Siswa-Sisiwi SMA HBICS Sambangi Gedung Biru Kaltim Post, Tingkatkan Literasi lewat Belajar Jurnalistik
Oktavia Megaria• Selasa, 1 Oktober 2024 | 05:05 WIB
TAMBAH WAWASAN : SMA Kristen Harapan Bangsa melakukan kunjungan literasi ke kantor media cerak Kaltim Post, Senin (30/9). (Foto: Fuad/Muhammad/KP)
KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Lantai tiga Gedung Biru Kaltim Post tampak ramai pada Senin (30/9) siang.
Ini dikarenakan para siswa-siswi SMA Harapan Bangsa Integrated Christian School (HBICS) menyambangi kantor media Kaltim Post yang berada di Jalan Soekarno Hatta Km 3,5, Balikpapan.
Dalam kunjungan ini, sebanyak 43 murid dari kelas XI yang diikutkan. Mereka disambut oleh pewarta senior Kaltim Post Muhammad Rizky, yang juga memaparkan terkait dunia jurnalistik dan proses menghasilkan berita.
Guru Pendamping SMA HBICS Christine N Mandasari mengatakan kegiatan field trip ini memang jadi program sekolah tahunan. Dipilihnya Kaltim Post tahun ini, berkaitan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Dia berkata, kunjungan ini juga ingin mengenalkan ke anak-anak bahwa informasi yang dibaca selama ini punya proses yang cukup panjang.
“Jadi sama kayak nasi yang kita makan, biasanya cuma tahu beli beras. Tapi kita enggak tahu bahwa dari beras itu ada padi yang ditanam tunggu 6 bulan dan seterusnya. Ada proses masaknya juga jadi berita pun demikian,” jelas guru Bahasa Indonesia ini.
Jadi, kata dia, sebelum menikmati informasi, para murid juga tahu prosesnya. Dari proses itu, memungkinkan para murid jadi lebih menghargai informasi yang mereka serap.
“Sehingga ketika kita memberikan informasi itu bukan cuma sekedar informasi tapi untuk kepentingan orang banyak juga,” tambahnya.
Sebagai pendidik, diakuinya pula merupakan tantangan yang besar bagi mereka mengarahkan para murid untuk menyukai literasi. Generasi yang akrab disebut Gen Z ini, cenderung memiliki literasi yang sangat rendah.
Tak jarang para guru, khususnya di mata pelajaran Bahasa Indonesia, harus memutar otak. Salah satunya dengan menerapkan program yang disebut kebiasaan literasi.
Biasanya sebelum memulai mata pelajaran, sambungnya, para guru menerapkan kebiasaan untuk membaca satu puisi atau cerpen. Di mana setiap anak melakukan itu secara bergantian tiap minggunya.
“Harapannya mereka terbiasa membaca, dan bisa mencintai budaya itu. Kalau mereka sudah cinta artinya, mungkin nanti ke depannya akan menjadi aktivis-aktivis literasi. Misal jadi seorang penulis, jurnalis, pembaca berita atau lain sebagainya,” imbuh Christine.
Perihal kunjungan ke Kaltim Post ini pun, ia juga ingin memberi tahu ke anak-anak didiknya bahwa di tengah hiruk pikuk digitalisasi ternyata masih ada kantor berita yang bertahan. Bahkan masih memproduksi koran konvensional yang mungkin asing bagi para generasi muda ini dan cukup jarang ditemukan.
“Justru ketika mereka enggak tahu dan kami datang ke sini jadi mereka tahu kalau informasi atau berita itu enggak selamanya bentuk digital. Ada media cetak juga dan ternyata kantor beritanya bertahan. Itu sih harapannya,” tandasnya.(*)