KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan di Samarinda. Langit Kota Tepian tampak lebih redup, sementara jarak pandang ikut menurun. Kondisi ini terjadi di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Timur.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda mencatat kualitas udara di Kota Tepian mulai mengalami penurunan. Konsentrasi partikulat terpantau mencapai 37 mikrogram per meter kubik pada Minggu (30/8) sekitar pukul 11.00 Wita.
Kepala BMKG Samarinda Riza Arian Noor mengatakan, angka tersebut masih berada dalam kategori sedang. Namun, konsentrasi partikulat sudah lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang berada pada kisaran 0 hingga 15 mikrogram per meter kubik. "Untuk kualitas udara terakhir sekitar pukul 11.00 Wita, kita berada di angka 37 mikrogram per meter kubik atau kategori sedang," katanya.
Baca Juga: Waspada Demam Berdarah! Gunung Telihan Terbanyak Catat Kasus Positif DBD di Bontang
Menurutnya, kualitas udara mulai masuk kategori tidak sehat apabila konsentrasi partikulat menembus 55 mikrogram per meter kubik. Penurunan kualitas udara juga terlihat dari jarak pandang di Bandara APT Pranoto Samarinda. Sekitar pukul 12.00 Wita, jarak pandang di kawasan bandara tercatat sekitar 5 kilometer.
Riza menjelaskan, kondisi udara Samarinda dapat dipengaruhi asap kebakaran lahan dari wilayah sekitar. Asap tidak mengenal batas administratif dan dapat terbawa mengikuti arah angin. "Samarinda ini berada di tengah-tengah Kabupaten Kutai Kartanegara. Kalau ada asap, tidak ada batas wilayah. Ke mana angin berembus, ke situ asap bisa terbawa," jelasnya.
Berdasarkan rekap pemantauan satelit pada 29 Agustus, terdapat sekitar 1.556 titik panas atau hotspot yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Timur. Namun, Riza menegaskan angka tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah kebakaran.
Baca Juga: Antrean Pertalite Balikpapan Tak Kunjung Usai, DPRD Bakal Datangi BPH Migas
Hotspot merupakan indikator awal dalam pemantauan dan belum tentu menunjukkan adanya kebakaran. Selain itu, kebakaran yang terjadi setelah satelit melintas berpotensi belum terdeteksi. "Titik panas itu belum tentu kebakaran. Data satelit merupakan gambaran umum untuk monitoring," terangnya.
Di tengah penurunan kualitas udara tersebut, masyarakat diminta mengantisipasi dampaknya, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara semakin memburuk. Penggunaan masker juga dianjurkan, khususnya bagi masyarakat yang sensitif terhadap perubahan kualitas udara.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi lingkungan masing-masing, terutama jika jarak pandang mulai berkurang dan bau asap semakin terasa. "Kami sarankan masyarakat menjaga kesehatan dengan menggunakan masker kalau keluar rumah, apalagi kalau sudah terlihat kabur dan tercium bau asap," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki