BALIKPAPAN- Air baku tetap jadi persoalan paling krusial bagi PTMB. Salah satu langkah signifikan penguatan sumber air baku adalah optimalisasi Waduk Manggar untuk meningkatkan kapasitas produksi serta menyiapkan eksplorasi sumur dalam sebagai cadangan strategis. Khususnya di wilayah timur dan utara kota.
Kebijakan ini penting untuk menjaga ketahanan pasokan, terutama saat menghadapi musim kemarau dan peningkatan kebutuhan akibat pertumbuhan kota.
Salah satu opsi yang juga dijajaki PTMB untuk penyediaan air baku adalah Waduk Sungai Wain. Yudhi menyatakan, PTMB telah menjajaki peluang kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) yang selama ini telah memanfaatkan air dari kawasan Sungai Wain untuk kebutuhan air baku untuk produksi dan perumahan karyawan.
“Kami mengusulkan pengolahan secara bersama air Sungai Wain, dengan skema yang lebih adil antara kebutuhan industri dan masyarakat” sebutnya.
Untuk kebutuhan industri, PTMB mendorong penggunaan teknologi desalinasi. Dengan begitu air baku dari Sungai Wain bisa lebih difokuskan untuk masyarakat.
Terhadap pertanyaan wacana PTMB menerapkan desalinasi untuk pelanggan rumah tangga, menurutnya tentu ada sejumlah pertimbangan, terutama pada ongkos produksi dan harga jual kepada pelanggan.
Ia menyebut, perhitungan sementara, bisa menembus Rp 25 ribu per kubik. Sementara, tarif air harga tertinggi di Balikpapan di kisaran Rp 10 ribu per kubik. “Jadi desalinasi lebih tepat untuk industri skala besar,” kata Yudhi.
Selain Sungai Wain, PTMB juga menyiapkan sejumlah proyek strategis lain untuk memperkuat sistem penyediaan air minum (SPAM) di Balikpapan. Semisal Waduk Teritip dan Embung Aji Raden.
LAWAN KEBOCORAN
Di sisi distribusi, PTMB menempatkan pengurangan kehilangan air sebagai prioritas utama melalui program “Perang Melawan Kebocoran”.
Target penurunan Non-Revenue Water hingga 28,48 persen disertai penggantian lebih dari 32.500 meter air pelanggan menjadi langkah konkret untuk meningkatkan efisiensi sistem. Ditargetkan penggantian tuntas dalam 6 bulan ke depan.
Mengurangi kebocoran berarti menyelamatkan volume air yang selama ini hilang di jaringan, sehingga suplai efektif ke pelanggan dapat meningkat tanpa harus selalu membangun instalasi baru.
Selain pembenahan infrastruktur fisik, PTMB memperkuat sistem manajemen dan pelayanan berbasis digital. Pengembangan sistem terintegrasi dengan satu sumber data yang akurat memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan presisi.
Digitalisasi pelaporan pelanggan juga ditargetkan mempercepat respons terhadap keluhan, sehingga masyarakat tidak lagi menunggu lama ketika terjadi gangguan. (*)
Editor : Ismet Rifani