasil CKG tidak berhenti ketika hasil pemeriksaan keluar. Di tingkat puskesmas, temuan dari skrining menjadi pintu masuk untuk edukasi, pemantauan, pengobatan maupun rujukan. Dijelaskan Kepala Puskesmas Loa Bakung dr Yulia Fahrina, CKG dirancang berdasarkan siklus hidup mulai bayi baru lahir hingga lansia.

Program yang sudah berjalan sejak Februari 2025 itu kini tidak hanya menunggu masyarakat datang ke puskesmas. Pemeriksaan juga dilakukan melalui komunitas dan tempat kerja, jemput bola. Terutama untuk menjangkau kelompok usia produktif yang selama ini sulit datang memeriksakan diri.

Namun menjangkau masyarakat ternyata bukan perkara mudah. Yulia masih menemukan warga yang menolak diperiksa. “Malah ada yang bilang, enggak mau diperiksa karena takut kalau ketahuan ada penyakit,” selorohnya.

Padahal, kondisi yang tidak diketahui itu yang perlu diwaspadai. Dua penyakit tertinggi yang ditemui selama CKG yakni hipertensi dan diabetes. Penyakit yang hampir tanpa gejala. Sementara pemeriksaan dini memberi kesempatan untuk melakukan intervensi sebelum penyakit berkembang menjadi komplikasi.

Di wilayah kerja Puskesmas Loa Bakung, hingga medio Agustus, dari 990 orang dewasa yang diperiksa, sebanyak 432 orang atau 43,64 persen berada dalam kondisi tekanan darah normal. Sisanya? Ada potensi prehipertensi hingga tekanan darah meningkat dan berbagai derajat hipertensi lainnya.

Untuk gula darah, pihak puskesmas mencatat 16 orang dengan hasil gula darah tinggi dan 82 orang masuk dalam kategori prediabetes dari 976 orang yang menjalani pemeriksaan gula darah. Temuan itu jadi peringatan bahwa persoalan gula darah tidak selalu dimulai ketika seseorang sudah dinyatakan diabetes.

Mereka yang terdeteksi memiliki risiko hipertensi maupun diabetes, masuk dalam Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). “Setiap bulan ada pemeriksaan untuk memantau kondisi. Misal hipertensi bagaimana tekanannya, kalau untuk diabetes bagaimana kadar gulanya. Pemeriksaan lanjutan setiap enam bulan sekali, cek darah, itu meliputi fungsi ginjal, hati, profil lemak. Yang kita jaga adalah dia terkontrol,” ungkap Yulia.

dr Ismid Kusasih - Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, dr Ismid Kusasih.

Dari Skrining, Jadi Peta Kesehatan

Bagi Kepala Dinas Kesehatan Samarinda dr Ismid Kusasih, CKG bukan semata program pemeriksaan gratis. Data yang terkumpul menjadi gambaran mengenai persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat di masing-masing wilayah. “CKG ini mengambil dua (peran) dari empat (fungsi pelayanan kesehatan). Yaitu promotif (peningkatan kesehatan) dan preventif (pencegahan penyakit),” bebernya.

Dia menyebut jika semakin cepat penyakit ditemukan, semakin besar peluang intervensi dilakukan. Pendekatan itu pula yang membuat CKG tidak boleh berhenti pada hasil pemeriksaan. “Ketika kuat melakukan skrining, maka makin cepat menghindarkan terhadap kejadian-kejadian atau penyakit yang jatuhnya kronis atau berat,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, CKG juga berfungsi sebagai pemetaan masalah kesehatan. Pemerintah dapat melihat penyakit dan faktor risiko apa yang dominan, kelompok mana yang membutuhkan perhatian, sekaligus layanan kesehatan apa yang perlu diperkuat.

Ismid mengatakan jika data itu penting karena kebutuhan kesehatan tiap daerah tidak selalu sama. Pemeriksaan jadi cara untuk melihat persoalan di lapangan, bukan sekadar memperkirakannya dari laporan penyakit yang sudah masuk ke fasilitas kesehatan.

Dari dashboard CKG Samarinda, data Januari-14 Agustus 2026 tercatat 54.523 orang telah hadir mengikuti pemeriksaan atau 78,34 persen dari 69.599 pendaftar di 26 puskesmas se-Samarinda. Namun angka kehadiran bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Bagi Ismid, tantangan terbesar justru memastikan warga yang sudah mengetahui kondisi kesehatannya mau mengambil langkah berikutnya.

Sebab, fasilitas kesehatan sudah tersedia. Samarinda juga memiliki cakupan jaminan kesehatan universal 99 persen. Sehingga akses pembiayaan kesehatan bukan lagi satu-satunya alasan untuk menunda pengobatan. “Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah orang mengetahui kondisi tubuhnya. Diobati sampai tuntas,” ujarnya.

Secara nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat CKG telah menjangkau 73,8 juta penduduk hingga akhir Juli lalu. Melampaui capaian sepanjang 2025 yang mencapai 70 juta peserta. Tahun ini, pemerintah menargetkan 130 juta penduduk mengikuti pemeriksaan.

Yang menarik bukan hanya jumlah orang yang datang untuk diperiksa. Tetapi apa yang ditemukan setelah pemeriksaan ulang. Dari 8,3 juta peserta CKG yang diperiksa ulang, sebanyak 188 ribu orang terdeteksi mengalami diabetes baru. Sementara itu, 16 ribu peserta yang sebelumnya berada pada tahap prediabetes berkembang menjadi diabetes.

Namun cerita CKG tidak seluruhnya tentang penyakit yang ditemukan. Dari 340 ribu penderita diabetes yang menjalani pemantauan ulang, 235 ribu orang berhasil mengontrol kondisi mereka. Menunjukkan bahwa mengetahui penyakit lebih awal dapat membuka jalan menuju pengendalian. Bukan sekadar menambah daftar diagnosis.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, pemeriksaan hanyalah awal dari rangkaian tersebut. “Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat. Setelah akses diperluas, fokus kita adalah memastikan masalah yang ditemukan langsung ditangani,” sebut Budi dikutip dari rilis resminya.

Kemenkes pun mulai memperkuat tindak lanjut. Pada 2026, fokus tindak lanjut diarahkan antara lain pada hipertensi, gula darah tinggi dan kolesterol yang menjadi faktor risiko penyakit jantung, stroke serta gagal ginjal.

Angka-angka tersebut membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar jumlah peserta. Pemeriksaan hanya akan berarti jika hasilnya mengubah keputusan seseorang untuk menjaga tubuh, menjalani pengobatan atau segera mencari pertolongan.

Bertahun-tahun, Miwa tahu gula darahnya tinggi tetapi belum rutin memeriksakan. Kini, ia masih menjalani pengobatan dan mengubah pola makan. Tangannya yang kembali bisa ditekuk menjadi pengingat bahwa mengetahui penyakit memang bisa menakutkan, tetapi terlambat mengetahuinya jauh lebih berisiko. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Cek Kesehatan Gratis Samarinda CKG kemenkes cek kesehatan gratis Program CKG