KALTIMPOST.ID - Balikpapan turut memberi kontribusi positif terhadap kinerja ekspor Kaltim pada Oktober 2025. Nilai ekspor dari daerah ini melonjak 26,86 persen dibandingkan September 2025, dari USD 384,89 juta menjadi USD 488,28 juta.
Kenaikan ini terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang naik 21,31 persen, dari USD 354,35 juta menjadi USD 429,86 juta.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama mengungkapkan, pemulihan ekspor Balikpapan dipengaruhi meningkatnya aktivitas industri pengolahan.
“Pada Oktober 2025, sektor industri pengolahan mencatat kenaikan yakni 70,51 persen. Nilainya naik dari USD 123,90 juta menjadi USD 211,26 juta. Lonjakan ini menjadi motor utama pertumbuhan ekspor bulan tersebut,” ulasnya, Rabu (3/12).
Sayang, jika dibandingkan Oktober 2024 total ekspor Balikpapan masih turun 15,79 persen, dari USD 579,87 juta menjadi USD 488,28 juta. Penurunan tahunan ini terutama disebabkan melemahnya ekspor nonmigas sebesar 8,43 persen. Sementara itu, ekspor hasil tambang juga mencatat penurunan yang turut menekan kinerja tahunan.
Marinda menilai dinamika ekspor Balikpapan sangat dipengaruhi perubahan permintaan global. “Pasar internasional dalam beberapa bulan terakhir masih berfluktuasi. Kondisi ini berdampak pada komoditas utama Balikpapan, terutama produk nonmigas. Walaupun ada kenaikan bulanan, tekanan tahunan masih terasa,” jelasnya.
Secara kumulatif Januari–Oktober 2025, total ekspor Balikpapan turun 7,32 persen, dari USD 5052,18 juta menjadi USD 4682,54 juta. Penurunan paling tajam tercatat pada hasil industri yang melemah 3,93 persen dan hasil tambang yang turun 9,10 persen. Sektor pertanian, meski nilainya kecil, juga tidak memberikan kontribusi besar pada pemulihan ekspor.
Meski begitu, Marinda optimistis kinerja ekspor masih berpeluang membaik pada akhir tahun. “Tren pemulihan bulanan adalah sinyal positif. Selama industri lokal tetap produktif dan didukung kelancaran logistik, peluang peningkatan ekspor pada akhir 2025 masih terbuka,” katanya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Balikpapan perlu memperkuat diversifikasi produk ekspor agar tidak terlalu bergantung pada komoditas tertentu. "Upaya hilirisasi menjadi kunci stabilitas ekspor dalam jangka panjang, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung," ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo