Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pengamat Ekonomi: Tahun Depan Lebih Banyak Tantangan, Batu Bara Kaltim Terancam Terjun Bebas

Raden Roro Mira Budi Asih
PRIORITAS: Masyarakat diminta untuk menperketat pengelolaan keuangan dengan fokus pada kebutuhan prioritas serta memperkuat tabungan.
PRIORITAS: Masyarakat diminta untuk menperketat pengelolaan keuangan dengan fokus pada kebutuhan prioritas serta memperkuat tabungan.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Optimisme ekonomi 2026 dinilai perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Pengamat Ekonomi Kalimantan Timur Purwadi Purwoharsojo menilai, tantangan ekonomi ke depan jauh lebih besar dibandingkan peluang, terutama akibat tekanan global dan ketergantungan ekonomi daerah pada sektor komoditas.


Advertisement

Purwadi menyoroti proyeksi nilai tukar rupiah yang dipatok hingga Rp17.000 per dolar AS sebagai sinyal serius memburuknya tekanan eksternal. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak sejalan dengan ambisi pertumbuhan ekonomi tinggi.

“Omong kosong kalau mau bicara pertumbuhan ekonomi 6-7 persen, tapi nilai tukar rupiah babak belur. Tidak bisa begitu,” tegas akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulawarman itu.

Dia menilai, pelemahan ekonomi global tak bisa dianggap remeh. Ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat, kegelisahan ekonomi Eropa, penurunan permintaan batu bara dari Tiongkok, hingga perubahan kebijakan industri otomotif global menjadi faktor yang sulit dikendalikan dari dalam negeri.

Advertisement

“Eropa, Amerika, Tiongkok, sampai Jepang itu sebenarnya sedang gelisah dengan ekonomi mereka sendiri. Dampak global itu tidak bisa dikontrol dan tidak bisa dipertimbangkan sebelah mata,” ujarnya.

Bagi Bumi Etam, risiko itu berlipat ganda karena struktur ekonomi yang sangat bergantung pada batu bara. Purwadi menyebut, hampir separuh ekonomi Kalimantan, bahkan di beberapa wilayah bisa mencapai 50-60 persen itu ditopang hasil ekstraktif.

“Kalau India dan Tiongkok menutup ekspor dari kita, itu bisa terjun bebas. Harga batu bara sempat turun, dan itu sinyal yang harus diwaspadai,” katanya.

Advertisement

Selain batu bara, ancaman juga datang dari isu lingkungan global. Purwadi mengingatkan potensi sanksi internasional terhadap komoditas sawit Indonesia jika kembali dianggap bermasalah secara lingkungan.

“Isu lingkungan itu sudah mendunia. Standarnya sama di Eropa dan belahan dunia lain. Itu bisa jadi pukulan berikutnya,” ujarnya.

Dengan kombinasi tekanan global, nilai tukar yang rapuh, dan ketergantungan komoditas, Purwadi menilai ekonomi 2026 membutuhkan kewaspadaan ekstra, bukan sekadar optimisme tanpa fondasi. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Insulin Bukan Bikin Ketergantungan, Pabrik Dalam Tubuh yang Bisa Melemah

Insulin Bukan Bikin Ketergantungan, Pabrik Dalam Tubuh yang Bisa Melemah

Penggunaan jarum insulin bukan ingin membuat pasien yang terpapar diabetes ketergantungan, namun tubuh sudah tak mampu memproduksi maksimal.

Cegah Kecanduan Gawai Sejak Dini, Poltekkes Kemenkes Kaltim Berdayakan Keluarga di Lok Bahu   

Cegah Kecanduan Gawai Sejak Dini, Poltekkes Kemenkes Kaltim Berdayakan Keluarga di Lok Bahu  

Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Kaltim melaksanakan kegiatan pemberdayaan keluarga dalam menurunkan ketergantungan gadget.

Harga Pangan di PPU Awal November Variatif, Cabai dan Daging Sapi Bertahan Tinggi

Harga Pangan di PPU Awal November Variatif, Cabai dan Daging Sapi Bertahan Tinggi

Pantauan harga pangan bervariatif, cabai dan daging sapi tinggi. Stok aman, Disketapang pastikan pasokan terkendali.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer