Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Perjalanan Hidup Anak-anak Wiranto-Rugaiya Usman: Dari MPR, Pesantren Afrika, hingga Isu Cadar 2018

Uways Alqadrie • Senin, 17 November 2025 | 08:20 WIB

Wiranto bersama Rugaiya Usman, anak, menantu dan cucu saat pemakaman salah satu cucunya, Alfatihah pada 15 November 2018 lalu. (FOTO: IST)
Wiranto bersama Rugaiya Usman, anak, menantu dan cucu saat pemakaman salah satu cucunya, Alfatihah pada 15 November 2018 lalu. (FOTO: IST)
KALTIMPOST.ID, JAKARTA — Kabar duka datang dari keluarga Jenderal (Purn) TNI Wiranto. Istrinya, Rugaiya Usman Wiranto, meninggal dunia pada Minggu, 16 November 2025, pukul 15.55 WIB, di sebuah rumah sakit di Bandung. 

Kehidupan pribadi Wiranto jarang muncul di ruang publik. Selama puluhan tahun berkarier di militer dan pemerintahan, ia dan istrinya, Rugaiya Usman, memilih menjaga jarak dari sorotan media. Mereka membesarkan tiga anak yakni Maya Wiranto, Amalia Wiranto dan Zaenal Nurrizki yang meninggal dunia dalam usia 23 tahun.

Wiranto membesarkan ketiga anaknya dalam lingkungan keluarga yang dikenal disiplin, religius, dan rapi dalam menjaga privasi.

Amalia, putri pertama, sempat mengisi kursi MPR dari unsur utusan golongan pada awal 2000-an. Karier politiknya berlangsung singkat; ia mengundurkan diri beberapa bulan setelah dilantik. 

Amalia lahir di Solo pada 1976, aktif dalam organisasi kepemudaan FKPPI, dan pernah bekerja sebagai konsultan hukum. Kehidupan pribadinya tidak banyak terekspos, kecuali pernikahannya dengan Abdi Setiawan Effendi pada 2002.

Berbeda dengan kakaknya, Zainal memilih jalur pendidikan agama. Ia menempuh studi keislaman hingga Afrika, lalu kembali ke Indonesia untuk memperdalam aktivitas sosial-keagamaan. 

Geraknya tidak banyak terekam media, namun ia dikenal dekat dengan komunitas pesantren dan lembaga kajian keagamaan.

Amalia Sianti, putri sulung, menempuh pendidikan hukum di Universitas Indonesia. Ia sempat menjadi anggota MPR dari unsur utusan golongan pada awal 2000-an, namun mundur tak lama setelah dilantik. Kehidupan pribadinya relatif tertutup dari media, kecuali momen pernikahannya yang dihadiri sejumlah pejabat negara.

Sementara itu, putra bungsu mantan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Zaenal Nurrizki, keluar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) lalu belajar Islam di sekolah tinggi ilmu Islam di Johannesburg, Afrika Selatan (Afsel). Di Afsel, Zaenal tinggal di asrama kampus.

Namun Zaenal keluar dari UGM dan memilih belajar Islam di Afsel. Menurut Wiranto, anaknya itu dengan kesadaran sendiri minta izin keluar dari UGM dan belajar Islam di UGM.

"Padahal dengan kesadarannya sendiri dia minta izin untuk keluar dari Universitas Gadjah Mada yang sangat bergengsi itu karena keprihatinan dan kesadarannya melihat perilaku sebagian generasi muda yang tidak lagi memiliki kepribadian yang terpuji," ujar Wiranto.

Wiranto menyebut, anaknya itu mendalami Al Quran untuk memantapkan akhlak dan moralnya sebagai basis pengabdiannya sebagai generasi penerus. Lewat internet, dia memilih tempat belajar Alquran yang bebas politik, Ponpes Internasional di wilayah Land Asia Afrika Selatan yang khusus untuk memantapkan pemahaman Alquran yang mengedepankan persaudaraan dan kedamaian, bukan sekolah teroris.

Baru setahun belajar di Afsel, anaknya sakit demam. Anak Wiranto meninggal dan dimakamkan di Afsel. Zaenal masih berusia 23 tahun dan baru menikah awal tahun 2013 dengan Salsabila. 

