LAPSUS: Antrean Pertalite di Bontang Mulai Terurai, Wali Kota Minta Tambahan Kuota ke BPH Migas

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 12:08 WIB
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.

KALTIMPOST.ID-Antrean kendaraan untuk mendapatkan pertalite di sejumlah SPBU Bontang mulai terurai. Kondisi itu terjadi setelah distribusi BBM bersubsidi ditingkatkan dari sekitar 8 kiloliter (kl) menjadi 16 kl per SPBU setiap hari.

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan, pasokan sekitar 8 kl sebelumnya dinilai belum mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat.

Akibatnya, antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU. “Yang kemarin terjadi kemacetan antrean itu karena hanya delapan ribu yang didistribusikan. Sehingga terjadilah antrean yang mengular,” kata Neni.

Peningkatan distribusi menjadi 16 kl disebut mulai berdampak terhadap antrean. Namun, kebutuhan pertalite diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan jumlah kendaraan. Selisih harga pertamax dengan pertalite juga dinilai ikut mendorong permintaan BBM bersubsidi.

Baca Juga: Lebih dari 30 Cosplayer Ramaikan e-Walk Balikpapan, Kamen Rider hingga Mobile Legends Unjuk Aksi

Di sisi lain, peningkatan penyaluran menjadi 16 kl setiap hari memunculkan kekhawatiran kuota pertalite Bontang tidak mencukupi hingga akhir tahun. Pertamina Patra Niaga disebut mempertimbangkan ketersediaan kuota tersebut.

Neni meminta tambahan kuota apabila alokasi yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun.

Pemkot Bontang telah mengajukan penambahan kepada BPH Migas. “Tambahi lagi saja. Sudah diajukan surat penambahan kuota ke BPH Migas,” ujarnya.

Menurut Neni, persoalan tidak semata-mata terletak pada jumlah SPBU. Bontang saat ini memiliki SPBU Tanjung Laut, Kopkar PKT, Kilometer 3, dan Akawy.

Selain itu, terdapat SPBU di Jalan Poros Bontang–Samarinda Kilometer 8. “Jumlah penduduk bertambah, jumlah orang yang punya kendaraan bertambah,” katanya.

Karena itu, peningkatan kuota pada SPBU yang sudah beroperasi dinilai menjadi solusi yang lebih memungkinkan dalam jangka pendek. “Penambahannya ya kuota SPBU-nya, bukan tambah SPBU-nya,” tegas Neni.

Baca Juga: Beli Cash, Rumah Ratusan Konsumen Balikpapan Regency Belum Juga Dibangun, Kini Bakal ke Jalur Hukum

Meski antrean mulai berkurang, ia meminta penyaluran Pertalite tetap diawasi agar tepat sasaran. Neni juga mengingatkan pengelola SPBU tidak melakukan praktik distribusi yang bertentangan dengan ketentuan.

Sementara itu, Kabag Perekonomian dan SDA Setkot Bontang Moch Arif Rochman mengatakan, dua SPBU tambahan direncanakan hadir.

Salah satu yang paling siap berada di Bontang Lestari melalui peningkatan status Pertashop menjadi SPBU. “Kalau perizinannya itu hampir rampung,” jelasnya.

Namun, masih terdapat pekerjaan teknis, termasuk pemindahan dispenser Pertashop sebelum perangkat baru dipasang. Jika terealisasi, fasilitas tersebut nantinya dapat melayani lebih banyak jenis BBM sesuai izin dan alokasi Pertamina.

Rencana SPBU lainnya berasal dari Koperasi Karyawan Pupuk Kalimantan Timur (Kopkar PKT) di sekitar Tugu Selamat Datang. Namun, Arif belum memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangannya.

Selama ini pola pasokan setiap SPBU juga berbeda. SPBU Kopkar disebut menerima Pertalite sekitar 16 kl, sedangkan SPBU Akawy memperoleh pasokan bergantian antara 8 kl dan 16 kl.

Sementara SPBU Kilometer 3 mendapat Pertalite sekitar 8 KL per hari. Perbedaan volume dan frekuensi distribusi tersebut menjadi bagian yang harus diperhitungkan dalam menjaga ketersediaan BBM sekaligus mencegah antrean kembali mengular. (rd)

Editor : Romdani.
antre BBM subsidi Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni Pertalite langka kilang Pertamina Balikpapan SPBU 24 jam Balikpapan