Pihak militer Amerika melalui Komando Pusat (CENTCOM) mengakui adanya insiden tersebut. Namun, mereka menyebut pesawat hanya mengalami gangguan dan harus melakukan pendaratan darurat. Seluruh awak dilaporkan selamat, sementara penyebab kejadian masih dalam penyelidikan.
Di sisi lain, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim berhasil mendeteksi hingga menyerang jet tersebut menggunakan sistem pertahanan udara canggih. Bahkan, mereka merilis rekaman yang diklaim sebagai bukti operasi tersebut, meski belum terverifikasi secara independen.
Jika terbukti benar, ini menjadi momen penting karena merupakan salah satu insiden langka yang melibatkan kerusakan jet siluman generasi kelima dalam situasi tempur.
Celah Teknologi Siluman
Jet F-35 Lightning II dikenal sebagai salah satu pesawat tempur paling canggih di dunia, dengan kemampuan menghindari radar berkat desain khusus dan material penyerap gelombang. Tingkat deteksinya disebut jauh lebih rendah dibandingkan pesawat konvensional.
Namun, para analis menilai teknologi tersebut bukan tanpa kelemahan. Salah satunya adalah jejak panas yang dihasilkan mesin pesawat, yang masih bisa ditangkap oleh sistem berbasis inframerah.
Diduga Gunakan Sensor Pasif
Iran diduga memanfaatkan celah ini dengan mengandalkan sistem deteksi pasif berbasis inframerah (EO/IR). Berbeda dengan radar aktif, teknologi ini tidak memancarkan sinyal sehingga sulit dilacak oleh lawan.
Pendekatan ini memungkinkan pelacakan target secara diam-diam. Bahkan, metode serupa disebut pernah digunakan dalam konflik di Yaman dan dinilai cukup efektif menghadapi teknologi militer modern.
Selain itu, ada dugaan rudal yang digunakan merupakan modifikasi dari rudal inframerah seperti R-27T buatan Rusia. Rudal jenis ini memiliki kecepatan tinggi hingga Mach 5, cukup untuk mengejar target dengan cepat.
Sinyal Ancaman Baru
Keberhasilan ini, jika terkonfirmasi, menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara berbasis inframerah bisa menjadi ancaman serius bagi teknologi siluman modern.
Para pengamat menilai kejadian ini menjadi pengingat bahwa dominasi teknologi militer tidak selalu mutlak. Inovasi di bidang sensor dan deteksi bisa membuka celah baru dalam peperangan modern, termasuk terhadap sistem yang selama ini dianggap “tak terlihat”.
Situasi ini juga berpotensi mengubah peta strategi militer global, terutama dalam menghadapi konflik berteknologi tinggi di masa depan.
Editor : Uways Alqadrie