KALTIMPOST.ID, Apakah menjadi seorang pengusaha itu ada keterkaitan erat dengan faktor genetik/keturunan, bakat, dan atau latar belakang pendidikan? Apakah modal utama menjadi seorang entrepreneur itu adalah uang?
Kedua pertanyaan itu saya rasa menjadi cukup penting untuk lebih diketahui jawabannya mengingat sebagian dari kita belum cukup punya keberanian dan mental yang kuat untuk menceburkan diri ke arena bisnis.
Apalagi, kalau boleh berterus terang, bangsa ini membutuhkan lebih banyak lagi pengusaha-pengusaha muda sebagai bukan sebatas aktor pembangunan ekonomi nasional. Lebih dari itu sebagai stimulator dan akselerator berbagai macam kemajuan di berbagai aspek kehidupan, khususnya ekonomi.
Apalagi, sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebagian besar perguruan tinggi kita atau bahkan seluruh perguruan tinggi kita, belum mampu memberikan jaminan seluruh lulusannya akan terserap di dunia kerja. Dalam hal ini, mencetak lebih banyak pengusaha muda diharapkan sebagai jalan keluarnya.
Selaku penulis, saya sendiri terjun ke dalam dunia bisnis bukan tanpa alasan. Usut punya usut, ketika saya mencoba menelisik lebih lanjut, ternyata faktor lingkungan dan keluarga menjadi salah satu pemicunya. Saya adalah pemuda yang lahir, tumbuh, dan berkembang di Kampung Batik Klampar, sebuah kampung batik terbesar yang terletak di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.
Kampung tersebut, bahkan bisa dikatakan penghasil batik terbesar di wilayah Madura. Dari kecil, saya senantiasa mengamati banyak warga desa yang berkecimpung sebagai pengrajin batik dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik. Ratusan pelaku usaha batik tersebar di berbagai titik. Bahkan, ayah dan almarhum kakek saya sendiri merupakan pengusaha batik.
Sebab itulah, tidak bisa dipungkiri lagi, hal itu menjadi privilege tersendiri bagi saya. Terutama untuk lebih mengenal dunia wirausaha sejak dini. Transfer pengetahuan bisnis dari ayah ke saya berjalan secara alamiah. Kadang lewat obrolan-obrolan sederhana di meja makan. Saya pun mengamati bagaimana cara ayah saya berdagang. Ringkas cerita, lambat laun, sedikit banyak saya memiliki bekal pengetahuan mengenai dunia wirausaha. Khususnya terkait usaha batik tulis Madura.
Selain itu, saya pun kerap diberikan kepercayaan oleh ayah saya untuk mengelola usaha batik yang telah dirintis beliau. Ketertarikan dan minat saya menekuni dunia wirausaha semakin meningkat ketika pengetahuan, ilmu, dan pengalaman mulai bertambah. Apalagi, program studi saat kuliah S1 dan S2, tidak jauh-jauh dari ekonomi dan bisnis. Tentu, saya bisa menerapkan apa yang saya pelajari dan tekuni di dunia kampus lewat UMKM batik di kampung saya.
Itulah sedikit cerita saya sebagai pembuka bahwa setiap orang memiliki alasan masing-masing dalam menekuni dunia usaha. Lalu, terkait dua pertanyaan di paragraf pertama tadi, bahwa faktor genetik dan lingkungan itu memang mempengaruhi.
Tapi, bukan menjadi faktor dominan. Sebab, hemat pandangan saya, semua kembali kepada kita sebagai aktornya. Apakah bersedia pontang-panting, berdarah-darah, untuk membangun atau mengembangkan usaha. Sebab, memang ada sejumlah fakta bahwa tidak semua anak pengusaha itu otomatis menjadi pengusaha.
Tidak semua orang yang tinggal dan lahir di lingkungan yang mayoritasnya adalah pengusaha itu otomatis terbawa arus menjadi pengusaha juga. Seperti halnya tidak semua anak kiai itu pasti menjadi kiai. Sama halnya tidak semua yang tinggal di lingkungan “gelap dan kotor” itu otomatis menjadi amoral. Semua itu, sekali lagi, kembali pada individunya masing-masing. Makanya, ada faktor internal dan eksternal yang menyebabkan seseorang dengan sukarela dan senang hati menjadi seorang pengusaha.
