KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pemprov Kaltim telah resmi memulai penyerahan program JosPol di Balikpapan. Berlokasi di BSCC Dome, Rabu (17/9). Penyerahan dilakukan langsung oleh Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud.
Ini sekaligus menjadi awal mula agenda kunjungan gubernur di wilayah selatan Kaltim. Rudy mengatakan, pemberian program JosPol merupakan apresiasi dengan berbagai jenis penghargaan.
Di antaranya insentif bagi guru, marbot, dan penjaga rumah ibadah nonmuslim. “Perhatian terhadap guru dan penjaga rumah ibadah merupakan bentuk penghargaan atas pengabdian mereka,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, insentif guru diberikan kepada 2.388 guru honorer. Baik sekolah negeri maupun swasta di Balikpapan. Nominal insentif Rp 500 ribu per bulan. Diberikan selama enam bulan dari Juli sampai Desember 2025.
Rudy memastikan, pendidikan tetap menjadi prioritas utama pembangunan Kaltim. Sebab untuk memutus rantai kemiskinan hanya melalui pendidikan. “Pendidikan bagi kami tetap nomor satu,” imbuhnya.
Menurutnya JosPol adalah wujud nyata perhatian pemerintah kepada tenaga pendidik yang telah mengabdi dengan tulus di Kota Beriman. Cara meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik.
Ada pun total penerima insentif sebanyak 25.163 guru honorer jenjang PAUD hingga SMP se-Kaltim. Kemudian insentif kepada 877 marbot dan penjaga tempat ibadah se-Kaltim. Khusus wilayah Balikpapan sebanyak 370 orang.
Insentif bagi marbot dan penjaga tempat ibadah nonmuslim berupa perjalanan religius. Rudy menambahkan, mereka selama ini berperan penting dalam membina masyarakat.
Insentif yang diberikan tidak hanya menyasar guru sekolah umum dan pesantren. Melainkan ada penjaga masjid, gereja, pura, dan vihara.
“Seluruh elemen masyarakat dari berbagai latar belakang agama dapat merasakan manfaat program ini,” tuturnya. Plt Kepala Disdikbud Kaltim Armin mengatakan, adanya insentif dengan harapan mendorong semangat guru.
“Terutama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah maupun pesantren,” ucapnya. Menurutnya program ini tidak hanya sebagai kebijakan administratif, tetapi sebagai investasi peradaban. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo