BALIKPAPAN - Hujan deras yang mengguyur Kota Balikpapan, khususnya wilayah Kelurahan Lamaru sejak subuh hingga menjelang siang pada Selasa (27/5) mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah. Sementara di Kawasan pesisir Lamaru, rumah warga rusak diterjang angin puting beliung.
Tercatat banjir melanda RT 4, 5, 10, 13, 14, 16, 17, dan RT 20 Kelurahan Lamaru, dengan ketinggian air mencapai selutut orang dewasa. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, permasalahan utama terletak pada sistem drainase yang belum mampu mengalirkan air secara optimal.
Beberapa wilayah masih menggunakan drainase kecil, bahkan ada yang hanya mengandalkan drainase alami. Meski sudah ada upaya pembesaran drainase di beberapa titik dari Pemerintah Kota Balikpapan, namun nyatanya belum mampu menampung debit air saat hujan dengan intensitas tinggi.
“RT-RT tersebut memang sudah menjadi langganan banjir,” ujar Sekretaris Kelurahan Lamaru, Prijanti. Ia menekankan pentingnya pembenahan sistem drainase sebagai fokus utama penanganan ke depan. “Jangan sampai musibah ini terus terulang,” ujarnya.
Banjir juga terjadi di jalan masuk menuju SMA 7, dan direncanakan akan ditindaklanjuti melalui program perbaikan dari DPRD Provinsi Kalimantan Timur.
Selain banjir, angin puting beliung juga melanda RT 19 yang berada di dekat pesisir Pantai Lamaru, tepatnya di Jalan Sosial Dalam arah menuju SMK 5 Balikpapan. Kejadian yang berlangsung sekitar pukul 6 hingga 7 pagi. Yang menyebabkan empat rumah terdampak dan beberapa pohon tumbang.
“Salah satu korbannya yakni Suparji RT 19 dekat Masjid Babusalam,”ucapnya. Mendapat laporan warga, pihak kelurahan segera turun ke lapangan melakukan monitoring bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas, relawan Katana, serta Kasi Trantib dan Kasi Pemerintahan. Penanganan pohon tumbang dilakukan secara sigap oleh tim gabungan.
Sekretaris Kelurahan Lamaru juga mengimbau warga untuk tetap waspada di musim hujan, terutama terhadap cuaca ekstrem yang datang secara tiba-tiba. Ia juga mengingatkan agar tidak membuang sampah sembarangan.
“Saat tim kami melakukan penanganan di lapangan, ditemukan banyak potongan kayu dan sampah yang menyumbat aliran air. Hal seperti ini harus menjadi perhatian bersama,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan sinergi warga masyarakat dengan pemerintah dalam pencegahan maupun penanganan bencana sangat diperlukan. “Guna meminimalisir kemungkinan dampak yang meluas,”pungkas Prijanti. (pms/pus/kri)
Editor : Sukri Sikki