Apalagi, ada visi dan misi yang telah ditetapkan sebelumnya. Ada cita-cita besar di balik keputusannya mengarungi dunia bisnis. Bukan sebatas sebagai lahan mengais rezeki. Lebih dari itu, untuk menolong sesama dengan merekrut sebanyak-banyaknya karyawan untuk diberdayakan. Dengan begitu, pengusaha tersebut menjadi bagian solusi untuk menekan angka pengangguran dan bahkan memutus rantai kemiskinan di suatu daerah misalnya.
Selanjutnya, terkait modal utama yang wajib dimiliki oleh seorang entrepreneur itu apakah melulu harus berbentuk materi (uang)? Jika pertanyaan itu dilontarkan pada saya, maka jawabannya adalah Tidak. Seorang pengusaha, tidak harus memiliki sejumlah uang dengan nominal tertentu untuk memulai usaha. Seakan tanpa modal uang di kantong/rekening pribadi semua pintu tertutup. Jika demikian adanya, maka ruang gerak calon pengusaha muda akan semakin sempit.
Belum memulai sudah dipatahkan oleh kenyataan. Kendatipun kita tidak bisa memungkiri bahwa segala sesuatunya membutuhkan uang, tapi percayalah tidak semua harus ada dalam genggaman kita untuk memulainya. Kita bisa memutar otak tetap berwirausaha tanpa modal uang. Bagaimana caranya?
Silakan telusuri mesin pencari, tanyakan Mbah Google. Tidak cukup saya jabarkan semua di sini. Intinya modal dalam berwirausaha itu tidak harus berbentuk uang. Modal itu sebenarnya lebih luas lagi mencakup modal intelektual (ilmu, pengetahuan, skill), modal sosial (networking), modal emosional (mentalitas, optimisme, dsb).
Dan berbisnis, sekali lagi, itu yang paling pokok adalah memiliki niat kokoh dan kemauan untuk memulainya. Tanpa banyak cincong, tanpa banyak basa-basi, kita memang harus sedikit demi sedikit melangkahkan kaki. Apabila tidak ada uang sama sekali, bukankah kita bisa berkolaborasi dan bersinergi dengan teman-teman kita yang kebetulan berdompet tebal?
Dalam hal ini, kemampuan bernegosiasi menjadi penting untuk memuluskan langkah kita. Seperti halnya lewat gagasan berupa proposal bisnis kepada teman-teman kita, meyakinkan mereka bahwa berinvestasi di usaha kita memiliki prospek cerah dalam jangka panjang. Begitulah seninya, yakni bagaimana mempersuasi mereka dengan rancangan bisnis yang kita tawarkan. Sepintas nampaknya simpel dan sederhana.
Tapi, dalam eksekusinya kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa bisa jadi proposal yang kita tawarkan ditolak mentah-mentah atau bahkan ditertawakan. Tapi bukankah itu sebagai langkah awal untuk naik level? Bukankah dari penolakan itu kita mendapatkan pengalaman berharga?
Kemudian, terkait modal spiritual, maksudnya adalah kita mesti melibatkan Tuhan dalam setiap langkah-langkah kita. Artinya, senantiasa meminta petunjuk dan berdoa agar dibukakan pintu rezeki dari segala arah. Termasuk dalam urusan berwirausaha. Sebab, sebagai manusia yang beriman, kita tidak bisa menepis keterlibatan Tuhan sebagai penentu nasib dan masa depan kita.
Dalam hal ini, termasuk juga urusan bisnis yang sedang kita jalankan. Boleh dikatakan modal spiritual ini bisa lewat keistikamahan kita membaca Surah Al-Waqiah, sedekah, zikir pagi dan sore, sholat dhuha, dan semacamnya. Modal spiritual bisa dikatakan upaya kita untuk melakukan “ikhtiar langit”. Tentu selain “ikhtiar bumi” seperti bekerja keras yang telah kita laksanakan.
