Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dekan Kesmas Ingatkan Dampak Kronis PM 2,5, Kelompok Rentan jadi Prioritas  

A
Penulis: Ainur Rofiah❯
Kabut asap selimuti Kota Samarinda menyebabkan kasus ISPA melonjak.(AINUR/KP)
Kabut asap selimuti Kota Samarinda menyebabkan kasus ISPA melonjak.(AINUR/KP)  

Advertisement

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Universitas Mulawarman (Unmul), Prof Iwan M Ramdan mengingatkan dampak jangka panjang paparan polutan PM 2,5 akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh jika terhirup secara berkepanjangan.

"Udara tidak sehat yang terkontaminasi polutan terutama PM 2,5 akan menimbulkan dampak akut dan kronis. Dampak akutnya mempermudah ISPA karena iritasi. Dampak kronis jangka panjang, jika partikel masuk ke peredaran darah dan terakumulasi, akan mengakibatkan kerusakan organ tubuh lainnya," kata Iwan pada Minggu (25/10).

Ia menjelaskan, prioritas utama yang perlu mendapat perlindungan adalah kelompok rentan. Mulai dari anak-anak dengan sistem imun belum optimal, lanjut usia (lansia), kelompok dengan penyakit penyerta atau komorbid, serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.

"Kelompok sehat pun tetap harus waspada. Perilaku merokok juga memperberat," ujarnya.

Terkait langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat, Iwan menilai penggunaan masker dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) saja belum cukup tanpa disertai edukasi mengenai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

"Pertama, edukasi masyarakat mengenai ISPU. Masyarakat harus terbiasa melihat data dari Kementerian Lingkungan Hidup. Di Samarinda ada satu stasiun di taman kota dekat Diskes, datanya tampil di Isbunet setiap hari. Masyarakat harus melihat kondisi udara sehat atau tidak," jelasnya.

Ia menambahkan, jika kualitas udara tidak sehat, masyarakat diminta membatasi aktivitas berat di luar ruangan dan menggunakan masker KN95 atau N95 jika terpaksa keluar rumah.

"Kedua, jika udara tidak sehat, batasi aktivitas berat di luar. Kalau terpaksa keluar, gunakan masker KN95 atau N95. Ketiga, di rumah tutup ventilasi jika kualitas udara buruk, jika memungkinkan pakai filter udara seperti HEPA filter. Jangan diperberat dengan merokok di dalam rumah," katanya.

Iwan juga mengingatkan indikator yang perlu dipahami orang tua untuk mendeteksi kegawatdaruratan pada anak.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Bukan Hanya Ngobrol, Program Ngopi Dulu Bawaslu Tabalong Bahas Politik Uang hingga Pengawasan Pemilu

Bukan Hanya Ngobrol, Program Ngopi Dulu Bawaslu Tabalong Bahas Politik Uang hingga Pengawasan Pemilu

Bawaslu Tabalong luncurkan Ngopi Dulu, ajak mahasiswa aktif mengawasi pemilu, melawan politik uang, dan memperkuat demokrasi.

Berburu Investor Migas di Abu Dhabi, SKK Migas Buka Peluang Kerja Sama dengan Raksasa Energi Dunia

Berburu Investor Migas di Abu Dhabi, SKK Migas Buka Peluang Kerja Sama dengan Raksasa Energi Dunia

Indonesia tawarkan investasi hulu migas di ADIPEC 2026 Abu Dhabi. SKK Migas jajaki kemitraan global untuk memperkuat ketahanan energi.

Masih Punya Ketergantungan dengan Daerah Lain, El Nino Ancam Pasokan Pangan Balikpapan hingga 2027

Masih Punya Ketergantungan dengan Daerah Lain, El Nino Ancam Pasokan Pangan Balikpapan hingga 2027

El Nino ancam pasokan pangan Balikpapan hingga awal 2027. BI waspadai kenaikan harga sayuran dan risiko gagal panen akibat kekeringan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer