KALTIMPOST.ID,TEHERAN-Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang mencekam.
Hanya selang beberapa waktu pasca-pengangkatan Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Teheran langsung mengambil langkah ekstrem dengan meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel, Senin (9/3).
Dilansir dari kantor berita AFP, stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, mengonfirmasi bahwa peluncuran proyektil tersebut merupakan serangan perdana di bawah komando putra mendiang Ali Khamenei tersebut.
Meski belum merinci kota mana saja yang menjadi target utama, serangan ini dipandang sebagai pesan konfrontasi terbuka terhadap Tel Aviv.
Dalam saluran Telegram resminya, IRIB mengunggah foto proyektil yang bertuliskan slogan provokatif: "At Your Command, Sayyid Mojtaba" (Kami Siap di Bawah Perintahmu, Sayyid Mojtaba).
Langkah ini seolah mengukuhkan posisi Mojtaba yang sebelumnya memang disebut-sebut sebagai calon tunggal terkuat pengganti Ali Khamenei melalui mekanisme Majelis Pakar.
Baca Juga: Intelijen AS Endus Campur Tangan Rusia, Moskow Diduga Pasok Data Penargetan ke Iran
Respons Keras Israel
Di sisi lain, Israel tidak tinggal diam. Sejak pengumuman suksesi kepemimpinan di Teheran, militer Israel telah memperketat pengawasan.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengeluarkan peringatan keras bahwa siapa pun yang menduduki takhta tertinggi di Teheran dengan agenda penghancuran Israel akan menjadi target eliminasi.
"Setiap pemimpin yang ditunjuk oleh rezim Iran untuk melanjutkan rencana penghancuran Israel, mengancam AS, serta menindas rakyatnya sendiri, akan menjadi target jelas untuk dieliminasi," tegas Katz sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Katz bahkan menegaskan bahwa militer Israel tidak akan pandang bulu dalam memburu suksesor Ali Khamenei tersebut. "Tidak peduli siapa namanya atau di mana dia bersembunyi," cetusnya.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di perbatasan dan wilayah udara di kawasan tersebut dilaporkan dalam status siaga tinggi, sementara dunia internasional mulai mengantisipasi kemungkinan pecahnya perang terbuka yang lebih luas.(*)
Editor : Dwi Puspitarini