
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pemadaman listrik yang berulang di Samarinda membuat seorang pedagang es krim, Gissel, harus menanggung kerugian besar. Produk es krim yang ia buat berisiko meleleh setiap kali aliran listrik terhenti.
Gissel mengaku pemadaman di lokasi usahanya terjadi sangat sering, yakni dalam rentang dua hingga tiga hari sekali. Kondisi ini mengancam keberlangsungan usahanya karena es krim membutuhkan pendingin konstan untuk tetap layak jual.
Baca Juga: Berdamai dengan Realitas: Menurunkan Ekspektasi Kuliah Bukan Berarti Kalah
Sebagai bentuk protes, Gissel mendatangi kantor UP3 PLN Samarinda pada Selasa (3/11). Ia membawa contoh es krim dagangannya untuk menunjukkan langsung dampak nyata pemadaman listrik terhadap produk usahanya.
"Saya ke sini mau komplain karena setiap dua hari sekali, tiga hari sekali, itu selalu mati lampu. Saya bawa es krim saya ke sini supaya bisa dilihat sendiri," ujar Gissel.
Baca Juga: Profil Irjen Ahrie Sonta Nasution, Mantan Ajudan Prabowo yang Muncul dalam Isu Penyadapan Presiden
Dalam sehari, Gissel mampu memproduksi sekitar 540 es krim dengan nilai total mencapai Rp 5,4 juta. Ia mengaku sudah mengalami kerugian akibat pemadaman listrik sebanyak empat kali yang ia sadari sepenuhnya.
Gissel menegaskan kedatangannya bukan untuk melakukan demonstrasi, melainkan menuntut hak sebagai pelanggan yang rutin membayar tagihan. Ia menuntut penjelasan resmi dari PLN mengenai penyebab pemadaman yang sering terjadi.
"Saya hanya menuntut hak saja. Kita membayar listrik sampai berjuta-juta, tetapi sedikit-sedikit mati lampu. Tolong kasih penjelasan supaya kami sebagai masyarakat tidak berasumsi macam-macam," pungkasnya. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





