732 Hektare Lahan Terbakar dan 8 Ribu Warga Kena ISPA, Samarinda Perpanjang Tanggap Darurat

KALTIMPOST.ID- Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda resmi memperpanjang masa tanggap darurat kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama 28 hari ke depan. Kebijakan perpanjangan tahap keempat ini berlaku mulai 20 Oktober hingga 16 November 2026 menyusul belum berakhirnya ancaman bencana di Kota Tepian.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso menyampaikan, keputusan ini diambil setelah memberikan masukan kepada Wali Kota Samarinda berdasarkan data cuaca BMKG. Curah hujan normal diprakirakan baru mulai turun pada pertengahan November 2026 meski dengan intensitas yang masih tergolong rendah.
"Yang pertama kita memberikan masukan kepada Pak Wali Kota Samarinda berkaitan dengan rencana perpanjangan tanggap darurat kekeringan dan karhutla yang keempat ya. Dan didasari dengan beberapa fenomena di lapangan ditambah lagi dari perkiraan cuaca yang disampaikan oleh BMKG," ujar Suwarso, Rabu (21/10).
Baca Juga: KONI Kaltim Verifikasi 9.111 Atlet Porprov VIII 2026, 521 Tertolak Akibat Bermasalah KTP
Selain faktor cuaca, luasan kebakaran lahan juga menjadi pertimbangan krusial. Suwarso menjelaskan, meski sebaran titik api di tingkat kecamatan mulai terkonsentrasi di Kecamatan Sambutan, Palaran, dan Samarinda Utara, dampak luasan kebakarannya justru makin melebar. Satu lokasi kebakaran bisa menghanguskan 20 hingga 23 hektare lahan dengan beberapa titik api sekaligus.
Secara kumulatif, total kebakaran lahan di Samarinda telah mencapai 300 kejadian dengan area terbakar seluas 732,80 hektare. Di sisi lain, krisis suplai air bersih dari Perumda Tirta Kencana juga masih mendera warga akibat intrusi air laut, terutama pada instalasi pengolahan air (IPA) Pulau Atas, Selili, Bantuas, Palaran, dan Kalhol.
Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga, distribusi air bersih darurat terus disalurkan oleh BPBD bersama pihak terkait. "Sampai dengan kemarin itu distribusi air kita itu 486 ritase dengan jumlah liternya itu 2.497.500 liter. Air dari IPA yang terdampak intrusi tetap dialirkan untuk MCK, sementara air bersih kami distribusikan untuk kebutuhan konsumsi," jelasnya.
Baca Juga: Kenapa Kabut Asap Samarinda Makin Pekat Tiap Pagi? Begini Penjelasan BPBD Kaltim
Pertimbangan lain adalah penurunan kualitas udara yang fluktuatif di stasiun DLH Samarinda Taman Segiri dan BMKG APT Pranoto, yang kini masuk kategori tidak sehat. Paparan kabut asap tersebut berdampak langsung pada sektor kesehatan masyarakat, dari data Dinas Kesehatan Samarinda mencatat 8.193 orang telah terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
"Dengan demikian kita bisa menggerakkan seluruh pilar dengan kondisi tanggap darurat ini sehingga penanganannya bisa lebih cepat. Setiap hari pemadaman terus kita lakukan walaupun harus berlangsung sampai dini hari hingga pagi hari demi menjaga pemukiman dan kesehatan," pungkasnya. (riz)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




