KALTIMPOST.ID-Indonesia punya batu bara melimpah, tetapi masih harus merogoh kocek triliunan rupiah untuk mendatangkan metanol dari luar negeri. Sepanjang 2025, impor metanol mencapai 1,3 juta ton dengan nilai sekitar Rp 7,1 triliun.
Ketergantungan itu kini coba dipangkas lewat proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kaltim.
Proyek tersebut dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC) di Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kutai Timur (Kutim).
Pembangunannya masuk daftar proyek strategis nasional (PSN) itu ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun.
Baca Juga: Mahligai Nusantara Festival Ramaikan Balikpapan 11–13 September, Ada Kuliner, Fashion hingga Kriya
Kapasitas tersebut lebih besar dibandingkan volume impor metanol Indonesia sepanjang 2025.
“Proyek ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam,” kata Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung saat groundbreaking proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutim, Selasa (1/9).
Pembangunan BEC akan memanfaatkan sekitar 7,70–7,78 juta ton batu bara berkalori sekitar 3.400 kcal/kg setiap tahun.
Batu bara tersebut akan diproses menggunakan teknologi gasifikasi menjadi metanol berstandar International methanol producers and consumers association (IMPCA) grade.
“Produksi metanol nantinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Di antaranya sektor petrokimia dan formaldehida, serta mendukung pengembangan program B50,” paparnya.
Menurut Yuliot, proyek tersebut sekaligus bisa menjadi contoh pengembangan hilirisasi batu bara berkalori rendah yang banyak tersedia di Kalimantan dan Sumatra.
Baca Juga: Antrean Pertalite Balikpapan Tak Kunjung Usai, DPRD Bakal Datangi BPH Migas
Tak hanya mengurangi ketergantungan terhadap impor, pemerintah berharap proyek tersebut mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.
“Aktivitas industri di kawasan diharapkan mendorong munculnya lapangan kerja sekaligus industri pendukung,” tuturnya.
Sementara itu, Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan proyek kini memasuki tahapan engineering.
BEC telah menyusun front-end engineering design (FEED) serta engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC) Framework Agreement bersama PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co, Ltd (CNCEC). “Proyek gasifikasi batu bara pertama di Indonesia siap memasuki implementasi,” ujar Rio.
BEC menargetkan proyek mulai memasuki tahap commissioning pada 2029. Jika target produksi sekitar 2 juta ton metanol per tahun tercapai, fasilitas tersebut berpotensi menjadi salah satu tumpuan substitusi impor metanol sekaligus memperkuat rantai pasok industri nasional. (bry/jpg/rd)
Editor : Romdani.