KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) di Kalimantan Timur masih berada dalam tren kontraksi pada triwulan III 2025.
Bank Indonesia mencatat pelemahan terjadi baik dari sisi nominal maupun volume transaksi, seiring pergeseran preferensi masyarakat ke layanan pembayaran digital yang lebih cepat.
Pada triwulan III 2025 nominal transaksi SKNBI terkontraksi 16,49 persen (year on year/yoy). Angka tersebut lebih dalam dibandingkan kontraksi pada triwulan II 2025 yang tercatat 16,14 persen (yoy).
“Nominal transaksi SKNBI triwulan III 2025 tercatat Rp8,70 triliun,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto.
Dari sisi volume, kinerja SKNBI pada triwulan III 2025 menunjukkan kontraksi 9,62 persen (yoy). Meski masih tertekan, namun dinilai lebih membaik dibandingkan triwulan II 2025 yang mengalami kontraksi lebih dalam hingga 15,20 persen (yoy).
Secara jumlah, volume transaksi SKNBI pada triwulan III 2025 tercatat sebanyak 172.455 transaksi. Angka tersebut meningkat dibandingkan triwulan II 2025 yang hanya mencapai 144.957 transaksi, meski secara tahunan masih berada dalam zona kontraksi.
Jika ditarik ke periode sebelumnya, tekanan terhadap SKNBI sudah terlihat sejak triwulan II 2025. Pada periode tersebut, nominal transaksi yakni Rp7,46 triliun, turun dibandingkan triwulan I 2025 yang mencapai Rp8,28 triliun, dengan kontraksi nominal 16,14 persen (yoy).
Budi menjelaskan, penurunan kinerja SKNBI merupakan dampak dari shifting perubahan preferensi masyarakat. “Penurunan yang dialami SKNBI merupakan dampak perubahan preferensi masyarakat yang kini lebih banyak menggunakan BI-FAST,” ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo