Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pertumbuhan Ekonomi: Bukan Hanya Angka di Atas Kertas

M
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

Advertisement

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Magister Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya

KALTIMPOST.ID, Beberapa hari lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2026 yakni sebesar 5,61 persen. Angka tersebut diketahui melampaui periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,87 persen. Mengacu pada laman bps.go.id, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional.

Salah satunya yaitu peningkatan belanja barang dan jasa terutama melalui program Makan Gizi Gratis (MBG). Lonjakan pengeluaran pemerintah, hemat saya, menjadi pemicu utama ekonomi kita semakin tumbuh. Persoalannya, apakah hanya selesai di angka, data, dan statistika yang dirilis oleh BPS? Apakah seluruh warga Indonesia merasakan dampak positif dari laju pertumbuhan ekonomi nasional?

Advertisement

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, seperti yang dilansir antaranews.com, menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut tertinggi alias mengungguli sejumlah negara G20 yang telah merilis data. Negara-negara tersebut, di antaranya yaitu termasuk China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.

Namun, sekali lagi, kita tidak begitu terhipnotis dengan paparan Airlangga. Sebab, tingginya angka pertumbuhan ekonomi nasional yang tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi omong kosong. Capaian gemilang tersebut hanya berhenti di atas kertas. Sekilas nampak mentereng tapi nyatanya berjarak dengan realitas ekonomi masyarakat hari ini.

Advertisement

Betapa masih banyak pemuda-pemudi kita yang pontang-panting ke sana ke mari mencari pekerjaan yang layak. Bahwa membeludaknya angka pengangguran adalah suatu fakta yang sukar untuk ditutup-tutupi. Kemiskinan menyelimuti sebagian warga di berbagai wilayah tanah air.

Daya beli masyarakat masih belum terangkat. Sebagian kelas menengah kehabisan akal dan cara untuk sekadar bertahan. UMKM tidak begitu menggeliat. Lantas, dengan alasan apa kita bisa membanggakan prestasi itu?

Memang, secara teoritis, mengukur PDB itu lewat lima variabel, yaitu konsumsi rumah tangga (C), investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), dan selisih antara ekspor dan impor (X-M). Angka PDB, lebih jelasnya lagi, digunakan untuk mengukur total nilai pasar barang/jasa akhir yang dihasilkan/diproduksi suatu negara dalam periode tertentu. Bisa jadi, pertumbuhan ekonomi yang melejit tersebut hanya karena didukung oleh besarnya pengeluaran pemerintah dalam program MBG. Ini hanya dugaan saya tentunya.

Data statistik menjadi pemanis untuk barangkali meninabobokan masyarakat. Bukannya pujian dan apresiasi dari warga, justru pencapaian tersebut dipertanyakan, dikritisi, dan bahkan disindir secara terang-terangan oleh sebagian warga.

Kini, publik tidak bisa begitu saja menerima mentah-mentah informasi yang datangnya dari pemerintah. Terutama jika juga ada yang mengusik rasionalitas dan hati nurani. Sebab kenyataan justru berbicara lebih nyaring dan lantang dibandingkan angka.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Astra UD Trucks Alihkan Fokus ke Truk Logistik On-Road

Astra UD Trucks Alihkan Fokus ke Truk Logistik On-Road

Astra UD Trucks beralih fokus ke segmen logistik on-road akibat ketidakpastian regulasi tambang. Simak strategi bisnis mereka tahun ini.

Mengapa Danantara Bakal Tutup 700 Perusahaan Akhir Tahun Ini?

Mengapa Danantara Bakal Tutup 700 Perusahaan Akhir Tahun Ini?

Danantara targetkan tutup 700 anak usaha BUMN hingga Desember 2026. Berfokus pada efisiensi operasional.

Data Dinilai Tak Valid, Pengamat Unmul Minta Klaim UMKM Tulang Punggung Ekonomi Dikaji Ulang

Data Dinilai Tak Valid, Pengamat Unmul Minta Klaim UMKM Tulang Punggung Ekonomi Dikaji Ulang

Pengamat ekonomi Unmul Purwadi Purwoharsojo soroti ketidakvalidan data UMKM. Minta pemerintah kaji ulang klaim tulang punggung ekonomi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer