KALTIMPOST.ID, Meski terdengar menarik, pola makan ini sering disalahpahami dan bisa berdampak buruk bagi kesehatan, terutama jika dijalankan sembari berpuasa di bulan Ramadan.
Bagaimana seharusnya menjalani diet sehat dan menjaga pola makan yang tepat selama bulan puasa, dokter spesialis gizi klinik dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdoel Wahab Sjahranie dr Rabiah SpGK berbagi tips.
Menurutnya intermittent fasting sebaiknya tidak dilakukan selama Ramadan. “Jika ingin menjalani puasa yang baik, kita harus mengikuti anjuran syariat Islam, yakni makan saat berbuka dan sahur. Makan sahur tidak boleh terlalu malam, dan berbuka pun harus mengikuti waktu yang sudah ditentukan,” ujar perempuan yang karib disapa dr Rara tersebut.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Balikpapan Hari Ini, Minggu 9 Maret 2025
“Saat berpuasa yang kita harapkan itu kan kadar insulin dan kadar gula kita turun drastis, jadi nanti kebutuhan energi itu menggunakan lemak tubuh sebagai bahan bakar, setelah karbohidrat habis diproses. Puasa itu bukan berbicara tentang waktu. Karena tidak semua tubuh itu bisa dengan puasa yang terlalu lama,” lanjutnya.
Ada beberapa hal yang menurtnya salah kaprah dan mesti dipahami untuk melaksanakan intermittent fasting yakni menggabungkan sahur dan berbuka dalam satu waktu.
Jika terus-terusan menerapkan pola ini, akibatnya tubuh tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk mencerna makanan dengan baik.
Menurut dia, jika seseorang makan terlalu dekat dengan waktu tidur, tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk mencerna makanan, yang bisa mengganggu sistem pencernaan, malah sebaliknya menambah risiko gangguan kesehatan, kata dia.
Baca Juga: Aulia - Rendi Resmi Maju di PSU Pilkada Kukar, Siap Lanjutkan Kukar Idaman
Selain itu, tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting bagi proses pemulihan tubuh. “Saat tidur, sistem metabolisme tubuh seharusnya beristirahat, tetapi jika Anda makan terlalu dekat dengan waktu tidur, tubuh terpaksa bekerja keras mencerna makanan, yang menyebabkan peningkatan hormon stres dan membuat tidur menjadi tidak berkualitas,” sebutnya.
Perlu diperhatikan juga pola makan seimbang dan tepat saat berbuka. Saat berbuka puasa, banyak orang yang terbiasa mengonsumsi makanan berat dan manis, seperti gorengan dan es-es manis.
Padahal, menurut dr Rara kebiasaan ini sangat tidak dianjurkan. Menurut dia, cara berbuka yang tepat adalah dengan makanan yang lebih alami.
“Berbuka dengan buah-buahan adalah pilihan terbaik. Bukan es buah, es campur, atau kolak pisang ya, yang benar-benar buah, semisal kurma, atau buah apapun asal jangan berlebihan juga,” katanya.
Kegunaan buah ini, tidak hanya memberi rasa manis alami, tetapi juga mengandung banyak air dan serat yang baik untuk tubuh setelah berpuasa.
Setelah berbuka, baru dilanjutkan dengan makanan berat dan menerapkan pola diet gizi seimbang, dengan porsi yang tidak berlebihan tentunya.
“Penting untuk tetap menjaga gizi seimbang, seperti nasi, lauk, sayuran, dan protein. Jangan sampai kita hanya makan makanan berat tanpa memperhatikan keseimbangan gizi,” ujarnya.
Selain mengontrol makanan saat berbuka, menjaga pola makanan saat sahur juga perlu. Sahur adalah waktu makan yang sangat penting, karena menjadi sumber energi untuk menjalani puasa seharian.
Baca Juga: Raja Juli Antoni Disorot! PSI Diduga Kuasai Kepengurusan FOLU Net Sink, Kritikan Pedas Bermunculan
Menurut dr Rara makan sahur harus dilakukan mendekati waktu subuh atau imsak, sekitar pukul 4-5 pagi, dan tidak disarankan untuk makan terlalu malam.
Jika sahur dilakukan terlalu malam, tubuh tidak punya cukup waktu untuk mencerna makanan sebelum tidur, yang bisa mengganggu pencernaan.
Untuk sahur, dia menyarankan konsumsi makanan dengan gizi seimbang, yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, sayuran, dan buah.
“Nasi boleh, tetapi porsinya tidak perlu banyak. Fokuskan pada lauk dan serat, karena serat akan membantu Anda merasa kenyang lebih lama,” ujarnya.
Selanjutnya penting untuk menghindari konsumsi makanan berminyak dan pedas. Kebiasaan mengonsumsi makanan berminyak, pedas, atau bersantan saat berbuka atau sahur sebaiknya dihindari, karena bisa mengganggu pencernaan dan menyebabkan masalah asam lambung.
Baca Juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa untuk Wilayah Balikpapan, Paser dan PPU Hari Ini, Minggu 9 Maret 2025
“Makanan berat yang berminyak atau pedas bisa menyebabkan perut kembung, asam lambung naik, dan gangguan pencernaan lainnya. Sebaiknya pilih makanan yang lebih ringan dan mudah dicerna,” sebutnya.
Kemudian, selama bulan puasa, menjaga kecukupan cairan tubuh juga sangat penting. dr Rara menyarankan untuk tetap mengonsumsi minimal 8 gelas air setiap hari, dibagi antara waktu berbuka dan sahur.
“Cairan yang cukup membantu proses metabolisme tubuh dan menjaga kesehatan tubuh selama berpuasa,” ujarnya.
Terakhir mengenai suplemen. Suplemen sebenarnya hanya diperlukan jika asupan gizi dalam makanan tidak mencukupi.
Baca Juga: Bupati Mudyat Noor Safari Ramadan di Babulu Darat, Pererat Silaturahmi & Peduli Masyarakat
“Jika pola makan sudah seimbang, suplemen tidak diperlukan. Suplemen hanya dibutuhkan jika ada kekurangan gizi tertentu, seperti defisiensi vitamin D atau B12, yang bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium, dan dengan rekomendasi dokter saja. Jika seseorang sudah dengan lengkap memenuhi gizinya maka, tidak perlu suplemen lagi,” terangnya.
Berpuasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan tubuh dan menjaga kesehatan.
Jika menjaga pola makan yang tepat dan seimbang, tubuh dapat menjalani puasa dengan baik tanpa risiko gangguan kesehatan.
“Yang jadi kesalahannya masyarakat selama ini semua makanan, mau di makan. Ditambah gorengan lagi, manis-manisan yang berlebih. Makanya masyarakat kita kalau puasa itu berat badan malah naik. Karena tiap kali buka puasa, pola makannya salah,” pungkasnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini