BALIKPAPAN - Kekerasan di Kampus masih marak terjadi. Hetifah Sjaifudian selaku Ketua Komisi X DPR RI dari Dapil Kaltim mengajak semua pihak untuk melakukan pencegahannya.
Hal tersebut diucapkan pada kegiatan seminar Diseminasi Kebijakan Ekosistem Kampus Aman dari Segala Bentuk Kekerasan yang merupakan program Kemendiktisaintek di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Kamis (7/5/2026).
Baca Juga: Progres Jembatan Busui Sudah 30 Persen, Target Rampung Desember 2026
Diskusi ini menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman di perguruan tinggi, dengan dukungan dari berbagai pihak termasuk rektor dan ketua satgas PPKPT.
Hetifah mengungkapkan terdapat keprihatinan terhadap meningkatnya kekerasan, baik fisik maupun psikis, serta intoleransi dan diskriminasi di kampus.
"Upaya untuk memperbaiki kondisi ini melibatkan revisi undang-undang yang mencakup pencegahan dan penanganan kekerasan di semua satuan pendidikan," ucapnya.
Ia menilai pentingnya sosialisasi dan pengawasan yang juga ditekankannya agar kekerasan tidak dianggap hanya sebagai tindakan fisik.
Baca Juga: Kuota Solar Balikpapan Bakal Ditambah? Begini Hasil Pertemuan DPRD dan BPH Migas
Pihak kampus juga diharapkan untuk mengembangkan SOP yang mencegah kekerasan dalam proses belajar mengajar. Selain itu, BTK berkomitmen untuk menjadi contoh dalam menciptakan praktik baik di lingkungan akademik.
"Dengan harapan dapat menginspirasi kampus lain untuk mengikuti langkah serupa," ujarnya.
Hetifah memberikan apresiasi tinggi kepada ITK yang memberikan dukungan penuh atas gagasan tersebut untuk memastikan bahwa perguruan tinggi itu harus menjadi tempat yang aman dan menjadi tempat di mana semua civitas akademika bisa bekerja, belajar dengan rasa nyamannya.
"Kami sedang menyusun revisi Undang-Undang Sisdiknas, kami memasukkan satu bab khusus ini adalah bab yang baru tentang pencegahan dan penanganan kekerasan. Supaya satuan pendidikan dari mulai Paud, SD, SMP, SMA bahkan juga uh satuan pendidikan lain seperti pesantren madrasah itu juga seharusnya semua termasuk kampus terbebaslah dari kekerasan," ungkapnya.
Ada beberapa strategi pencegahan yang diutarakan Hetifah pada kesempatan tersebut serta penanganan kekerasan dilingkungan perguruan tinggi. Seperti pelatihan pengetahuan kepada tim Satgas PPKPT (Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi).
Menerapkan sistem pelaporan yang ramah korban, cepat, aman dan rahasia. Kolaborasi dengan pihak eksternal, mulai kepolisian, psikolog, LSM dan lainnya. Serta monioring dan evaluasi secara rutin.
Kegiatan tersebut menghadirkan Rektor ITK Prof Agus Rubiyanto dan Direktur Belmawa Kemendiktisaintek Bandanadjaja, Kombespol Jamaluddin Farti, dan Riyan Benny Sukmara selaku ketua Satuan Tugas Pencegahan & Penanganan Kekerasan ITK.
Rektor ITK Agus Rubiyanto mengatakan, pencegahan kekerasan di kampus telah dilakukan secara proaktif oleh pimpinan, dengan penekanan pada integritas dan karakter.
"Kegiatan edukasi tidak hanya ditujukan untuk mahasiswa, tetapi juga untuk dosen, guna menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung," ucapnya.
Tim yang terdiri dari berbagai elemen, termasuk perwakilan mahasiswa dan dosen, dibentuk untuk menangani laporan secara rahasia dan efektif yang mengakomodasi 7 ribuan mahasiswa ITK.
"Proses investigasi dilakukan dengan hati-hati untuk menjaga integritas, dan hasilnya disampaikan kepada pimpinan untuk tindak lanjut. Pimpinan juga menekankan pentingnya disiplin dan etika dalam mendidik, dengan harapan bahwa karakter yang baik dapat mencegah kekerasan di lingkungan kampus," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki