
Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi
KALTIMPOST.ID, Hidup di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memberikan peluang dan sekaligus tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Tugas-tugas kampus, seperti halnya pembuatan makalah hingga artikel ilmiah, seolah bukan hal yang terlalu sukar dikerjakan mengingat AI mampu menjadi alat bantu. Lewat prompt atau instruksi yang jitu dan terarah, AI bisa membantu mengerjakannya. Mulai dari menawarkan pilihan ide-ide lewat brainstorming, pembuatan outline, hingga editing. Terkait hal itu, penggunaan perangkat AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude saat ini bukan lagi barang aneh, melainkan sudah menjadi andalan utama mahasiswa ketika bergelut dengan tugas-tugasnya.
Hanya saja, kemudahan yang ditawarkan mesin pintar ini ternyata pelan-pelan membuat mahasiswa terlena. Banyak yang akhirnya menjadikan AI sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas tanpa perlu susah payah membaca buku atau berpikir keras. Ketergantungan pada kecerdasan buatan berisiko mencetak pemikir instan yang kehilangan daya kritis. Otak menjadi tidak terlatih dan semakin dangkal pemikirannya. Sebab, AI selalu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mahasiswa. Sebab, AI mampu menjadi problem solver lewat prompt yang diketikkan oleh kita.
Sejalan dengan itu, Nugroho et al. (2023) mengungkapkan terjadinya perubahan kebiasaan belajar yang memotong jalan atau bypass kognitif. Dalam kondisi normal, ketika mahasiswa kesulitan memahami teori yang rumit, mereka akan mengalami fase bingung. Fase bingung ini sebenarnya bagus karena memaksa otak untuk berpikir lebih keras mencari benang merah. Masalahnya, algoritma AI dirancang untuk selalu memberikan jawaban yang rapi, meyakinkan, dan seolah-olah tanpa cacat. Alhasil, banyak mahasiswa di berbagai kampus dilaporkan mulai terbiasa menelan mentah-mentah jawaban AI tanpa merasa perlu melakukan verifikasi ulang ke jurnal aslinya.
Adalah suatu hal yang ironi ketika makalah yang dihasilkan oleh AI dengan tata bahasa dan kepenulisan yang sangat rapi justru berbanding terbalik dengan pemahaman mahasiswa tersebut yang begitu rendah. Sebab, dari awal hanya menggantungkan semua proses pembuatan makalah kepada AI. Menyuruh AI berpikir dan merampungkan semuanya dari A ke Z, dari pembuatan judul hingga daftar pustaka, misalnya. Simsalabim, abrakadabra, jadilah makalah tersebut tanpa harus berusaha payah. Tanpa harus dibaca dan dicek ulang, tanpa melalui proses verifikasi, tanpa merujuk pada literatur primer, tanpa membandingkan dengan rujukan ilmiah lainnya, tanpa dikritisi terlebih dahulu, sebagian mahasiswa menerima saja makalah pemberian AI tersebut. Sekali memasukkan prompt, jadilah makalah, lalu di-copy-paste, dan tinggal dikasih nama, kemudian diklaim hasil karyanya. Padahal, AI yang menuliskannya semua.
Mengenai hal itu, Putra et al. (2022) berpandangan bahwa pemikir yang baik adalah mereka yang selalu curiga, selalu ingin mencari referensi tandingan, dan tidak gampang percaya pada satu sumber jawaban. Sayangnya, sikap skeptis ini mulai luntur. Mahasiswa sekarang lebih gampang percaya pada ketikan mesin ketimbang membaca buku asli dari ahlinya. Mereka perlahan berubah fungsi dari pencipta gagasan yang mandiri menjadi sekadar tukang edit yang merapikan paragraf buatan mesin supaya lolos alat pendeteksi plagiasi.
Mewaspadai Efek Candu dan Pendangkalan Pikiran
Kemampuan berpikir logis, kreatif, sistematis, dan konstruktif menjadi semakin menurun secara perlahan apabila penggunaan AI semakin tanpa batas, arah, dan kontrol. Alih-alih menjadikan AI sebagai partner belajar, yang terjadi sebaliknya, justru membiarkan AI mengambil alih sepenuhnya seluruh tugas dan pekerjaan mereka. Ketergantungan yang begitu akut terhadap kecerdasan buatan tidak hanya mendangkalkan pikiran. Lebih dari itu semua, mahasiswa cenderung akan lebih pragmatis, maunya serba instan. Lebih mengutamakan hasil daripada proses. Hal itu, sekali lagi, akan menghambat proses pengembangan intelektual mahasiswa sebab akan menjadi malas untuk membaca banyak literatur dan malas memverifikasi semua informasi, data, teori, dan semacamnya yang diberikan oleh AI. Rasanya akan menjadi sulit dilakukan ketika sedari awal beranggapan serta menjadikan AI bukan sebagai mitra berpikir, melainkan sebagai pengganti dalam proses berpikir.
Pertanyaan mendasar yang kemudian menyeruak adalah ketika AI semakin mampu menyajikan jawaban, apakah mahasiswa hari ini masih bersungguh-sungguh dalam menjalani proses belajar? Mungkin pertanyaan semacam itu akan dibalas pertanyaan pula oleh sebagian mahasiswa, yaitu: jika ada jalur cepat, kenapa harus yang lambat? Jika yang ada instan, kenapa harus memilih yang sukar?
Begitulah mungkin pertanyaan sanggahan yang diberikan oleh mahasiswa yang telah terlanjur “menikmati” atau bahkan kecanduan dalam menggunakan AI. Padahal, tanpa memiliki kemampuan memilah dan memilih mana informasi yang valid dan mana yang tidak; tanpa disertai skill menyaring segala data, fakta, dan teori, apakah mengacu pada rujukan yang kredibel atau tidak, tulisan yang dihasilkan oleh AI berpotensi mengandung hoaks dan plagiarisme. Dalam hal ini, otak mahasiswa mestinya diaktifkan untuk lebih kritis memakai AI. Termasuk dengan mempertanyakan segala hal yang diberikan oleh AI. Bukan hanya sekadar mengangguk-angguk dan mengamini begitu saja.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




