Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Siapa Pemilik Aqua Sekarang? Ini Asal-Usul dan Perjalanan: Dari Sumur Bor Bekasi Jadi Merek Global Milik Danone

Uways Alqadrie • Kamis, 23 Oktober 2025 | 13:56 WIB

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi
KALTIMPOST.ID, JAKARTA- Produk air minum dalam kemasan (AMDK) dengan merek Aqua sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Nama “Aqua” bahkan sering digunakan sebagai sebutan umum untuk menyebut air kemasan, tak peduli mereknya apa. 

Namun, di balik popularitasnya, sedikit yang mengenal sosok di balik merek legendaris ini: Tirto Utomo, atau nama aslinya Kwa Sien Biauw.

Dari Wonosobo ke Jakarta

Tirto lahir di Wonosobo dari keluarga peternak sapi perah. Ia menempuh pendidikan dasar di kampung halamannya sebelum melanjutkan ke Magelang dan kemudian ke HBS di Semarang dan Malang, sekolah menengah bergengsi pada masa kolonial.

Aktif di organisasi pemuda Tionghoa Cung Lien Hui, ia bertemu dengan perempuan yang kelak menjadi istrinya, Kwee Gwat Kien (Kienke), putri seorang bankir The Javasche Bank — kini Bank Indonesia.

Setelah menamatkan pendidikan hukum di Universitas Gadjah Mada dan melanjutkan ke Universitas Indonesia, Tirto sempat bekerja sebagai wartawan Jawa Pos dan Pantjawarta (dulu Sin Po). Di sinilah ia mulai menggunakan nama samaran “A Kwa”, yang kelak menginspirasi nama Aqua.

Ide Besar dari Masalah Sepele

Gagasan mendirikan pabrik air minum bermula dari kejadian sederhana. Saat bekerja di Pertamina sebagai kepala divisi hukum dan penjualan luar negeri, Tirto sempat menghadapi tamu dari Amerika Serikat yang jatuh sakit karena tidak cocok dengan air rebusan Jakarta.

Dari situ ia melihat peluang bisnis besar: menyediakan air mineral steril siap minum untuk masyarakat urban yang kian modern.

Pada 23 Februari 1973, Tirto mendirikan PT Golden Mississippi, cikal bakal Aqua, dan membangun pabrik pertama di Pondok Ungu, Bekasi. Adiknya, Slamet Utomo, dikirim ke Thailand untuk belajar teknologi pengolahan air di perusahaan Polaris.

Dari Puritas ke Aqua

Produk pertama diluncurkan pada 1974 dengan nama Puritas, dikemas dalam botol kaca. Namun, seorang konsultan asal Indonesia yang tinggal di Singapura, Eulindra Lim, menyarankan mengganti nama menjadi Aqua—lebih mudah diucapkan dan berarti “air”. Nama itu melekat hingga kini.

Awalnya, Aqua menggunakan sumur bor sebagai sumber air, sebelum beralih ke mata air pegunungan pada 1982. Pergeseran itu menjadi titik balik besar yang memperkuat citra Aqua sebagai air mineral alami yang sehat dan berkualitas.

Dari Nyaris Gagal ke Sukses Besar

Meski kini menjadi ikon, perjalanan Aqua tidak selalu mulus. Sekitar 1978, penjualannya merosot tajam hingga hampir gulung tikar. Namun, alih-alih menurunkan harga, Tirto justru menaikkannya hampir tiga kali lipat. Langkah berani itu berbuah manis — omzet Aqua justru melonjak.

Popularitas Aqua juga dibantu oleh promosi besar-besaran, mulai dari iklan di media massa hingga sponsor ajang olahraga nasional dan internasional. Kebiasaan minum air mineral mulai menular di kalangan pekerja, termasuk para insinyur Korea Selatan yang tengah membangun Tol Jagorawi.

Kolaborasi dengan Danone

Tahun 1998 menjadi titik penting ketika Aqua menggandeng perusahaan multinasional asal Prancis, Danone, melalui Danone Asia Holding Pte Ltd. Kolaborasi itu berkembang menjadi aliansi strategis yang memperkuat posisi Aqua di pasar domestik.

Dua tahun kemudian, nama “Danone” resmi disematkan di seluruh kemasan Aqua. Sejak 2001, perusahaan Prancis itu menjadi pemegang saham mayoritas melalui PT Tirta Investama.

Kebijakan global Danone mendorong konsolidasi seluruh bisnis air minum dalam kemasan di Indonesia di bawah satu payung perusahaan. Hingga kini, keluarga Tirto Utomo masih memegang sebagian kecil saham melalui Tirta Investama, sedangkan pengendali utama ada di tangan Grup Danone.

