Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Badai PHK Global Diperkirakan Berlanjut Hingga 2030, Didorong oleh AI

A
Penulis: Ari Arief❯

Ilustrasi PHK
Ilustrasi PHK


Advertisement

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Tahun 2025 ditandai oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masif, mulai dari sektor ritel hingga teknologi. Berdasarkan proyeksi dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF), tren pengurangan karyawan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2026, bahkan meluas sampai 2030.

Pendorong utama PHK ini adalah peningkatan masif dalam penggunaan Teknologi Kecerdasan Buatan (AI), ditambah dengan ketidakpastian kondisi ekonomi global.

Survei terbaru WEF mencatat bahwa 41 persen perusahaan di seluruh dunia mengindikasikan rencana untuk mengurangi jumlah tenaga kerja secara signifikan hingga tahun 2030. Fenomena ini sejalan dengan semakin banyaknya pekerjaan yang dapat diambil alih atau digantikan oleh sistem robotik dan otomatisasi.

Strategi Perusahaan dan Peran AI Generatif

Baca Juga: Perampingan Historis Amazon, Lebih dari 14.000 Karyawan Terdampak PHK, Insinyur Jadi Target Utama

Advertisement

Dalam laporannya, Future of Jobs Report, WEF memaparkan strategi yang dianut ratusan perusahaan besar untuk menghadapi disrupsi teknologi ini. Dari perusahaan yang disurvei, 77 persen menyatakan akan fokus pada program peningkatan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling) keterampilan pekerja yang ada dalam periode 2025–2030, tujuannya agar karyawan dapat bekerja lebih efektif bersama AI.

"Perkembangan pesat AI dan energi terbarukan saat ini tengah merombak pasar tenaga kerja, memicu lonjakan permintaan untuk berbagai peran spesialis atau berorientasi teknologi, sekaligus menurunkan kebutuhan akan pekerjaan lain, seperti desainer grafis," ujar WEF.

Managing Director WEF, Saadia Zahidi, secara khusus menyoroti peran AI generatif—teknologi yang mampu menciptakan teks, gambar, dan konten orisinal—dalam mendefinisikan ulang tugas-tugas di berbagai sektor.

Beberapa jenis pekerjaan diperkirakan akan mengalami penurunan permintaan tercepat dalam beberapa tahun ke depan, baik karena AI maupun faktor lain, termasuk petugas layanan pos, sekretaris eksekutif, dan petugas penggajian.

Laporan WEF menunjukkan bahwa masuknya desainer grafis dan sekretaris hukum ke dalam daftar sepuluh pekerjaan yang paling cepat menurun—untuk pertama kalinya dalam sejarah laporan Future of Jobs—mencerminkan peningkatan kemampuan GenAI dalam menyelesaikan tugas-tugas berbasis pengetahuan.

Permintaan Keterampilan AI Meningkat Tajam

Di sisi lain, permintaan terhadap keterampilan terkait AI melonjak. Data menunjukkan hampir 70 persen perusahaan berencana merekrut tenaga kerja baru dengan kemampuan merancang alat dan mengembangkan AI.

Sementara 62 persen lainnya berencana menambah pekerja yang mahir dalam berkolaborasi dan bekerja berdampingan dengan AI, menurut survei yang dilaksanakan tahun lalu.

Meski laporan ini menyiratkan nada optimisme bahwa AI generatif berpotensi lebih besar untuk meningkatkan keterampilan manusia melalui kolaborasi manusia-mesin daripada sekadar menggantikan pekerja—terutama untuk keterampilan yang berpusat pada manusia—realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda, namun faktanya, banyak pekerja telah merasakan dampaknya.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Dropbox dan Duolingo, telah secara eksplisit menyebut teknologi AI sebagai alasan utama dilakukannya PHK.(*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Harga TBS Sawit Kaltim Terkoreksi, Disbun Sebut CPO Global Jadi Acuan   

Harga TBS Sawit Kaltim Terkoreksi, Disbun Sebut CPO Global Jadi Acuan  

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kaltim mengalami koreksi pada penetapan harga periode kedua September 2026.

Sawit, Karhutla, dan Keadilan Persepsi Global

Sawit, Karhutla, dan Keadilan Persepsi Global

Tulisan ini membongkar bias global terhadap sawit, mengungkap fakta efisiensi lahan, serta mengajak masyarakat kritis menilai karhutla.

Imbas Demam AI, Produsen Diprediksi Ogah Bikin HP Murah Mulai 2030

Imbas Demam AI, Produsen Diprediksi Ogah Bikin HP Murah Mulai 2030

Booming AI tekan industri HP murah. Segmen harga di bawah Rp3,5 juta diprediksi menyusut hingga 40% pada 2030 akibat imbas RAMageddon.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer