Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Diversifikasi Pasar dan Fleksibilitas Jadi Andalan Hadapi Badai

Nasya Rahaya • Sabtu, 7 Juni 2025 | 18:39 WIB
SIASAT: Midtown mengambil langkah agresif menyasar pasar non-government. Strategi utama mereka adalah memperluas jangkauan ke korporasi, travel agent hingga tamu individual.
SIASAT: Midtown mengambil langkah agresif menyasar pasar non-government. Strategi utama mereka adalah memperluas jangkauan ke korporasi, travel agent hingga tamu individual.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Gelombang efisiensi anggaran yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto sejak awal tahun membuat banyak hotel kehilangan napas. Namun di Midtown Hotel Samarinda masih mampu menjaga geliat bisnis. Tanpa bergantung pada segmen pemerintah, manajemen hotel ini mengandalkan diversifikasi pasar dan fleksibilitas layanan untuk menjaga okupansi tetap stabil dan karyawan tetap bekerja.

“Kalau ditanya terdampak, pasti terdampak,” ujar General Manager Midtown Hotel Samarinda, Imam Mustofa. “Tapi besar-kecilnya dampak itu tergantung dari seberapa besar ketergantungan hotel terhadap segmen government,” sambungnya.

Imam tak menampik bahwa segmen instansi pemerintah tetap memberi kontribusi pada pendapatan Midtown. Namun sejak awal, manajemen hotel bintang tiga yang berada di jantung kota Samarinda itu memang tak menempatkan segmen pemerintahan sebagai tulang punggung bisnis. “Kontribusi mereka maksimal hanya 20 sampai 25 persen. Kami tetap layani, tapi tidak bergantung sepenuhnya,” katanya.

Itulah sebabnya, ketika agenda-agenda instansi pemerintah nyaris menghilang dari daftar pemesanan sejak Januari lalu, Imam dan timnya tak terlalu panik. Di banyak hotel lain, efisiensi menyebabkan penurunan tajam pada pemesanan ruang rapat, kamar, hingga pemangkasan tenaga kerja. Tapi di Midtown, operasional masih berjalan normal.

“Meeting dari dinas pemerintah hampir bisa dibilang enggak ada sekarang. Tapi seperti perjalanan dinas masih ada,” katanya. Meski kecil, aktivitas ini masih bisa menjadi penyelamat di tengah minimnya agenda resmi seperti meeting room. “Kami juga tetap menjaga hubungan baik dengan mereka. Siapa tahu nanti ada kegiatan mendadak yang bisa kami akomodasi,” sebutnya.

Alih-alih menunggu situasi kembali pulih, Midtown mengambil langkah agresif untuk menyasar pasar non-government. Strategi utama mereka adalah memperluas jangkauan ke korporasi, travel agent, hingga tamu individual. Promosi berbasis digital diperkuat, dan harga kamar dibuat lebih fleksibel. “Kami buka ruang negosiasi. Kalau dulu harga segini ya segini, sekarang kami tanya dulu, anggranya berapa, mari kita sesuaikan,” ujar Imam.

Pihaknya bahkan siap menyediakan paket outside catering bagi instansi atau perusahaan yang tetap butuh konsumsi, namun tak bisa menggelar kegiatan di hotel karena alasan anggaran. “Kita bisa siapkan dalam bentuk nasi box, buffet, apa pun. Yang penting tetap ada revenue yang bisa digali,” ujarnya.

Diversifikasi itu membuat Midtown tetap bisa mencatatkan okupansi yang cukup stabil. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, tingkat hunian hotel berbintang di Samarinda pada kuartal pertama 2025 sempat turun drastis, sebelum rebound sebesar 14,59 persen di April. Imam menyebut, tren itu juga terasa di Midtown, namun tak sampai mengguncang operasional.

“Alhamdulillah sampai sekarang kami belum masuk ke fase unpaid leave. Karyawan tetap kami pekerjakan seperti biasa. Casual dan daily worker juga masih kami libatkan. Kami memang siapkan payung jaga-jaga, tapi belum perlu dibuka,” terangnya.

Di sisi lain, kreativitas menjadi mata uang baru. Imam menyebut timnya terus melakukan evaluasi untuk mencari celah potensi pasar. “Kami lihat segmentasi yang masih bisa digarap. Corporate di luar Samarinda, social event, bahkan kolaborasi dengan komunitas,” ujarnya.

Meski kontribusi kegiatan meeting cukup signifikan terhadap total revenue, sekitar 20-25 persen, Imam menegaskan bahwa sumbernya bukan hanya dari instansi pemerintah. “Korporasi dan komunitas juga masih banyak yang menggunakan fasilitas meeting room kami. Wedding, arisan, gathering, itu semua bisa bantu tutupi kekosongan,” sebutnya.

Langkah-langkah ini menjadi bukti bahwa hotel tak harus menunggu keadaan pulih untuk bisa bertahan. Imam percaya bahwa selama manajemen adaptif dan tidak terpaku pada satu sumber pemasukan, bisnis masih bisa diselamatkan. “Efisiensi ini memang tantangan besar. Tapi kami melihat ini juga sebagai momentum untuk membentuk ulang arah bisnis,” ujarnya.

Ia menambahkan, manajemen Midtown saat ini tengah menjajaki kemungkinan membuka jalur promosi ke daerah lain di luar Samarinda, seperti Balikpapan, Bontang, hingga Kutai Kartanegara. “Kami ingin memperluas market corporate. Apalagi Samarinda ini lokasinya strategis, tinggal bagaimana kita bisa lebih proaktif,” imbuhnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#efisiensi anggaran #Midtown Hotel Samarinda #kaltim #hotel #diversifikasi pasar