
Oleh:
Ady Mancanegara
Mahasiswa Pascasarjana Hukum dan Sistem Peradilan Pidana Universitas Indonesia
PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari sebuah gagasan yang sederhana tetapi penting: negara hadir memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak. Di tengah persoalan stunting, kualitas kesehatan anak, dan tantangan pembangunan sumber daya manusia, program ini ditempatkan sebagai investasi untuk menyongsong generasi emas Indonesia.
Namun, sebuah kebijakan publik tidak hanya dinilai dari cita-cita yang melahirkannya. Kebijakan juga diuji melalui cara negara mengelolanya, mengawasinya, dan bertanggung jawab ketika terjadi persoalan.
Dalam beberapa waktu terakhir, MBG menghadapi ujian serius. Dugaan kasus keracunan di sejumlah daerah telah mengubah cara sebagian masyarakat memandang program ini. Makanan yang semula diharapkan menjadi simbol perhatian negara, bagi sebagian keluarga justru menghadirkan kekhawatiran baru.
Di titik inilah persoalan MBG tidak lagi semata-mata berbicara tentang distribusi makanan. Persoalannya telah bergeser menjadi pertanyaan tentang tata kelola, pengawasan, dan perlindungan terhadap masyarakat sebagai penerima manfaat.
Data mengenai jumlah korban memang berbeda antara satu sumber dengan sumber lainnya. Perbedaan tersebut terjadi karena metode pencatatan yang digunakan tidak selalu sama. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat ribuan korban dalam sejumlah kejadian dugaan keracunan MBG.
Sementara lembaga pemantau masyarakat sipil mencatat angka yang lebih besar berdasarkan laporan dari berbagai daerah. Perbedaan angka ini justru menunjukkan persoalan lain yang tidak kalah penting: belum adanya sistem pendataan nasional yang sepenuhnya terbuka dan terintegrasi mengenai insiden keamanan pangan dalam program MBG.
Kasus-kasus yang muncul seharusnya menjadi bahan evaluasi serius. Ketika sebuah program pemerintah menyentuh jutaan penerima manfaat, kesalahan kecil dalam sistem dapat menghasilkan dampak besar. Karena itu, pendekatan penyelesaiannya tidak cukup hanya mencari siapa yang melakukan kesalahan teknis di lapangan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




