Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

BI Kaltim Bentuk UPJA dan LKMA, Petani Bisa Sewa Drone dan Didorong Mandiri

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 4 Maret 2026 | 13:53 WIB

SKEMA: Drone dikelola oleh UPJA. Petani yang membutuhkan menyewa. Uang tersebut juga akan digunakan untuk perawatan drone.
SKEMA: Drone dikelola oleh UPJA. Petani yang membutuhkan menyewa. Uang tersebut juga akan digunakan untuk perawatan drone.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Teknologi tanpa kelembagaan dinilai tak akan berumur panjang. Itu sebabnya Bank Indonesia Kaltim tak hanya memberi alat, tetapi juga membangun sistem.

Di setiap lokasi binaan digital maupun smart farming, dibentuk Unit Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA). Drone sprayer agriculture (DSA) yang merupakan bantuan bisa disewakan kepada petani lain dengan tarif terjangkau.

“Kalau mau pakai drone ada biaya sewanya. Tapi enggak mahal. Uangnya dikumpulkan untuk perawatan alat,” ujar Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim Bayuadi Hardiyanto.

Selain itu, dibentuk pula Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) untuk memperkuat akses pembiayaan internal kelompok. “Kelembagaannya kita perkuat sehingga bisa membiayai dirinya sendiri,” tegasnya.

Pihaknya juga memberikan pelatihan dan sertifikasi pilot drone kepada petani. Langkah itu terbukti menarik minat generasi muda. Pengoperasian drone dinilai lebih modern dan atraktif dibanding cara konvensional.

Dukungan masyarakat pun mulai tumbuh. Bahkan ada kelompok yang mengadakan baterai tambahan secara swadaya melalui kolaborasi dana desa. “Mereka enggak menunggu pemerintah lagi,” ujarnya.

Pendekatan komprehensif tersebut menunjukkan bahwa kemandirian petani menjadi kunci keberlanjutan program, bukan sekadar bantuan alat.

Lebih lanjut, program ketahanan pangan BI Kaltim tidak dirancang permanen. Ada batas pendampingan. Bayuadi menyebut masa pendampingan ideal sekitar lima tahun. “Biasanya lima tahun. Passing out kita sebutnya. Artinya sudah bisa mandiri, bisa kita lepas,” ujarnya.

Selama periode itu, mereka terus memonitor perkembangan produksi, kelembagaan, hingga kendala lapangan. Setelah dinilai mandiri, kelompok akan dilepas dan BI mencari lokasi baru. “Enggak kick and run. Kita dampingi terus sampai benar-benar dia bisa lepas,” tegasnya.

Tantangan di lapangan tidak ringan. Infrastruktur jalan menjadi salah satu kendala distribusi hasil panen. “Kita bisa produksi banyak, tapi kalau jalan rusak biaya angkut bertambah,” katanya.

Selain itu, faktor hama dan regenerasi petani juga menjadi perhatian. Pihaknya memilih lokasi percontohan secara selektif. “Kita memang sengaja memilih yang kira-kira bisa membantu kita sama-sama,” ujarnya.

Untuk 2026, program tetap dilanjutkan dan diperluas, termasuk replikasi metode LEISA dan penguatan komoditas cabai.

“Kita tetap maintain. Kita hanya menginisiasi, nanti harapannya direplikasi,” katanya. Baginya, menjaga inflasi bukan hanya soal angka di meja rapat. Tapi dimulai dari tanah yang subur, petani yang mandiri, dan sistem yang berkelanjutan. (*)

 

Editor : Duito Susanto
#Pelayanan Jasa #hasil panen #mesin pertanian #bank indonesia #kaltim #lembaga keuangan #Drone Sprayer