Oleh:
Sihabuddin
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi
Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta
PERNAH viral seorang perempuan pelanggan ojek online di Jakarta yang begitu kesel dipanggil mbak hingga memberikan bintang satu kepada pengemudi ojek online tersebut dengan alasan di Jakarta jadi panggil Kak atau Non. Sebenarnya kasus Perempuan tidak mau dipanggil mbak di Jakarta bukan cuman sekali dua kali.
Bahkan banyak perempuan di Jakarta yang tidak mau dipanggil mbak karena di Jakarta panggilan mbak makna konotasinya adalah untuk asisten rumah tangga sehingga perempuan di Jakarta merasa disamakan dengan ART atau pembantu jika dipanggil mbak. Sebab para ART yang dari Jawa biasanya dipanggil mbak sehingga perempuan di Jakarta tidak mau dipanggil mbak. Sebenarnya tidak hanya di Jakarta perempuan yang tidak mau dipanggil mbak, perempuan di daerah lain banyak yang tidak mau dipanggil mbak dengan alasan bukan orang Jawa.
Di suku Jawa khususnya di DI Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur sapaan mbak merupakan sapaan hormat kepada perempuan baik yang lebih tua maupun lebih muda. Sapaan ini menjadi sapaan sehari-hari khususnya untuk yang lebih tua. Jika perempuan yang lebih tua apalagi dalam keluarga tidak dipanggil mbak maka dianggap tidak sopan.
Melihat kasus yang terjadi di Jakarta antara pelanggan ojol dengan pengemudi ojol maka tidak ada yang salah dan tidak ada yang lebih benar di antara keduanya. Jika harus divonis benar dan salah maka keduanya sama-sama salah dan sama-sama benar. Pelanggan ojol benar tidak mau dipanggil mbak karena memang bukan orang Jawa, pengemudi ojol yang kemungkinan besar orang jawa juga benar memanggil pelanggannya mbak karena di Jawa itu sapaan hormat kepada Perempuan.
Pelanggan ojol salah karena tidak mau memahami siapa pengemudinya yang kemungkinan besar orang Jawa dan di Jawa sapaan itu sebuah penghormatan, pengemudi ojol juga salah karena tidak memahami budaya Jakarta yang budaya aslinya adalah budaya Betawi yang memiliki sapaan untuk perempuan yang berbeda dengan di Jawa.
Adanya sapaan untuk perempuan di Indonesia karena seperti halnya pada umumnya budaya Timur tidak sopan memanggil seseorang khususnya yang lebih tua langsung menyebut namanya. Tentu hal ini berbanding terbalik dengan budaya Barat.
Di Amerika Serikat memanggil orang yang lebih tua dengan menyebut namanya langsung hal biasa, namun akan menjadi sangat tidak sopan jika diterapkan di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari acara pencarian bakat di televisi Indonesia dan Amerika Serikat. Di semua acara pencarian bakat di televisi Indonesia tidak ada peserta yang langsung menyebut juri dengan namanya langsung karena dianggap tidak sopan, seperti Bunda Maya, Teh Oca, Mas Anang, Kak BCL, Bang Judika dan lain-lain. Hal ini berbeda dengan America`s Got Talent yang mana pesertanya bahkan seorang anak kecil memanggil jurinya dengan langsung menyebut Namanya seperti Simon, Sofia, Heidi dan lainnya.
Sebagai negara yang terdiri dari banyak budaya maka tidak heran jika Indonesia memiliki banyak sekali kata sapaan sesuai dengan usia dan gender. Sapaan itu mengikuti bahasa yang berlaku di budaya tersebut. Untuk Perempuan selain kata “Mbak” yang biasa digunakan di suku Jawa, ada kata “Teteh” yang biasa digunakan di suku Sunda.
Seperti halnya suku Sunda meski sama-sama tinggal di Pulau Jawa, suku Betawi yang mendiami Jakarta dan sekitarnya memiliki panggilan berbeda untuk perempuan yaitu “Mpok”, hal ini karena secara budaya Sunda dan Betawi berbeda dengan Jawa. Suku Madura yang mendiami pulau Madura dan Tapalkuda Jawa Timur juga memiliki sapaan berbeda untuk kakak Perempuan, orang Madura khususnya Pamekasan memanggil “Mpuk” untuk saudara perempuan yang lebih tua.
Suku Minang yang mendiami Sumatera Barat memanggil “Uni” untuk kakak perempuan. Sedangkan tetangganya suku Batak memanggil “Eda” untuk sesama perempuan dan “Angkang Boru” untuk kakak perempuan. Suku Melayu yang mendiami pesisir Sumatera dan Kalimantan menyebut “Kakak” untuk saudara perempuan yang lebih tua. Suku Aceh yang mendiami Ujung Barat Indonesia menyebut “Cupo” untuk kakak perempuan.
Suku Bugis di Pulau Sulawesi memanggil “Makkunrai” untuk kakak perempuan, sedangkan suku Sasak di pulau Lombok memanggil “Inaq Kake” untuk kakak perempuan. Berbeda dengan di Bali kakak Perempuan biasa dipanggil “Jegeg”. Di Ambon panggilan untuk Perempuan tergantung komunitas agamanya untuk kalangan Islam dipanggil “Caca” sedangkan untuk yang Kristen dipanggil “Usy”. Selain itu, tentu masih banyak sekali panggilan untuk Perempuan di Indonesia sesuai dengan latar belakang sukunya.
Dari banyaknya kata panggilan untuk orang lain sesuai dengan usia dan gender di Indonesia. Maka pentingnya pemahaman komunikasi antarbudaya di setiap individu agar tidak terjadi lagi masalah-masalah sepele namun bikin greget karena perbedaan budaya seperti kasus yang terjadi antara pelanggan dan pengemudi ojol di Jakarta.
Pentingnya memahami komunikasi antarbudaya dalam kehidupan sehari-hari sehingga timbulah saling pengertian antara komunikator dengan komunikan yang berbeda budaya. Jadi tidak akan ada kesalahan-kesalahan komunikasi lagi meski antara komunikator dan komunikan berbeda budaya karena sudah saling pengertian di antara keduanya. Setidaknya sadar akan adanya perbedaan budaya meski belum tahu letak perbedaannya dimana. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan