Ramalan tersebut menjadi viral karena dikaitkan dengan perkembangan terbaru konflik di kawasan tersebut. Diketahui, perang mulai memanas sejak 28 Februari lalu setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah fasilitas penting milik Iran.
Serangan itu dilaporkan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Lebih dari 1.400 orang di Iran dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Sementara itu di pihak Israel tercatat 14 korban meninggal dunia, dan di pihak Amerika Serikat sebanyak 13 tentara dilaporkan tewas. Di Lebanon, konflik turut memicu korban jiwa hingga ratusan orang.
Di sisi lain, Iran terus melakukan serangan balasan dengan meluncurkan gelombang rudal ke wilayah Israel serta beberapa instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran bahkan mengklaim berhasil merusak kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln melalui serangan drone dan rudal. Namun klaim tersebut dibantah oleh pihak militer AS.
Hingga kini konflik telah memasuki pekan ketiga dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyatakan kemungkinan serangan baru terhadap Pulau Kharg di Iran, yang dikenal sebagai pusat ekspor minyak negara tersebut.
Trump menyebut serangan lanjutan masih mungkin dilakukan, meskipun di sisi lain ia juga mengisyaratkan peluang terjadinya kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik.
Di tengah memanasnya situasi tersebut, pernyataan lama Sheikh Ahmed Yassin kembali diperbincangkan publik.
Tokoh yang dikenal sebagai salah satu pendiri Hamas itu pernah menyampaikan prediksi mengenai masa depan Israel dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Al Jazeera Ahmed Mansour pada 8 Mei 1999.
Dalam wawancara tersebut, Yassin menyatakan bahwa Israel berdiri di atas penindasan dan menurutnya setiap kekuatan yang dibangun di atas ketidakadilan pada akhirnya akan runtuh.
Ia juga mengibaratkan perjalanan sebuah negara seperti kehidupan manusia yang memiliki siklus lahir, berkembang, mencapai puncak, kemudian mengalami kemunduran hingga akhirnya berakhir.
Yassin menyampaikan keyakinannya bahwa Israel tidak akan bertahan lama. Saat itu ia memperkirakan negara tersebut akan berakhir pada awal abad ke-21, tepatnya sekitar tahun 2027.
Menurut Yassin, prediksi tersebut didasarkan pada pemahamannya terhadap Al-Qur’an yang menyebut adanya pergantian generasi dalam rentang waktu tertentu. Ia menyebut bahwa setiap generasi akan mengalami perubahan sekitar empat dekade.
Sheikh Ahmed Yassin sendiri meninggal dunia pada 2 Maret 2004. Meski telah lama wafat, pernyataannya mengenai masa depan Israel kini kembali ramai dibicarakan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Editor : Uways Alqadrie