Lebih lanjut lagi, pengusaha sukses tidak harus lahir dari keluarga yang mapan. Tidak harus mengenyam pendidikan tinggi hingga doktoral. Sebab, di lapangan, ujiannya itu sama sekali berbeda. Betapa banyak orang yang mengajarkan ilmu-ilmu ekonomi dan bisnis tapi sama sekali tidak pernah bersentuhan secara langsung menjadi pelaku utamanya.
Artinya, sebatas teori di atas kertas. Betapa banyak mahasiswa lulusan ekonomi dan bisnis, dengan segudang ilmu dan pengetahuannya, tetapi belum pernah berjualan. Belum sempat mencicipi dunia dagang. Ilmu-ilmu yang diperoleh seolah hilang seketika ketika dihadapkan pada problem di lapangan. Artinya, apa?
Bukan berarti kuliah itu tidak penting. Yang saya tekankan di sini adalah bahwa berwirausaha itu adalah praktik. Bukan sebatas teori. Maksudnya, harus dikerjakan dan dialami langsung oleh pelakunya. Bukan hanya belajar dari pengalaman yang diserap dari bacaan. Sebab, kadang ada jarak yang begitu lebar antara teks dan realitas. Apalagi, zaman sekarang, jauh berbeda. Serba cepat dan canggih.
Di lain sisi, kita masih terpasung oleh teori-teori lama yang kadang kala sama sekali tidak relevan dengan situasi dan kondisi zaman. Apalagi teorinya itu berangkat dari kenyataan puluhan atau bahkan ratusan tahun silam yang pastinya sangat berbeda jauh dengan situasi mutakhir. Semisal, apakah di tahun 1950 telah dikenal konsep digital marketing? Sudah diketahui perihal kecerdasan buatan? Tentu jawabannya belum.
Betapa banyak pengusaha hebat yang lahir bukan dari kampus-kampus mentereng. Sebagian dari mereka sama sekali tidak mengenyam pendidikan tinggi. Tapi, bedanya adalah mereka belajar dari pengalaman, menjadi mahasiswa “Universitas Kehidupan”. Sehingga, tak heran jika pencapaiannya begitu luar biasa.
Sebab, mereka berani keluar dari zona nyaman, berani berpikir terbuka, berani mengambil risiko, adaptif, kreatif, dan inovatif. Ilmu yang didapatkan oleh pengusaha-pengusaha sukses tersebut berasal dari luar kelas. Dalam hal ini, bukan berarti saya mengimbau seluruh mahasiswa untuk kabur atau drop out. Poinnya adalah masih banyak hal yang harus dipelajari di luar kelas.
Ilmu dan pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan urusan bisnis, kadang bisa kita peroleh di pasar, terminal, stasiun, taman kota, dan berbagai tempat selain ruang kelas. Di situlah kepekaan dalam membaca dan mengambil peluang dilatih. Termasuk bagaimana mempelajari denyut nadi kehidupan masyarakat sebagai riset awal sebelum memulai berwirausaha.
Pada akhirnya, saya harus segera memungkasi catatan ini. Bahwa benang merah dari uraian yang cukup panjang ini adalah bahwa dalam setiap diri kita memiliki kesempatan dan peluang yang sama dalam berwirausaha. Mungkin hanya start-nya saja yang berbeda.
Tapi itu bukan kendala utama. Yang menjadi persoalan utama adalah pola pikir dan mindset kita bagaimana memandang dunia wirausaha itu sendiri. Terutama mengenai modal utama yang harus dimiliki oleh setiap pengusaha itu bukan harus berbentuk uang.
Kepiawaian dan kecerdikan mengendus peluang dalam berjejaring menjadi salah satu modal utama juga. Dan jauh lebih penting dari itu adalah kemauan keras, mentalitas, konsistensi, dan daya juang yang tiada habisnya. Begitulah kira-kira. Dan tanpa maksud menggurui, sebenarnya saya sendiri sedang mencoba menerapkan apa yang sedang saya tulis ini.
Artinya, mari bersama-sama untuk menghancurkan tembok penghalang yang ada dalam pikiran kita sendiri. Bebaskan dan lepaskan seluruh belenggu itu. Percayalah pada kemampuan kita sendiri. Asahlah kemampuan itu. Dan jaga serta rawat optimisme dalam diri kita masing-masing. (*)
*) Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Pelaku UMKM Batik Tulis Madura
Editor : Almasrifah