
Oleh:
Bonar Hutapea
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara. Peminat Kajian Psikologi Lingkungan dan Psikologi Politik.
KETIKA asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali datang, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia sebenarnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Memakai masker, mengurangi aktivitas di luar rumah, memantau kualitas udara, mengubah jadwal kegiatan, dan membatasi aktivitas anak-anak di ruang terbuka. Setelah berulang kali menghadapi situasi serupa, orang belajar melindungi dirinya.
Dalam psikologi, perubahan perilaku semacam itu merupakan respons adaptif terhadap ancaman lingkungan. Penelitian Berestycki dan Chen tahun 2026 menggunakan data lokasi telepon pintar dalam skala besar dan menemukan bahwa peningkatan paparan asap berkaitan dengan berkurangnya mobilitas, lebih banyak waktu di rumah atau ruang tertutup, serta perubahan aktivitas kerja. Artinya, asap bukan hanya memengaruhi tubuh.tapi juga ikut mengatur bagaimana manusia menggunakan ruang dan menjalani keseharian.
Namun, ada satu hal yang penting dibedakan: beradaptasi tidak sama dengan menerima. Masyarakat yang memakai masker bukan berarti masyarakat yang menganggap asap sebagai sesuatu yang wajar. Mereka sedang melindungi diri dari sesuatu yang tetap mereka anggap tidak semestinya terjadi. Seseorang dapat mengubah perilaku sekaligus tetap marah, kecewa, memprotes, dan menuntut pemerintah bekerja lebih efektif. Adaptasi adalah respons terhadap keadaan; ia tidak otomatis merupakan persetujuan terhadap keadaan tersebut.
Justru karena manusia mampu belajar, pengalaman yang berulang dapat membentuk kebiasaan. Pada awalnya, kualitas udara yang buruk mungkin membuat orang cemas dan segera mencari informasi. Setelah beberapa kali mengalaminya, orang mungkin sudah mengetahui apa yang harus dilakukan tanpa banyak berpikir. Anak tidak perlu lagi diberi tahu mengapa kegiatan luar ruang dibatasi. Orang tua sudah mengetahui kapan jendela perlu ditutup. Sekolah sudah memiliki prosedur.
Secara psikologis, ini menunjukkan pembelajaran. Secara sosial, perilaku tersebut dapat menjadi kebiasaan bersama. Penelitian tentang perilaku protektif terhadap asap menunjukkan bahwa persepsi subjektif terhadap paparan, apa yang dilihat, dicium, dan dirasakan seseorang, berhubungan kuat dengan keputusan untuk mengambil tindakan perlindungan. Dengan kata lain, manusia tidak merespons angka kualitas udara semata; mereka juga merespons bagaimana ancaman itu dipersepsikan.
Di sinilah kita perlu membedakan adaptasi, normalisasi, dan penerimaan. Adaptasi menjawab bagaimana saya tetap aman. Normalisasi terjadi ketika sesuatu yang berulang mulai terasa biasa. Penerimaan lebih jauh lagi, ketika keadaan tersebut dianggap dapat diterima. Ketiganya tidak sama. Masyarakat dapat terbiasa menghadapi asap secara praktis, tetapi tetap menolak keadaan yang membuat mereka harus terus melakukannya.
Keberulangan juga dapat mengubah hubungan manusia dengan tempat. Rumah yang biasanya menjadi ruang kehidupan dapat berubah menjadi ruang perlindungan. Taman, lapangan, jalan, dan ruang terbuka yang seharusnya mendukung aktivitas sosial justru dihindari. Lingkungan tidak lagi hanya menjadi tempat manusia hidup melainkan mulai dibaca berdasarkan tingkat ancamannya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

