Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Komoditas Lada Kaltim Punya Banyak Keunggulan, Butuh Dukungan Kembalikan Kejayaan

Raden Roro Mira Budi Asih • Jumat, 22 November 2024 | 13:15 WIB
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana

SAMARINDA – Sahang, atau yang dikenal sebagai lada oleh masyarakat Kaltim, memiliki sejarah panjang sebagai komoditas perkebunan unggul. Pada zaman Hindia Belanda, wilayah ini bahkan pernah menjadi salah satu sentra pembudidayaan lada terkemuka di Asia Tenggara.

Namun, sejak 1982, berbagai tantangan seperti penurunan harga di pasar dunia, kebakaran lahan, dan kemarau panjang menyebabkan produksi lada menurun drastis, menggeser posisi Kaltim dari daftar pengekspor lada.

“Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, seluruh perkebunan lada di Kaltim dikelola oleh perkebunan rakyat dengan luas areal mencapai 8,16 ribu hektare dan produksi sebesar 5,13 ribu ton,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana.

Hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023) mencatat ada 2,44 ribu unit usaha tani (UTP) yang mengusahakan tanaman lada, tersebar hampir di seluruh kabupaten dan kota. Berau memiliki sebaran UTP terbanyak dengan 1.422 unit, disusul Kutai Kartanegara (Kukar) dengan 457 unit, Kutai Timur (Kutim) dengan 290 unit, dan Penajam Paser Utara (PPU) dengan 127 unit.

“Sejak lama, Kutai Kartanegara telah menjadi sentra perkebunan lada. Pada 2023, Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur mencatat luas areal perkebunan lada mencapai 3,21 ribu hektare dengan produksi mencapai 2,49 ribu ton. Pada 2019, lada putih Malonan dari Kutai Kartanegara,” jelas Yusniar.

Lada asli Kaltim ini dinamakan Malonan 1 yang memiliki keunggulan yakni kandungan minyak atsiri, oleoserin, dan piperin yang lebih tinggi  dibandingkan varietas lain serta toleran terhadap penyakit busuk pangkal batang serta mampu bereproduksi sepanjang tahun.

Selain Kukar, Berau juga memiliki luas areal perkebunan lada yang signifikan, yaitu 2,60 ribu hektar dengan produksi mencapai 1,33 ribu ton. Disusul oleh PPU dengan luas areal mencapai 1,38 ribu hektar dan produksi 1,02 ribu ton.

Namun, tantangan besar masih membayangi. Minat masyarakat untuk menjadi petani lada menurun drastis, dengan banyak yang beralih ke komoditas lain seperti kelapa sawit karena dianggap lebih menguntungkan. Harga jual lada yang tidak stabil serta rentannya tanaman terhadap penyakit busuk pangkal batang menjadi beberapa alasan utama membuat petani enggan menanam lada.

Dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk mengembalikan kejayaan lada Kaltim di pasar domestik dan internasional. “Penyediaan bibit lada berkualitas, penerapan teknologi sistem tanam, hingga peningkatan mutu pasca panen menjadi kunci untuk meningkatkan produksi lada, sehingga dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi kesejahteraan para petani,” terangnya.

Itu pula yang dirasakan Rusly, petani lada asal Semoi, PPU. Sejak 2019 coba diversifikasi produk menjadi lada bubuk, dia melihat potensi yang begitu besar. Apalagi, pasarnya juga begitu seksi untuk diekspor. Sebab lada Kaltim terkenal akan kualitasnya.

“Kendalanya memang di luasan lahan, sekarang luas perkebunan lada berkurang. Komoditasnya berganti, utamanya kelapa sawit. Karena memang dianggap lebih menguntungkan,” bebernya.

Sejak lima tahun terakhir dia tetap setia memproduksi lada. Permintaannya semakin banyak. Apalagi lokasinya yang tak banyak berjarak dari Ibu Kota Nusantara (IKN), membuat dia kebanjiran pesanan. Sering diminta pihak otorita IKN untuk dijadikan buah tangan.

“Jadi ya agak khawatir juga kalau petani lada semakin berkurang karena beralih tanamannya. Harapannya ya semoga bisa lestari,” tutupnya. (rdh)

RADEN RORO MIRA

@rdnrrmr

Editor : Muhammad Ridhuan
#IKN #lada #bps #kementerian pertanian #ppu #kaltim #badan pusat statistik