TANJUNG REDEB – Kasus pelecehan terhadap perempuan dan anak yang masih terus terjadi di Kabupaten Berau menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Wakil Bupati Berau, Gamalis, meminta seluruh pihak memperkuat pengawasan, edukasi, serta pendampingan guna mencegah kasus serupa kembali terulang.
Menurutnya, tingginya angka kasus menunjukkan masih adanya kelemahan dalam pengawasan dan pembinaan di lingkungan sekitar. Karena itu, langkah pencegahan dinilai harus diperkuat melalui sosialisasi dan edukasi yang menyasar keluarga, sekolah, hingga masyarakat umum.
Baca Juga: DPMK Berau Dorong BUMK Lebih Aktif Tingkatkan Pendapatan Asli Kampung
“Persoalan perempuan dan anak ini harus menjadi perhatian bersama. Dinas terkait juga harus terus melakukan sosialisasi dan pemantauan,” ujarnya belum lama ini.
Ia meminta Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau lebih aktif menjalankan program perlindungan perempuan dan anak, termasuk memperluas edukasi terkait kekerasan seksual.
Gamalis juga menegaskan perlunya tindakan tegas terhadap pelaku sebagai bentuk efek jera. Menurutnya, kasus asusila yang terus berulang dapat mengganggu rasa aman masyarakat sekaligus berdampak terhadap citra daerah.
“Kalau kasus terus berulang berarti masih ada kelemahan dalam pengawasan dan pembelajaran. Harus ada tindakan tegas agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama perlindungan anak. Orang tua diminta lebih aktif mengawasi pergaulan dan aktivitas anak agar terhindar dari kekerasan maupun eksploitasi.
Baca Juga: Survei YKAN dan DKP Kaltim: 26 Pantai Peneluran Penyu di Berau Masih Sangat Aman
Ia juga menyoroti maraknya kasus yang terjadi di lingkungan pendidikan. Karena itu, sekolah diminta lebih serius menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik.
“Anak-anak harus diberikan pemahaman dan perlindungan sejak kecil. Dunia pendidikan juga harus lebih memperhatikan hal ini,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, menilai langkah pencegahan harus diperkuat melalui edukasi sejak dini kepada anak dan keluarga. Menurutnya, masih banyak anak yang belum memahami batasan tubuh serta cara melindungi diri ketika berada dalam situasi berbahaya.
“Banyak anak tidak memahami batasan tubuhnya dan tidak tahu bagaimana bersikap ketika berada dalam situasi berbahaya,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pelaku kekerasan seksual terhadap anak kerap berasal dari lingkungan terdekat korban. Kondisi tersebut membuat korban mengalami tekanan dan kesulitan untuk melapor.
Menurutnya, trauma akibat kekerasan seksual dapat berdampak panjang terhadap kondisi psikologis korban hingga dewasa. Karena itu, komunikasi terbuka di lingkungan keluarga sangat penting agar anak merasa aman untuk bercerita dan meminta perlindungan.
Editor : Muhammad Ridhuan