Kebakaran Melanda Kaltim, Pengamat Sebut Indonesia Kecurian

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:37 WIB
KARHUTLA: Upaya petugas pemadam kebakaran di lapangan sekitar wilayah Tahura Bukit Soeharto memadamkan api.
KARHUTLA: Upaya petugas pemadam kebakaran di lapangan sekitar wilayah Tahura Bukit Soeharto memadamkan api.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Bencana kabut asap serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Timur dan Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai bukan karena tidak bisa diprediksi, melainkan karena kita kecolongan dalam melakukan pencegahan.

Pengamat Lingkungan Universitas Mulawarman (Unmul), Albert Laston Manurung, secara tegas menyebut pemerintah daerah telah memilih 'jalan mahal' dalam menghadapi karhutla.

Menurut Albert, fenomena El Nino yang menjadi pemicu kekeringan ekstrem tahun ini sebenarnya sudah diumumkan oleh BMKG dua hingga tiga bulan sebelum kejadian.

Baca Juga: Kawal Dana PPM dan CSR, Pemkab Kutai Barat Bedah Ketat Realisasi Program Korporasi

“Kita sibuk memadamkan api saat sudah membesar, bukan mencegah sejak dini, padahal peringatan sudah diberikan jauh-jauh hari,” kata Albert pada Selasa (20/10).

Data peringatan dini tersebut telah tersedia secara daring dan dapat diakses oleh seluruh pemerintah daerah, terutama UPTD pencegahan kebakaran di Dinas Kehutanan (Dishut).

Ia menjelaskan, El Nino tidak memiliki periode yang pasti. Kadang datang dua tahun, tujuh tahun, atau 10 tahun sekali.

Namun untuk tahun ini, BMKG bahkan sudah memberikan label khusus, yakni El Nino Godzilla.

“Artinya, saking jauhnya skala perbedaan tekanan udara di Darwin dibandingkan dengan di Tahiti. Itu akan sangat kering. Saya akan katakan, kita kecurian di sini. Indonesia kecurian, makanya bencana kita sekarang sangat besar,” tegasnya.

Baca Juga: Ronaldo Dihukum 30 Hari oleh Federasi Portugal, Denda Rp4 Jutaan Usai Tinggalkan Timnas

Hal yang paling disesalkan Albert dari laporan tersebut adalah adanya korban jiwa, baik dari petugas maupun masyarakat, dalam upaya pemadaman.

Dalam prinsip manajemen kebakaran hutan, kata dia, keselamatan nyawa manusia adalah yang utama, di atas segalanya.

“Dalam prinsip pemadaman kebakaran, nyawa yang paling penting. Biarkan saja hutan itu hancur, nyawa jangan sampai hilang satu pun. Jadi kalau saya dengar ada nyawa hilang, saya merasa sedih,” tegasnya.

Dia membeberkan dua penyebab utama petugas terjebak dalam kebakaran. Pertama, terjebak kepulan asap tebal karena peralatan yang kurang memadai dan minimnya pengalaman di lapangan.

Kedua, dan yang paling mematikan, adalah jebakan lahan gambut. Di atas terlihat padat, namun di bawahnya gambut sudah terbakar dan membentuk rongga.

“Petugas kita membawa alat jalan ke mana-mana. Di bawah itu gambut sudah terbakar, berongga. Ketika diinjak, jatuh ke bawah. Itu bara di bawah, kasihan,” pungkasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
karhutla Kaltim Berita Lingkungan IKN el nino kebakaran hutan