Dari Bursa ke Swasta Penuh

Aqua sempat melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan kode AQUA, namun memilih go private pada 2011. Langkah ini dilakukan agar selaras dengan kebijakan global Danone yang ingin menyatukan seluruh operasi bisnisnya di bidang air dalam satu entitas tertutup.

Ketika proses tender dilakukan, harga pembelian saham publik bahkan mencapai Rp500 ribu per lembar, jauh di atas harga pasarnya saat itu.

Dari “Puritas” ke Simbol Air Sehat

Sebelum dikenal dengan nama Aqua, Tirto sempat memberi merek awal “Puritas”. Namun, atas saran seorang konsultan asal Singapura, nama tersebut diganti menjadi Aqua agar lebih mudah diingat dan bermakna universal sebagai “air”.

Baca Juga: Ambil BLT Kesra Rp900 Ribu di Pos Indonesia Segera! Tapi Simak Dulu yang Harus Dilakukan agar Tak Gagal Cair

Transformasi ini membawa Aqua menjadi simbol kebersihan, kesegaran, dan kesehatan hingga kini.

Raksasa Global di Balik Aqua

Danone sendiri merupakan perusahaan multinasional asal Prancis yang berdiri sejak awal abad ke-20. Didirikan oleh Isaac Carasso di Barcelona, Spanyol, pada 1919, Danone kini dikenal sebagai produsen produk bergizi global dengan empat pilar utama: air, susu segar, nutrisi awal kehidupan, dan gizi medis.

Nama Danone berasal dari nama kecil putranya, Daniel Carasso, yang menjadi pelopor ekspansi ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kini, Aqua—yang lahir dari ide lokal dan berkembang di bawah manajemen global—tetap menjadi merek air minum paling populer di Indonesia, sekaligus simbol bagaimana bisnis keluarga bisa tumbuh menjadi bagian dari raksasa internasional.

Kini, keluarga Tirto masih memegang sekitar 26 persen saham, sementara Danone mengelola operasional dan ekspansi globalnya.

Dedi Mulyadi Pertanyakan Sumber Air Aqua 

Video inspeksi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ke salah satu pabrik air minum dalam kemasan Aqua menuai perhatian publik.

Dalam tayangan yang diunggah di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, ia terlihat mempertanyakan asal sumber air yang digunakan perusahaan tersebut.

Dalam rekaman itu, Dedi menanyakan kepada staf pabrik apakah air yang diolah berasal dari sungai atau mata air permukaan. “Ngambil airnya dari sungai?” tanya Dedi.

Petugas di lokasi menjawab bahwa air bersumber dari bawah tanah melalui sistem pengeboran. Respons Dedi pun menunjukkan keheranan. Ia kemudian menegaskan ulang bahwa sumber air yang dimaksud bukan air permukaan, melainkan air tanah dalam.

Dedi juga menyinggung potensi dampak lingkungan, seperti pergeseran tanah akibat eksploitasi air bawah tanah.

Penjelasan Danone-Aqua

Menanggapi hal tersebut, pihak Danone-Aqua memberikan penjelasan resmi. Perusahaan menegaskan bahwa air yang digunakan tidak diambil dari sumur bor biasa, melainkan dari akuifer alami di kawasan pegunungan.

Menurut Aqua, sebagian titik sumber bahkan bersifat self-flowing atau mengalir alami tanpa bantuan pompa.

Perusahaan memastikan pengambilan air dilakukan secara hati-hati dan tidak memengaruhi sumber air masyarakat sekitar karena berada di lapisan berbeda dengan air permukaan.

Dijamin Aman dan Berizin Resmi

Danone-Aqua menegaskan bahwa aktivitas pengambilan air dilakukan berdasarkan izin resmi pemerintah dan diawasi rutin oleh Badan Geologi Kementerian ESDM serta pemerintah daerah.

Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, perusahaan menerapkan kebijakan Ground Water Resources Policy atau Kebijakan Perlindungan Air Tanah Dalam.

“Berdasarkan hasil kajian bersama UGM, proses pengambilan air kami lakukan secara terkendali dan tidak menyebabkan pergeseran tanah maupun longsor,” tulis pernyataan tersebut.

Aqua menilai, klarifikasi ini penting untuk meluruskan persepsi publik yang berkembang usai video kunjungan Dedi menjadi viral.

 

Editor : Uways Alqadrie
#Gubernur Jawa Barat 2025 #Danone #KDM #kang dedi mulyadi #Sumber Air Aqua