
KALTIMPOST.ID, KALTIM -Ini peringatan keras terutama bagi mereka yang suka jajan seks di luar. Data hingga 30 September 2025, tercatat sebanyak 1.193 kasus HIV/AIDS di Kaltim. Jumlah ini terdiri dari 978 kasus HIV baru dan 215 kasus AIDS.
Menurut Dr. Ivan Hariyadi, kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim, tren penularan penyakit ini relatif stabil selama beberapa tahun terakhir. “Perkembangan HIV/AIDS sebenarnya cenderung datar.
Rata-rata, kami menemukan sekitar 1.100 kasus HIV baru setiap tahun yang tersebar di seluruh Kaltim,” jelas Ivan Hariyadi, baru-baru ini.
Meskipun tidak ada kasus yang signifikan, Diskes Kaltim mengidentifikasi bahwa kelompok pendatang mencakup sebagian besar kasus.
Mobilitas tenaga kerja tinggi, terutama yang terlibat dalam proyek strategis seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan industri migas, dianggap sebagai salah satu faktor risiko utama penyebaran HIV.
Ivan menjelaskan, "Banyak pekerja laki-laki datang dari luar daerah dan jauh dari keluarga, lalu banyak yang terlibat dalam aktivitas berisiko tinggi. Situasi ini berpotensi meningkatkan kasus HIV. Jadi, kemajuan pembangunan juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat jika tidak diantisipasi."
Diskes Kaltim juga mewaspadai adanya kasus HIV/AIDS yang belum terdata di masyarakat. Meskipun laporan menunjukkan stabilitas, penularan diperkirakan masih terjadi di bawah permukaan, layaknya fenomena gunung es.
“Kasus yang terdata saat ini kemungkinannya hanya sebagian kecil. Penularan HIV dapat berlangsung lama sebelum gejalanya muncul,” kata Dr. Ivan.
Menurutnya, pendeteksian kasus kini semakin sulit karena adanya perubahan perilaku sosial. Aktivitas mencurigakan yang dulunya mudah diperhatikan di lokasi fisik tertentu, kini banyak beralih ke transaksi yang berani. Hal ini menyulitkan petugas kesehatan untuk menjangkau individu yang perlu diperiksa secara rutin.
Baca Juga: Kasus TBC dan HIV/AIDS Masih Tinggi di Samarinda, Intip Upaya yang Dilakukan Pihak Terkait
“Jika dulu ada lokalisasi, pemeriksaan rutin dapat dilakukan. Sekarang, sebagian besar transaksi dilakukan secara online , sehingga sulit menentukan siapa yang harus diperiksa. Ini menjadi kendala dan tantangan utama,” tambahnya.
Upaya Pencegahan dan Edukasi
Untuk mengantisipasi situasi ini, Diskes Kaltim gencar mengadakan layanan pemeriksaan HIV gratis di berbagai lokasi, termasuk tempat hiburan malam, warung, dan klub. Mereka juga bekerja sama dengan pihak keamanan dan pemilik usaha untuk mempermudah akses pemeriksaan.
Penting untuk mengubah stigma, karena HIV ini, meski memerlukan pengobatan seumur hidup, masih bisa diobati. Individu yang positif pun tetap bisa produktif, asalkan rutin minum obat,” tegas Dr. Ivan.
Data Diskes Kaltim menunjukkan, kasus tertinggi di kota-kota besar seperti Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara. Daerah ini memiliki populasi padat dan aktivitas ekonomi (tambang, perkebunan, dll.) yang menarik banyak tenaga kerja dari luar.
Baca Juga: Kasus Meningkat, Samarinda Bentuk Perda Penanggulangan TBC-HIV, Ini yang Bakal Jadi Perhatian Serius
Selain itu, Dr. Ivan berharap dunia pendidikan dapat memasukkan kurikulum khusus tentang pendidikan penyakit menular seksual, sehingga anak-anak mendapatkan pengetahuan sejak dini.
Dukungan Regulasi
Saat ini, rencana pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Penanggulangan HIV/AIDS sedang dalam tahap kajian akademik oleh Universitas Mulawarman. Peraturan ini diharapkan dapat menjadi landasan hukum yang kuat untuk mendukung upaya promotif, preventif, dan rehabilitatif bagi warga yang terdampak.
"Kami sangat mendukung adanya Perda tersebut. Kami perlu membahas dampaknya agar berdampak positif bagi semua pihak. Misalnya, jika regulasi menjamin pemeriksaan kesehatan, itu akan sangat membantu upaya pencegahan," tutupnya. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




