KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Industri hulu migas kembali menjadi sorotan karena perannya yang krusial dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Pada 2025, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan sebanyak 15 proyek hulu migas dapat beroperasi. Saat ini, empat proyek sudah berproduksi, sementara 11 proyek lainnya terus dikejar selesai tepat waktu.
Empat proyek yang sudah on stream antara lain Letang Tengah Rawa Expansion oleh Medco E&P Grissik Ltd, Terubuk oleh Medco E&P Natuna, Balam GS Upgrade oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR), serta BUIC-C14 yang dikerjakan ExxonMobil Cepu Ltd.
“Yang jelas, empat dari 15 proyek sudah on stream. Nah, tinggal 11 ini masih kita kejar,” kata Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Hudi D Suryodipuro, Selasa (26/8).
Ia menjelaskan, fokus utama dari percepatan proyek migas tersebut adalah pemenuhan kebutuhan energi domestik. Hal itu sejalan dengan arahan pemerintah agar industri migas mampu menjaga swasembada energi sekaligus memperkuat ketahanan nasional.
“Fokus kita sesuai dengan arahan dari pemerintah, yaitu bagaimana kita menjaga atau mencapai swasembada atau ketahanan energi. Terutama untuk pemenuhan domestik,” ujarnya.
Untuk 2025, SKK Migas menargetkan 15 proyek senilai USD 832,7 juta atau setara dengan Rp13,6 triliun (kurs Rp16.366). Jika seluruhnya beroperasi, akan ada tambahan dan/atau pemeliharaan kapasitas produksi minyak sebesar 73.335 barel per hari (BOPD) dan gas 896 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). “Yang kita kejar saat ini yang pertama pemenuhan target APBN untuk 2025,” tambahnya.
Salah satu langkah nyata yang sudah dilakukan SKK Migas adalah mengalihkan gas sebesar 27 billion british thermal unit per day (BBTUD) dari West Natuna Gas Supply Group ke PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk memperkuat pasokan domestik. Selain itu, SKK Migas juga mendorong optimalisasi aset migas yang sudah ada serta percepatan penyelesaian proyek-proyek baru.
“Fokus-fokusnya sudah jelas diarahkan kepada kita, bahwa kita harus mengoptimalkan existing asset, dan pada saat yang sama memastikan percepatan proyek agar bisa segera on stream,” jelasnya.
Dengan berbagai upaya itu, SKK Migas menegaskan kembali perannya sebagai garda depan pengelolaan migas hulu. “Kalau dari sisi kami, fokusnya tetap sesuai dengan arahan pemerintah, baik untuk target jangka pendek maupun mewujudkan ketahanan energi jangka panjang,” pungkas Hudi.
Strategi lain yang dijalankan adalah penerapan teknologi baru serta legalisasi sumur-sumur minyak tradisional sesuai dengan Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025. Regulasi tersebut memungkinkan sumur rakyat dikelola secara resmi sehingga bisa berkontribusi pada produksi nasional dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan lingkungan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo