KALTIMPOST.ID-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kaltim telah berdampak terhadap sedikitnya 449 hektare lahan. Menariknya, luasan kebakaran justru lebih banyak terjadi di luar kawasan hutan.
Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltim Dadang Rukmana mengatakan, data tersebut dihimpun dari laporan 19 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan satu Taman Hutan Raya (Tahura) di seluruh Kaltim.
Dari total tersebut, sekitar 199 hektare lahan yang terbakar berada di dalam kawasan hutan. Kebakaran paling banyak terjadi pada kawasan hutan produksi.
“Itu paling banyak di hutan produksi. Sementara untuk kebakaran di luar kawasan hutan atau area penggunaan lainnya ada sekitar 250 hektare,” ujar Dadang, Selasa (8/9).
Baca Juga: Rugi Rp 772 Juta Beli 10 Kavling di Balikpapan, 131 Korban Buka Opsi Terima Lahan Pengganti
Dengan demikian, sekitar 55 persen dari total luasan terdampak berada di luar kawasan hutan. Sementara sekitar 44 persen lainnya berada di dalam kawasan hutan.
Dadang mengatakan, seluruh unit pelaksana teknis daerah (UPTD) di bawah Dishut Kaltim terus melakukan pemantauan sekaligus penanganan karhutla di wilayah kerja masing-masing.
“Unit-unit kami di UPTD semuanya siang malam terus bekerja di mana pun ada kebakaran,” katanya.
Karhutla juga berpotensi berkontribusi terhadap munculnya kabut asap yang dalam beberapa waktu terakhir menyelimuti sejumlah daerah di Kaltim.
Dadang menyebut asap yang terlihat di Balikpapan dan Samarinda kemungkinan salah satunya berasal dari kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.
Meski demikian, menurut dia, kondisi asap di kedua kota tersebut saat ini belum setinggi daerah lain. Berau disebut menjadi wilayah dengan kondisi asap paling tinggi.
“Kalau asap-asap ini mungkin salah satunya dari dampak kebakaran-kebakaran itu. Untuk saat ini daerah Balikpapan, Samarinda masih tidak terlalu tinggi. Memang yang paling tinggi di daerah Berau saat ini,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.