KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN-Berdasarkan analisis Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim, sebagian besar kasus demam berdarah dangue (DBD) terjadi pada anak-anak usia sekolah di bawah 14 tahun. Hingga September 2025, terdapat 3.578 kasus DBD di Bumi Etam.
Sebagai bentuk antisipasi terjadi kenaikan kasus, Diskes Kaltim menjalin kerja sama dengan beberapa SD. Mengingat jumlah kasus DBD sebagian besar menyasar usia sekolah.
Itu terkait upaya edukasi dan pemeriksaan dini. “Kemudian kami mewajibkan seluruh fasilitas kesehatan, baik rumah sakit maupun puskesmas menyediakan tes cepat DBD,” ungkapnya.
Sehingga hasil tes bisa diketahui dalam waktu 15 menit. "Ketika terjadi temuan kasus dapat secepatnya dilakukan penanganan," imbuhnya. Dia mengakui, tren penurunan kasus DBD karena kesadaran masyarakat meningkat dalam mencegah penyebaran DBD. “Mari bersama-sama menjaga lingkungan tetap bersih,” tutupnya
Menurutnya langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran DBD tetap dengan gerakan 3M Plus. Di antaranya menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air.
Serta bagian plus yaitu menjaga kebersihan lingkungan, mengubur barang bekas, dan membakar sampah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Jaya mengingatkan agar masyarakat terus konsisten melakukan itu.
Sarang nyamuk umumnya ditemukan di wadah-wadah air tergenang. Seperti botol bekas, kaleng, pot bunga, dan tempat minum hewan. Warga diimbau rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masing-masing.
“Nyamuk ada di sekitar kita, tapi dengan menjaga kebersihan lingkungan, mereka tidak akan berkembang biak,” bebernya. Dia mengajak seluruh pihak ikut berpartisipasi mewujudkan Kaltim bebas DBD. (*)
Editor : Dwi Restu A