KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kekeringan yang melanda Samarinda dan sebagian wilayah Kaltim mulai menekan ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap sumber air baku yang selama ini mengandalkan Sungai Mahakam dan Bendungan Lempake atau Waduk Benanga, di Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV mencatat penurunan debit Sungai Mahakam akibat minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi itu bahkan mulai memicu masuknya air laut ke badan sungai sehingga sejumlah intake Perumda Tirta Kencana harus menyesuaikan operasional ketika kadar salinitas meningkat.
Baca Juga: DPRD Samarinda Dukung PJJ di Tengah Kabut Asap
Kepala BWS Kalimantan IV Andri Rachmanto Wibowo mengatakan, selain Sungai Mahakam, kebutuhan air baku Samarinda selama ini juga ditopang Bendungan Lempake serta sejumlah sumur air dalam.
Bendungan tersebut secara desain memiliki kapasitas tampungan sekitar 1 juta meter kubik, namun berkurang imbas tingginya sedimentasi dan dimanfaatkan untuk kebutuhan air baku, sumber irigasi persawahan hingga pengendalian banjir di Samarinda.
“Adanya kekeringan ini membuat TMA waduk menurun sehingga kami juga melakukan pemeliharaan dengan penggalian sehingga pengangkutan gulma,” jelas Andri kepada Kaltim Post, Jumat (18/9).
Sebagaimana diketahui, per Kamis (17/9) TMA waduk Benanga berada di angka 6,8 meter. Kondisi tersebut membuat pasokan air baku ke IPA Gunung Lingai turut terdampak hingga hanya mampu beroperasi 40 persen dari total kemampuan produksi 200 liter per detik. Jika mencapai 6 meter, maka kemungkinan perumdam Tirta Kencana Samarinda akan menghentikan produksinya.
Dia menyebut selama kekeringan dua bulan belakangan ini, pihaknya juga melakukan distribusi air menggunakan mobil tangki. Hingga 16 September, BWS mencatat distribusi air minum telah mencapai sekitar 330 ribu liter, termasuk bantuan untuk persawahan mencapai 20 ribu liter dan penanganan kebakaran hutan dan lahan sekitar 80 ribu liter, di seluruh wilayah Kaltim.
Baca Juga: Kualitas Udara Samarinda Membaik, Kemarau Masih Jadi Perhatian
“Jadi kita berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan air ke masyarakat maupun persawahan dan juga kebakaran hutan,” sebutnya.
Dia menyampaikan, upaya lain dilakukan dengan memanfaatkan sumber tampungan yang tersedia. Salah satunya void bekas tambang di Kelurahan Sambutan yang tengah dibangun saluran untuk mengalirkan air menuju sungai dan selanjutnya dimanfaatkan bagi kebutuhan persawahan.
“Dengan saluran ini, air bisa disalurkan ke sungai untuk keperluan irigasi persawahan, saat ini sedang berproses,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (SNVT PJPA) BWS Kalimantan IV Indrasto Dwicahyo mengatakan, penanganan jangka panjang diarahkan pada penambahan tampungan air melalui pembangunan sejumlah kolam retensi dan embung. Rencana tersebut disinergikan dengan program Pemkot Samarinda.
“Jadi ada beberapa rencana pembangunan kolam-kolam retensi. Ini sudah diinisiasi pemkot, seperti kolam retensi Bengkuring, lalu di utara ada kolam retensi Pampang dan ke utara lagi bisa di Tanah Merah yang bersinergi antara Pemkot Samarinda dan Pemkab Kukar,” jelasnya.
Menurut Indrasto, pembangunan tampungan tersebut dilakukan bertahap karena membutuhkan proses pembebasan lahan dan penyelesaian dampak sosial. Selain Bengkuring, rencana tampungan juga terdapat di kawasan Sempaja yang berada di bagian hulu.
“Secara bertahap dilakukan perencanaan yang matang bersama pemkot serta instansi lainnya,” pungkasnya.
Kembali ke Andri dirinya mengimbau masyarakat tidak panik menghadapi kondisi kekeringan, tetapi tetap menghemat penggunaan air. Menurutnya, efisiensi air harus dilakukan tidak hanya ketika terjadi kekurangan, tetapi menjadi kebiasaan dalam penggunaan sehari-hari.
“Bahkan dalam kondisi banyak air pun kita tidak boleh boros. Sifat hemat air itu harus diterapkan kapan pun, apalagi saat musim kemarau ini,” tutupnya. (*)
Editor : Duito Susanto