Kabut Asap Karhutla Makin Pekat di Kaltim, Siswa SD Dinilai Perlu Belajar Daring

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 19:37 WIB
Kabut asap di Balikpapan. (FOTO AINUR/KALTIM POST)
Kabut asap di Balikpapan. (FOTO AINUR/KALTIM POST)

KALTIMPOST.ID-Penurunan kualitas udara hingga menyentuh kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian mengkhawatirkan kesehatan para pelajar di Kaltim.

Menyikapi situasi tersebut, pengamat pendidikan dari Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda Muhammad Ikhsan menilai penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah sangat tepat dan mendesak untuk segera diberlakukan demi melindungi kelompok rentan.

Menurut Ikhsan, anak-anak, terutama para siswa tingkat sekolah dasar (SD), merupakan kelompok yang paling rawan terdampak paparan polusi udara pekat.

Baca Juga: LAPSUS: Antrean Pertalite Mengular di Kaltim tapi Pengecer BBM Menjamur, SPBU Harus Diaudit

Jika aktivitas belajar tatap muka tetap dipaksakan di tengah kepungan kabut asap, ancaman gangguan pernapasan berpotensi meningkat drastis pada anak-anak.

“Ambang batas sudah terpenuhi untuk kualitas sangat buruk, sudah harus segera, apalagi kepada sekolah-sekolah yang terkhusus kelompok rentan,” ujar Ikhsan, Minggu (6/9).

Ia berpandangan bahwa beralih sementara ke metode pembelajaran jarak jauh bukanlah kendala berat bagi satuan pendidikan.

Pembelajaran dari pengalaman panjang menghadapi pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu dinilai telah memberi bekal kesiapan mental serta infrastruktur dasar bagi sekolah, guru, maupun para siswa.

“Kita sudah pernah melewati masa-masa Covid, jadi saya kira PJJ ini sudah tidak asing lagi. Untuk PJJ sendiri bukan kendala utama tentunya untuk proses pembelajaran tanpa mengurangi kualitas,” tuturnya.

Meski demikian, Ikhsan mengingatkan agar efektivitas PJJ tidak semata-mata disandarkan pada kepemilikan gawai atau koneksi internet semata.

Hal yang jauh lebih mendasar adalah kesiapan metode mengajar guru agar para murid tetap menyerap materi secara baik di rumah.

“Bukan berarti hanya internet sama laptop saja, tapi struktur dari kompetensi pedagogis mereka yang perlu diingatkan kembali untuk diperbaiki atau dikembangkan,” jelasnya.

Baca Juga: LAPSUS: Jangan Hanya Atur Antrean Pertalite di SPBU tapi Temukan Penyebab dan Benahi Distribusinya

Ikhsan turut memuji langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) serta para tenaga pendidik di Kaltim yang belakangan semakin aktif memanfaatkan media ajar digital interaktif.

Menariknya, ia menyarankan agar peristiwa karhutla yang terjadi saat ini tidak sekadar dipandang sebagai hambatan, melainkan diolah menjadi materi ajar kontekstual yang relevan bagi para siswa.

“Itu sebenarnya bisa jadi bahan ajar sendiri. Kejadian karhutla bisa dijadikan bahan ajar untuk melatih kepada siswa bagaimana ekosistem gambut, kebakaran hutan, menjaga kesehatan, memakai masker,” imbuhnya.

Mengenai kekhawatiran penurunan mutu atau kejenuhan belajar selama belajar dari rumah, Ikhsan memperkirakan dampaknya tidak akan signifikan.

Mengingat durasi bencana karhutla umumnya jauh lebih singkat dibanding masa darurat pandemi, potensi efek negatif PJJ diyakini masih berada dalam batas yang sangat terkendali.

“Karhutla ini berbeda dengan Covid-19 yang membutuhkan waktu yang sangat panjang. Pengaruhnya bisa kita ukur. Karhutla ini saya kira masanya lebih pendek, jadi dampak-dampak negatif dari PJJ saya kira belum bisa terukur,” ungkapnya.

Ikhsan mendorong dinas terkait untuk terus memantau indeks kualitas udara secara berkala demi keselamatan peserta didik. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kaltim letjen lucky avianto penajam paser utara ibu kota nusantara kebakaran hutan dan lahan