KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN- Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan Cokorda Ratih Kusuma mengakui, kebanyakan tujuan wisata masyarakat Kalimantan Timur yang datang ke Negeri Jiran ialah untuk pengobatan atau wisata medis.
Oleh karenanya, hadirnya Festival Borneo Flora 2025 mendatang diharapkan akan lebih memperkuat jalinan kolaborasi lintas negara antara Indonesia-Malaysia sekaligus memperkuat identitas lokal.
Terlebih, di tengah geliat Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terus berkembang, langkah ini dinilai sejalan dengan visi menjadikan Kalimantan sebagai poros baru pertumbuhan pariwisata ASEAN.
Pihaknya pun tengah berdiskusi dengan provinsi terkait rencana partisipasi dalam Borneo Flora Festival 2025 yang dijadwalkan berlangsung pada 26-30 Juli mendatang di Labuan, Malaysia.
Festival ini disebut bukan sekadar ajang promosi bunga dan tanaman tropis, melainkan bagian dari strategi diplomasi pariwisata baru yang melibatkan identitas flora sebagai ikon wilayah.
"Ini menjadi peluang emas untuk memperkenalkan kekayaan hayati Kalimantan Timur, seperti jahe merah, kelubut yang identik dengan Balikpapan. Tapi nanti kan mesti dikurasi dan diskusi lagi sama pihak provinsi," ucap Ratih.
Siap memperkenalkan kekayaan flora lokal tersebut sebagai bagian dari promosi potensi wisata daerah di kancah internasional. Ratih mengatakan, ini dapat menjadi momentum yang sangat strategis untuk menunjukkan bahwa Balikpapan punya lebih dari sekadar minyak dan industri.
Ratih juga mengapresiasi strategi Malaysia dalam membangun jejaring promosi kawasan, terutama dengan melibatkan daerah-daerah di Kalimantan. Ia menilai, pola seperti ini dapat menciptakan sinergi yang lebih kuat dalam membentuk travel patter lintas negara.
“Berbeda dari kerja sama sebelumnya yang lebih pada medical hospital tourism, kali ini fokus kita adalah pada pariwisata berbasis flora dan bahari. Dengan kolaborasi yang baik antara Kaltim dan Malaysia, kita juga berharap rute penerbangan ke Labuan makin terbuka, sehingga arus wisatawan bisa lebih cepat dan luas,” tambahnya.
Namun, Ratih juga menekankan pentingnya koordinasi teknis. Pengiriman flora hidup seperti jahe merah juga memerlukan izin dari balai karantina.
Partisipasi dalam festival ini, menurutnya, juga membuka jalur baru bagi pelibatan investor asing.
Ratih juga mengungkap, Balikpapan berencana mengundang banyak investor dalam sebuah forum yang akan digelar pada November mendatang, dan dapat menjadikannya sebagai kelanjutan dari langkah promosi di Malaysia.
Ke depan, sinergi antara Kalimantan Timur dan Malaysia diharapkan tak hanya mempererat kerja sama budaya dan pariwisata, namun juga membuka gerbang bagi kerja sama ekonomi, logistik, dan konektivitas lintas batas yang lebih efisien.
“Ini membuka peluang besar. Berharap kolaborasi ini bisa dikembangkan, kita juga telah siapkan forum investasi pada November mendatang yang akan menjadi panggung lanjutan untuk menarik minat pasar luar negeri,” tutur Ratih.
Editor : Uways Alqadrie