KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Publik Amerika Serikat (AS) kini tengah diguncang oleh pengakuan mengejutkan terkait latar belakang pecahnya perang di Iran pada 2026. Mantan Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional AS (National Counterterrorism Center/NCTC), Joe Kent, membeberkan bahwa keputusan Presiden Donald Trump untuk melakukan invasi militer didasari oleh pengabaian fatal terhadap laporan intelijen domestik.
Dalam bincang-bincang di program The Megyn Kelly Show, Kent mengungkapkan bahwa ada "tabir gelap" yang sengaja dipasang pemerintah untuk memuluskan agenda perang, meski data di lapangan berkata sebaliknya.
18 Lembaga Intelijen vs Laporan Sepihak
Kent memaparkan fakta krusial yang selama ini tersimpan rapat. Ia menyebutkan bahwa sebanyak 18 badan intelijen Amerika Serikat sebenarnya telah mencapai konsensus: Iran tidak memiliki kapasitas untuk memproduksi senjata nuklir.
Baca Juga: Iran Jawab Gertakan Trump, Selat Hormuz Terbuka untuk Semua, Kecuali Musuh!
Namun, laporan solid dari komunitas intelijen internal tersebut justru dipinggirkan. Pemerintahan Trump disebut lebih memilih memercayai klaim dari pihak Israel. Tel Aviv meyakinkan Washington bahwa Teheran sanggup merakit 10 bom nuklir hanya dalam waktu dua minggu.
"Posisinya sangat kontras. Sebanyak 18 lembaga intelijen kita menyatakan tidak ada kapasitas nuklir, sementara klaim luar menyebut ada 10 bom dalam dua pekan. Secara mengejutkan, Trump justru membuang laporan intelijennya sendiri ke keranjang sampah," tegas Kent.
Dejavu Kelam Tragedi Irak 2003
Skandal ini memicu ingatan pahit publik AS pada peristiwa tahun 2003. Kala itu, pemerintahan George W. Bush meluncurkan invasi ke Irak berdasarkan klaim Ahmed Chalabi mengenai Senjata Pemusnah Massal (Weapon of Mass Destruction/WMD) milik rezim Saddam Hussein.
Baca Juga: Heboh Rudal Iran ke Diego Garcia, Israel Klaim Serangan, Iran Tegas Menolak Tuduhan
Padahal, saat itu banyak agen intelijen AS yang meragukan keberadaan senjata tersebut. Hasilnya pun tragis: 4.500 tentara AS tewas dalam perang yang didasari alasan fiktif, karena hingga detik ini tidak ada satu pun WMD yang ditemukan di Irak. Kini, pola serupa seolah terulang kembali di tahun 2026.
Nyawa Melayang demi Ancaman yang Tak Terbukti
Dampak dari keputusan gegabah ini mulai memakan korban jiwa. Hingga laporan ini diturunkan, sebanyak 14 tentara AS telah gugur di medan perang Iran. Mirisnya, hingga saat ini belum ditemukan satu pun bukti keberadaan fasilitas atau program bom nuklir di wilayah yang diinvasi tersebut.
Baca Juga: Iran Sebut AS dan Israel Serang Fasilitas Nuklir Natanz, Tidak Ada Kebocoran Radiasi
Pengakuan Joe Kent memiliki bobot besar mengingat posisinya yang pernah memimpin NCTC. Ia memahami persis isi laporan asli yang masuk ke meja kepresidenan dan bagaimana data tersebut sengaja diabaikan demi memicu konflik bersenjata.
Pesan moral dari skandal ini sangat jelas: dalam setiap deklarasi perang, kebenaran sering kali menjadi korban pertama yang dikorbankan demi agenda tertentu.(*)
Editor : Hernawati