Salbila saat menikah dengan Zaenal berumur 15 tahun dan merupakan salah satu murid dari Perguruan Tinggi Ilmu Agama Islam Darul Uloom Zakariyya, di mana Zainal bersekolah di sana.

"Dia meninggal di sana karena sakit, di saat membaca ayat-ayat suci. Maka saat ada orang yang mencibir dan memfitnah, sayapun hanya tertawa, karena memang tidak perlu saya layani," tutur Wiranto kala itu.

Keluarga Religius

Pada 19 November 2018 lalu, tempat viral foto keluarga Wiranto seusai pemakaman cucunya. Dalam foto tersebut terlihat anak Wiranto bercadar dan suaminya mengenakan sorban. 

Terlihat Wiranto dan istrinya Rugaiya Usman Wiranto, duduk bersama anaknya Lia Wiranto beserta cucu-cucunya yang lain di seputaran gundukan tanah merah makam Alfatih.

Alfatih yang baru berusia 1,5 tahun meninggal dunia Kamis (15/11/2018) malam setelah tercebur ke dalam kolam ikan. Dia dimakamkan di pemakaman keluarga, Delingan, Karanganyar, Jawa Tengah.

Wiranto mengenakan baju koko berwarna putih dan peci hitam. Istrinya memakai baju muslim putih dipadu jilbab pada umumnya, bukan burkah yang tertutup rapat. 

Yang jadi perhatian yakni putri Wiranto, Lia Wiranto yang tengah duduk mengenakan cadar hitam lengkap dengan burkah penutup wajah dan mata.

Dia duduk di samping suaminya, Abdi Setiawan yang mengenakan sorban putih dengan jenggot panjang dan jidat hitam. Dua anak Lia juga mengenakan cadar hitam seperti ibunya. Tiga cucu laki-laki Wiranto lainnya juga mengenakan baju koko putih dengan kopiah putih. Nampak salah satunya sedang membuka Alquran.

Usai viral foto tersebut, Wiranto memberikan penjelasan mengenai foto keluarga. Dalam foto tersebut, sejumlah anggota keluarganya terlihat mengenakan cadar dan sorban, memicu beragam tafsir publik.

Melalui keterangan tertulis, Wiranto menilai kegaduhan itu muncul karena sebagian masyarakat menautkan penampilan keluarganya dengan jabatan yang ia emban. 

Ia menegaskan bahwa pilihan busana mereka saat itu berkaitan dengan suasana duka, bukan menunjukkan afiliasi tertentu.

Wiranto menceritakan kembali kepergian putranya, Zainal Nur Rizki, yang meninggal saat menempuh pendidikan agama di Afrika Selatan. Ia menyebut Zainal memilih mundur dari Universitas Gadjah Mada demi memperdalam Al-Qur’an di sebuah lembaga pendidikan internasional yang menekankan persaudaraan dan kedamaian. “Sayangnya, ia wafat di tahun pertama masa belajarnya,” kata Wiranto.

Sang cucu, Ahmad Daniyal Al Fatih, juga berpulang beberapa tahun kemudian. Pada masa itulah keluarga mengenakan busana syar’i, termasuk cadar, sehingga foto-foto peristiwa duka itu mengemuka kembali dan menjadi bahan perbincangan publik.

Dalam penjelasannya, Wiranto menekankan nilai yang selama ini ia tanamkan kepada keluarga: tidak mencampuradukkan agama dengan kepentingan politik.

Tidak menggunakan penampilan sebagai alat untuk menunjukkan keimanan. “Akhlaq dan perilaku lebih utama daripada apa yang tampak dari luar,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa keluarganya tidak pernah menggunakan jabatan atau pengaruh politik dirinya untuk memperoleh keuntungan.

Tidak ada anak atau menantu yang bekerja di sektor militer, partai politik, ataupun proyek pengadaan negara. “Saya meminta mereka untuk tetap menjaga komitmen itu,” katanya.

Wiranto menutup penjelasannya dengan ucapan terima kasih kepada pihak yang memberi doa saat cucunya dimakamkan. Ia berharap kegaduhan soal foto itu tidak mengaburkan situasi sesungguhnya yang diliputi duka keluarga.

Editor : Uways Alqadrie
#Rugaiya Usman #Istri Wiranto Dimakamkan di Solo #Istri Wiranto meninggal dunia #wiranto #Jenderal Wiranto