Keadaan ekonomi menuntut Etiovia atau Ovi putar otak. Sebagai ibu rumah tangga (IRT), apa saja dikerjakan untuk membantu ekonomi keluarga. Dari limbah kayu, dia pun menyulapnya jadi karya bernilai seni.
RADEN RORO MIRA, Tenggarong
PEKERJAAN suami belum tentu bisa selalu menghasilkan setiap bulan. Itulah yang mendasari Ovi mencari penghasilan tambahan. Suatu ketika, dia melihat temannya yang memiliki usaha mebel. Banyak limbah kayu tak terpakai yang dibuang begitu saja.
“Saya bilang, boleh enggak saya minta. Katanya boleh. Tapi, belum kepikiran mau bikin apa. Masih sekadar mau bikin kayak talenan kayu begitu saja. Waktu itu sekitar 2020, memang sudah pandemi Covid-19,” ungkapnya.
Diakui, jika dia juga tidak memiliki dasar dalam mengolah kayu. Semua murni coba-coba dan autodidak. Beberapa talenan sudah diproduksi di workshop miliknya di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Rumah sekaligus menjadi lokasi produksi. Namun, dia masih merasa belum puas. Nilai jualnya juga tidak terlalu tinggi.
“Masa iya cuma talenan. Jadi, coba cari-cari referensi. Bisa jadi apa kayu ini. Lihat-lihat di media sosial, sampai melihat ada tas dari kayu jati. Saya lihat menarik, akhirnya coba buat,” kata perempuan kelahiran 1984 itu.
Murni belajar mandiri. Mula-mula dia belajar membuat pola dari kardus bekas. Dari pola itu, kemudian diaplikasikan ke potongan-potongan kayu. Lalu, dia rangkai menjadi tas. Dia satukan semuanya dengan lem tembak. Sebagai hasil akhir, dia cat dengan warna asli kayu atau pernis.
Karya pertama itu dia unggah di media sosialnya. Beberapa teman mengaku tertarik. Pada beberapa pertemuan, dia juga sengaja menggunakan hasil karya. “Akhirnya dari mulut ke mulut, coba-coba bikin model lain. Dari situ, mulai ada beberapa yang pesan. Masih lingkungan teman,” paparnya.
Beberapa model tas jati pun dia produksi. Dengan harga kisaran Rp 350-700 ribu bergantung ukuran. Usaha itu dia beri nama By Ovi Galeri Jati. Diakui, awalnya hanya tas kayu polos begitu saja. Kini, produknya bisa ditemukan di galeri Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutai Kartanegara dan Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan.
“Teman bilang kalau terlalu polos, coba ditambah hiasan atau digambar-gambar. Jadi, terpikir ditambah ukiran-ukiran khas lokal. Awalnya mau gambar, tapi kurang menurut saya. Jadi, kerja sama pakai jasa ukir. Dari situ, mulai semakin banyak yang tertarik,” lanjutnya.
Setahun kemudian, usaha itu semakin dikenal dan perlahan berkembang. Pesanan mulai masuk. Lingkaran pembeli bukan lagi dari teman atau lingkungan sekitar. Beberapa instansi juga mulai melirik potensi kriya yang Ovi kembangkan.
Namun kini, diakui produksi agak menurun. Sebab, terkendala bahan baku. Utamanya adalah limbah dari mebel kayu jati. Saat ini, dia sulit mendapatkannya. Tak sebanyak dulu. “Kayu yang agak besar ukurannya mulai susah. Selain dari mebel, juga biasanya bisa di penumpukan kayu,” kata dia.
Selain itu, dia kini disibukkan dengan pengurusan izin produk usaha kayu. “Kalau izin usaha sudah, lagi mengurus izin supaya produknya ini bisa dikirim keluar. Sekarang juga diarahkan untuk ambil limbah kayunya dari mebel-mebel yang juga bersertifikat,” sambung Ovi.
Selain tas kayu jati, berbagai produk lain juga diproduksi. Talenan yang mulanya untuk keperluan dapur, kini dia buat sebagai home decor. Menjadi gantungan atau hiasan dinding yang makin apik dengan ukiran khas Dayak.
Nampan, tatakan gelas, gantungan baju hingga gantungan kunci juga lahir dari tangannya. Sejauh ini, masih mampu dia kerjakan sendiri. Jika ada pesanan banyak, dia akan mempekerjakan freelance.
“Potensi perkembangan kriya dari kayu ini peluang pasarnya cukup bagus ke depan. Permintaan mulai banyak. Tapi, memang kendala masih di bahan baku, keterbatasan bahan dan tenaga juga kadang. Sebenarnya saya punya kebun, bisa dimanfaatkan untuk kayunya. Tapi masih proses karena butuh modal juga,” kata dia.
Pemanfaatan limbah tadi yang diakui Ovi bisa menekan harga jadi tidak terlalu tinggi. Dia akan konsisten untuk menggunakan bahan sisa. Selain dari sisi pemanfaatan, juga sekaligus edukasi bahwa apa yang terkadang tak ternilai bagi orang lain. Justru bisa menjadi pintu rezeki dan bernilai seni. (rom/k15/bersambung)
Editor : Romdani.