BALIKPAPAN - Operasi mata minus kini semakin modern, cepat, dan aman. Pertama di Balikpapan, Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) memiliki layanan dengan teknik PRK yang hanya membutuhkan waktu tindakan sekitar 5 hingga 10 menit tanpa perlu rawat inap.
RSPB menghadirkan Lasik Center dengan teknis PRK yang diklaim jauh lebih aman dari risiko komplikasi sayatan (flap). Meski begitu, ada sejumlah syarat ketat yang wajib dipenuhi calon pasien sebelum menjalani prosedur ini.
Itu disampaikan dalam seminar kesehatan dengan tajuk ‘Cara Atasi Mata Minus dan Silinder’. Bagian dari RSPB Health Expo yang berlangsung di main atrium Pentacity Balikpapan, Sabtu (30/5).
Talkshow menghadirkan dokter spesialis mata dr. Lilik Sujarwati dan dr. Kamil Bagus. Pengunjung mengikuti kegiatan dengan seksama dalam transformasi ilmu sore hari tersebut.
Lilik mengatakan, sebelum pasien menjalani operasi PRK akan melalui skrining untuk memastikan kondisi mata pasien. Misalnya minus atau silinder berapa dan melihat sindrom mata kering atau kondisi air mata.
Serta kondisi sel-sel di kornea akan menjadi faktor pertimbangan. “Kami harus melihat sistem saraf mata ada kelainan atau tidak perlu dicek dulu sebelum operasi,” ucapnya.
Sementara untuk pasien penderita diabetes, tidak disarankan untuk menjalani PRK. Khawatir terdapat gangguan di saraf mata yang membuat hasil operasi tidak optimal.
Baca Juga: Puncak El Nino Agustus-September, Bagaimana Nasib Stok Pangan di Balikpapan? Ini Langkah Pemerintah
Syarat menjalani operasi PRK seperti tidak ada kelainan saraf mata, tidak ada katarak, dan masuk usia ideal yakni 18-39 tahun. “Usia ini diameter kornea sudah tidak berkembang,” sebutnya.
Lilik menjelaskan, bagi usia di bawah 18 tahun masih dalam pertumbuhan. Sedangkan untuk usia 40 tahun ke atas sudah terdapat risiko katarak dan mata kering karena faktor usia.
Dia menyebutkan, operasi PRK merupakan teknik paling safety dibandingkan lainnya. Bahkan untuk operasi hanya membutuhkan waktu singkat karena penggunaan laser yang modern dan akurat.
Kemungkinan butuh waktu sekitar 5-10 menit. “Teknik PRK ini kornea dikupas pada bagian permukaan saja, tanpa sayatan. Lalu di laser hanya beberapa detik,” jelasnya. Sehingga pasien tak perlu rawat inap.
Pasien yang menjalani operasi PRK akan mendapatkan anestesi tetes. Jadi sangat nyaman. “Biasanya masa kurang nyaman hanya sekitar satu minggu dan total waktu penyembuhan satu sampai tiga bulan,” jelasnya.
Menurutnya pasien tidak perlu khawatir atau takut. PRK unggul dengan risiko infeksi yang minim. Targetnya usai operasi, tentu pasien tak perlu memakai kacamata atau softlens lagi.
Namun dia mengakui tetap ada risiko. Misalnya setelah 8 tahun ada tambahan minus. “Baik dengan teknik apapun seperti PRK, Femto, ReLex Smile, sekitar 8 tahun ada yang kadang tambah minus setengah,” ungkapnya.
Keunggulan lain dari PRK membantu mengurangi ketergantungan pada kacamata dan softlens, cocok untuk gaya hidup aktif, cocok untuk atlet dan para pendaftar sekolah kedinasan TNI atau Polri.
“Teknik PRK ideal untuk profesi beresiko. Biasanya sangat direkomendasikan bagi atlet atau personel militer/polisi yang memiliki risiko tinggi terkena benturan di area wajah atau mata,” bebernya.
Selain usia, syarat pasien PRK ideal di antaranya ukuran kacamata stabil minimal satu tahun terakhir, kondisi mata sehat, tidak menggunakan softlens minimal 14 hari sebelum tindakan, dan tidak menggunakan hard lens minimal 30 hari sebelum tindakan.
Editor : Muhammad Ridhuan