
KALTIMPOST.ID - “Kalau MBG yang lain memberi makan perut, MBG kami memberi makan pikiran.” Kalimat itu menjadi cara Maharani Wulandari menjelaskan gerakan Membaca Buku Gratis (MBG) yang digagas komunitasnya yakni Daras Buku.
Walaupun sama-sama MBG tapi yang disajikan bukan makanan secara harfiah, melainkan buku-buku yang bisa dibaca siapa saja. Lebih dari itu, lapak sederhana tersebut diharapkan menjadi ruang perjumpaan bagi anak muda untuk bertukar pikiran dan saling mengenal.
Bagi perempuan yang karib disapa Rani tersebut, semangat Sumpah Pemuda tidak cukup diperingati melalui upacara atau unggahan di media sosial.
"Semangat 1928 sejatinya lahir dari ruang perjumpaan, tempat anak muda dari beragam daerah dan latar belakang duduk bersama, bertukar gagasan, lalu menemukan kesamaan arah. Ruang seperti itulah yang ingin kami hidupkan kembali, sesederhana dengan menggelar buku di taman kota," jelas perempuan kelahiran 2000 tersebut.
Baca Juga: Jangan Tunggu Bencana untuk Bersuara, Ridho Pratama Ajak Anak Muda Berani Kawal Isu Lingkungan
Kegiatan ini lahir atas inisiasi Rani bersama kawannya sesama dosen di Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UINSI Samarinda, Rahmatullah Al-Barawi, pada medio September 2026. Tepatnya penghujung pekan, di Taman Samarendah.
Awalnya, mereka hanya menunggu siapa saja yang tertarik untuk singgah. Namun, perlahan kawan-kawan lain ikut datang membawa buku untuk dibaca bersama. Beberapa bahkan menyumbangkan koleksinya agar dapat diakses lebih banyak orang.
Perjumpaan yang terbentuk dari kegiatan itu semakin menguatkan keyakinan mereka bahwa lapak buku bukan sekadar alternatif tempat membaca. Ada interaksi sosial yang tumbuh, termasuk dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah saling mengenal.
Rani menilai, memahami perbedaan pandangan, keyakinan dan latar belakang dapat dimulai dari kebiasaan membaca serta mendengarkan. Di lapak tersebut, pengunjung dari berbagai usia bisa berbincang santai tentang buku yang sedang dibaca. Dari percakapan sederhana, tumbuh kesempatan untuk saling memahami.
Bersama Daras Buku, Rani memilih jalan kultural yang dekat dengan masyarakat. Mereka tidak menargetkan gerakan besar, tetapi berusaha menjaga kegiatan kecil itu tetap berjalan secara konsisten.
“Kami hanyalah sekelompok kecil anak muda yang menggelar buku di taman setiap pekan. Tetapi kerja kecil yang dilakukan dengan setia dan konsisten, menurut kami, lebih berarti daripada slogan yang megah,” tulis Rani.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




