Kebutuhan Telur Program MBG di Berau Meningkat, Pemkab Dorong Peternak Tambah Produksi Lokal

Redaksi KP • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 19:17 WIB
MENINGKAT: Kebutuhan telur untuk MBG yang tinggi membuat Pemkab Berau mendorong para peternak untuk meningkatkan produksi lokal. (IZZA/BP)
MENINGKAT: Kebutuhan telur untuk MBG yang tinggi membuat Pemkab Berau mendorong para peternak untuk meningkatkan produksi lokal. (IZZA/BP)

TANJUNG REDEB – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai mendorong peningkatan kebutuhan bahan pangan di Kabupaten Berau, terutama telur ayam. Namun hingga kini, produksi telur lokal masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar sehingga pasokan dari luar daerah masih diperlukan.

Analis Pasar Hasil Pertanian Muda Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Widodo, mengatakan produksi telur lokal saat ini baru mampu memenuhi sekitar 50 hingga 60 persen kebutuhan masyarakat Berau.

Baca Juga: BLK Berau Belum Beroperasi, Pemkab Janji Lengkapi Fasilitas dan SDM pada 2027

“Kebutuhan telur memang meningkat, apalagi dengan adanya program MBG. Sementara produksi lokal kita baru sekitar 50 sampai 60 persen, sisanya masih dipasok dari luar daerah,” ujarnya.

Menurut Widodo, tingginya harga pakan ternak menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi biaya produksi peternak ayam petelur. Bahkan, sekitar 70 persen biaya produksi berasal dari kebutuhan pakan.

“Kalau harga pakan naik, otomatis harga telur juga ikut naik,” katanya.

Saat ini, harga telur lokal di Berau berada pada kisaran Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per piring. Sementara telur yang didatangkan dari luar daerah dijual lebih murah, yakni sekitar Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per piring.

Widodo menjelaskan, kebutuhan telur untuk mendukung operasional program MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tergolong sangat besar. Dalam sehari, satu SPPG diperkirakan membutuhkan sekitar 97 hingga 100 piring telur.

“Kalau satu piring berisi 30 butir, tentu kebutuhan hariannya sangat tinggi,” ucapnya.

Baca Juga: Letkol Inf Muhammad Faisal Idris Resmi Jabat Dandim 0902/Berau Gantikan Kolonel Wirahady

Di sisi lain, produksi telur lokal masih cenderung stagnan. Karena itu, pemerintah daerah mulai mendorong para peternak untuk meningkatkan kapasitas produksi agar mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus bertambah.

“Kami sudah berdiskusi dengan para peternak ayam petelur. Mereka juga berupaya meningkatkan produksi, tentu dengan mempertimbangkan harga jual dan biaya produksi,” tuturnya.

Pemerintah daerah juga berupaya membantu peternak dari sisi penyediaan pakan ternak, salah satunya melalui dukungan cadangan jagung pemerintah. Saat ini harga jagung di tingkat produsen sekitar Rp7 ribu per kilogram. Namun melalui program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog, peternak dapat memperoleh jagung dengan harga lebih murah, yakni sekitar Rp5 ribu per kilogram.

Sementara itu, Bupati Berau, Sri Juniarsih, menegaskan dukungannya terhadap pelaksanaan program MBG di Berau. Menurutnya, program tersebut juga menjadi peluang besar bagi petani dan peternak lokal untuk berkembang sebagai pemasok utama kebutuhan pangan.

“Kita optimalkan sumber daya alam yang ada di Berau, seperti ikan dan telur untuk mendukung operasional SPPG,” katanya.

Editor : Muhammad Ridhuan
kebutuhan telur MBG produksi telur lokal Berau SPPG Berau harga telur Berau program Makan Bergizi Gratis